16
Mar
12

Mewujudkan Hidup Sejahtera dalam Rohani dan Aksi

Keuskupan Surabaya tahun 2012 ini menyambut masa Prapaskah dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang mengangkat tema Mewujudkan Hidup Sejahtera. Mewujudkan hidup sejahtera dalam keseharian orang Katolik ternyata tidak cukup hanya dari terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, namun lebih kepada kedekatan dengan Tuhan yang menjadi sumber kesejahteraan.
Menurut romo Antonius Luluk Widyawan,Pr, Koordinator Komisi bidang Kerasulan Umum, pada jaman seperti sekarang ini dimana masalah-masalah sosial dan ekonomi semakin banyak, persoalan kesejahteraan manusia menjadi tantangan untuk ditangani secara bersama-sama oleh Gereja. Namun masalah kesejahteraan tidak hanya mengenai kesejahteraan materi saja, tetapi juga kesejahteraan rohani. “Hidup sejahtera atau hidup dalam kelimpahan itu ternyata hidup dekat dengan Tuhan, tidak sekedar sejahtera secara material. Orang akan mengalami sejahtera bila ia mengalami damai yang tidak semata-mata terkait materi, namun karena ia dekat dengan Tuhan,” terang romo Luluk Widyawan kepada Benedizione.
Meski demikian, dekat dengan Tuhan, lanjut romo Luluk, tidak berarti hanya mengutamakan yang ritual, tapi juga dengan ungkapan kasih terhadap sesama. Dalam Ekaristi dicontohkan, bahwa Yesus yang hadir dalam rupa roti yang dipecah-pecah dan dibagikan, menggambarkan cinta Yesus pada manusia dengan mau memberikan diri, menderita dan disalib untuk menebus dosa manusia.
“Mestinya umat kita yang dalam hidup sehari-hari mengalami kehadiran Tuhan, juga mengalami dirinya yang siap untuk berkorban dan siap untuk dibagi-bagi,” kata romo Luluk yang saat ini bertugas sebagai Pastor Rekan di Paroki St. Maria Annuntiata, Sidoarjo.
Dari pandangan Gereja, masih banyak umat Katolik yang belum sejahtera, meski tidak banyak yang termasuk sangat miskin. Kondisi yang seperti itu menurut romo Luluk memungkinkan umat Katolik untuk mau terpanggil sebagai pribadi yang mau dibagi, juga untuk orang lain di luar Katolik.
Sementara itu di kalangan umat Katolik, kelompok rohani seperti devosi dan komunitas rohani paling menonjol dibandingkan kelompok sosial yang lebih sedikit. Namun demikian bukan berarti kelompok sosial dalam gereja harus ditambah, tapi lebih pada keterlibatan semua kelompok terhadap sesama.
“Harapannya kelompok-kelompok yang dekat dengan Tuhan dalam liturgi dan devosi itu sadar bahwa hidup kita tidak hanya kultus dan liturgi saja, tapi liturgi yang terlibat dalam aksi-aksi kepedulian pada sesama,” ujar Ketua Komis Hubungan Antaragama dan Keyakinan (HAK) Keuskupan Surabaya ini.
Berkenaan dengan bahan atau materi APP 2012, romo Luluk mengatakan, pihak penyusun materi telah menyiapkan bahan katekese pertobatan selama masa Prapaskah, untuk membawa umat pada pertobatan sejati dengan mengupayakan kesejahteraan bagi sesama, sebagai wujud aksi dari pertobatan pribadi itu sendiri.
Selain itu dalam rangka pengajaran iman gereja, katekese masa Prapaskah dalam bentuk pendalaman APP masih dirasa sangat perlu, sebagai pengajaran gereja kepada umatnya terkait iman. Meskipun umat seringkali kurang berminat dengan pendalaman yang berlangsung selama ini.
“Nah yang menjadi permasalahan, kenapa umat yang datang pendalaman APP selalu sedikit? Hal itu karena soal metode dan juga cara penyampaian di lapangan yang membosankan atau terkesan berat,” imbuh romo Luluk yang mengakui perlu ada perbaikan metode dan cara terkait pengajaran atau penyampaian materi pendalaman.
Tema APP 2012 “Mewujudkan Hidup Sejahtera” diharapkan romo Luluk dapat diaplikasikan tidak hanya dalam bentuk aksi, namun juga dalam pemahaman pengajaran iman melalui pertemuan-pertemuan umat. Sebaliknya, pendalaman tidak akan bermakna kongkrit tanpa aksi, yang menjadi wujud pertobatan pada masa pra Paskah ini.
“Memang ada evaluasi, dan faktanya antara lain karena materi yang “berat”. Materi yang disampaikan dengan metode yang monoton, bentuk monolog, tekstual, dan membaca Kitab Suci. Sebetulnya para panitia pembuat bahan di kevikepan sudah diberi kesempatan mengeksplorasi metode yang lebih segar, misalnya dengan membuat film, lagu-lagu dan permainan. Maka pendalaman materi APP masih sangat diperlukan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan iman yang seringkali muncul, dan itu masih sangat dibutuhkan,” jabar romo Luluk Widyawan.
Meski jumlah umat yang hadir sedikit, romo Luluk menganggap pendalaman APP dengan empat kali pertemuannya masih diperlukan, dengan harapan umat mengalami pemahaman akan katekese pertobatan, serta mengaktualisasikan pertobatannya dalam bentuk kepedulian pada sesama untuk mewujudkan hidup sejahtera.“Iistilahnya penabur benih, benih harus tetap ditabur, katekese harus tetap dilakukan. Bahwa ada yang jatuh di tanah berbatu, ditanah kering, Tuhan yang menumbuhkan,” pungkasnya. (*)
Oleh : Petrus Riski


0 Responses to “Mewujudkan Hidup Sejahtera dalam Rohani dan Aksi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: