16
Mar
12

Melihat Allah Dalam Diri Sesama

Profil Yusuf G Koesoemani

Sederhana, rendah hati dan tidak banyak bicara. Itulah gambaran sekilas jika kita berjumpa dengan

Yusuf G Koesoemani.  Ditemui di gereja katedral di sela-sela kesibukannya, ayah dua anak ini bertutur mengenai tugas-tugas pelayanannya selama ini.

Berawal pada tahun 1996 ketika pertama kali pria kelahiran Madiun 26 Mei 1961 lalu ini diajak salah seorang teman bergabung di sie perlengkapan pada perayaan misa Natal untuk menggantikan Tanu Widjaya (mantan Kawil IV) yang sudah lanjut usia. Setelah itu pada tahun 1998 romo Jelantik yang waktu itu masih menjabat sebagai kepala paroki di HKY menetapkan ayah dari Lorentzia (20 thn) dan Natalia (9 thn) ini untuk memegang sie inventaris dan pemeliharaan PHKY untuk pemeliharaan gereja sehari-hari yaitu mengecek dan mengawasi pekerjaan dari bagian perlengkapan dan kebersihan.

Terutama bila ada complain dari umat maka ia pun bergegas memeriksa ke bagian yang dimaksud. Misalnya complain mengenai toilet yang kurang bersih, jadi begitu ada waktu biasanya sepulang bekerja ia pun langsung memeriksa dan menindak lanjuti. Karena merasa telah menjadi pelayan umat maka ia pun berkewajiban melayani mereka sebaik mungkin agar umat yang beribadat di gereja merasa nyaman. “Namun sekarang tugas saya sebagai pengurus mempunyai masa kerja yaitu selama 3 tahun” kata Yusuf menambahkan.

Suami dari Makrina Nur Kristi Yati (47 thn) ini menuturkan tugas pokoknya sebagai Sie Inventaris dan Pemeliharaan PHKY (jabatannya selesai pada Agustus 2011 ini) yang antara lain menginventarisir segala sesuatu yang menjadi harta kekayaan gereja dan memelihara serta memperbaiki segala sesuatu yang berhubungan dengan milik gereja demi kepentingan umat. Ia mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah dikerjakannya itu kepada ketua BGKP. Ia pun juga berwewenang mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan inventaris dan pemeliharaan harta mlik gereja.

Selama ini pria yang hobi olahraga ini mengaku juga memiliki program kerja, namun sayangnya program kerja mengenai pemeliharaan inventaris dan pengadaan barang secara berkala yang telah ia ajukan kurang mendapat respon yang positif dari atas. Maka pembelian barang dilakukan hanya apabila barang itu memang perlu diganti (misalnya lampu). Menurutnya setiap barang harus ada stok agar mudah saat dibutuhkan mendadak.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai guru Fisika di SMA Petra ini juga melontarkan keprihatinannya mengenai umat paroki HKY yang masih kurang kepeduliannya. Ia menyadari kalau mayoritas umat di paroki ini adalah umat “turis” atau pendatang jadi mereka tidak mempunyai rasa untuk memiliki. Mereka beranggapan bahwa ada petugas untuk membersihkan dan memelihara jadi mereka tidak perlu ikut menjaganya.

Pengalaman yang dirasa berkesan baginya adalah pada waktu perayaan perayaan misa besar. Tidak jarang timbul benturan dengan sesama pekerja, biasanya itu terjadi ketika waktu sudah mepet sedangkan pekerjaan masih banyak yang belum terselesaikan. Hal itu sering menimbulkan ketegangan tersendiri. Dan juga bila hari Natal biasanya tugas baru selesai semua sekitar pukul 4 dini hari, bahkan sering ia tidak sempat pulang lagi karena untuk mempersiapkan misa Natal paginya.

Dukungan dari keluarga sangat besar ia dapatkan. Dengan tugas dan tanggung jawab yang sedemikian berat mustahil ia dapat melaksanakannya dengan baik jika mereka tidak sepenuh hati mendukungnya .

Pria yang mempunyai moto “melihat Allah dalam diri sesama” ini ingin mengadakan regenerasi karena ia merasa sudah terlalu lama memegang jabatan di seksi tersebut. Ia pun sudah berusaha beberapa kali mengkader namun setelah mereka tahu tugas serta tanggung jawabnya biasanya mereka langsung mundur. Kebanyakan mereka hanya bersedia membantu pada waktu perayaan perayaan besar saja namun jika tugas itupun menyita waktu hingga larut malam mereka pun juga tidak bersedia dengan alasan keluarga yang kurang mendukung.

Di akhir wawancara, pria lulusan Fisika Universitas Widya Mandala ini berpesan jika kita mau melayani di gereja janganlah mengharapkan sesuatu yang enak karena yang didapat pasti kebalikannya. Juga jangan melayani karena ingin dilihat atau dikenal orang tetapi layanilah dengan hati nurani. Melayani juga mestinya semata-mata hanya karena Tuhan. Pesan terakhirnya ditujukan untuk umat, “saya harap umat ikut merasa memiliki alat dan perlengkapan gereja agar selalu terjaga, bersih , indah dan nyaman”. (*)

Oleh : Theresia Margaretha


0 Responses to “Melihat Allah Dalam Diri Sesama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: