16
Mar
12

Model Pemimpin Bangsa yang Bermartabat

“Ignatius Josep Kasimo adalah seorang nama besar bagi Indonesia. Dalam negara dengan tingkat kemajemukan seperti ini, seseorang bisa jadi besar kalau mampu menempatkan dirinya di dalam suatu titik pertemuan antar keberagaman, di dalam suatu jembatan dari segala keragaman Indonesia. Bagi yang tidak mampu hanya bisa jadi pemimpin yang jago kandang”.

Itulah sepenggal ungkapan pengamat politik nasional Yudi Latif, saat membawakan materi seminar bertema “Memperkuat Karakter Bangsa”, di auditorium Benedictus, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, jalan Dinoyo 42, Senin (7/2) malam. Seminar yang diselenggarakan gabungan organisasi dan lembaga Katolik di Surabaya, diantaranya FMKI, ISKA, Pemuda Katolik, PMKRI, Unika Widya Mandala, Unika Darma Cendika, serta Komisi Kerawam Keuskupan Surabaya, merupakan bentuk ungkapan syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh Katolik pribumi, yaitu I.J. Kasimo, oleh pemerintah Indonesia.

Syukuran diawali dengan misa syukur bersama, yang dipimpin Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, yang berkonselebrasi dengan romo I.Y. Sumarno dan romo Luluk Widyawan. Selain misa ungkapan syukur juga diisi dengan pemotongan tumpeng oleh Uskup Surabaya, yang diberikan kepada Rektor Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya selaku penyelenggara acara.

Pada orasinya di depan seratus lebih peserta seminar yang hadir, Yudie Latif yang juga Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia mengatakan, bahwa segala kisruh politik dan kerusakan sistem demokrasi di Indonesia disebabkan lemahnya karakter bangsa yang dimiliki para pemimpin nasional.

“Segala kerusakan politik kita yang sudah hancur-hancuran, terefleksi dari perilaku anggota Dewan kita yang bukan lagi memperjuangkan kesejahteraan rakyat tetapi memperjuangkan diri sendiri. Perilaku lembaga yudisial atau lembaga penegak hukum juga malah menjadi pelindung kejahatan. Lembaga eksekutif juga tidak melakukan eksekusi konstruktif atas program pembangunan, hanya melakukan pencitraan tanpa kenyataan,” papar pengamat politik Yudi Latif.

Berbagai kasus pelanggaran HAM, kekerasan, serta korupsi, merupakan bukti lemahnya kemampuan pemimpin bangsa dalam melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Yudi Latif menekankan, perlu adanya perombakan total terhadap sistem politik dan demokrasi di Indonesia, untuk menghasilkan sistem kepemimpinan dan pemerintahan yang berpihak pada rakyat.

”Sistem politik ini harus di demokratisasikan ulang. Dengan demikian memungkinkan orang-orang berkualitas yang dipilih. Jaman dahulu para pemimpin menset-up sistem perwakilan untuk mencegah dikte pemodal dalam politik, dan memungkinkan semangat kekeluargaan yang mewakili seluruh keragaman. Dengan demikian kelompok-kelompok marginal terwakili,” ujar Yudi Latif yang mencontohkan I.J. Kasimo telah melakukan politik yang bermartabat meskipun berada di lingkaran kekuasaan.

Sementara itu peneliti senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), J. Kristiadi mengatakan, kesulitan Indonesia membangun karakter bangsa ini karena negara yang seharusnya memfasilitasi serta memberikan instrumen-instrumen maupun nilai-nilai pemersatu justru dalam prakteknya telah menyalahgunakan kekuasaan bukan untuk kesejahteraan. Tetapi ternyata praktek-praktek selama berpuluh-puluh tahun sampai sekarang ini Pancasila lebih banyak disalahgunakan oleh rakyat banyak.

“Pancasila tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena tidak disertai dengan proses pembangunan karakter yang cukup mendalam, sementara perubahan-perubahan politik sekarang ini justru diancam oleh negara sendiri,” terang J. Kristiadi kepada Benedizone.

Menurut Retno Dewi selaku panitia penyelenggara seminar, digelarnya seminar dan syukuran I.J. Kasimo Pahlawan Nasional, diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran ber sama akan pentingnya memperkuat karakter bangsa demi kesejahteraan bersama.

“Masyarakat luas bisa mengetahui bahwa Indoneisa harus diperkuat lagi karakternya, karakter sudah ada tapi harus diperkuat lagi. Ini harus menjadi kepedulian bersama, sehingga bersamaan dengan syukuran I.J. Kasimo ini kita berharap semangat dan keteladanan I.J. Kasimo dapat dijadikan model pemimpin bangsa yang berkarakter kebangsaan,” ujar Retno. (*)

Oleh : Petrus Riski


0 Responses to “Model Pemimpin Bangsa yang Bermartabat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: