16
Mar
12

Makna Paskah

Perayaan Paskah umumnya dirayakan di gereja dengan Ekaristi perjamuan kudus disertai penyalaan lilin besar lambang Yesus bangkit terang dunia dan mengadakan aksi bakti sosial dengan menghimpun dana Aksi Puasa Pembangunan, sedangkan bagi anak-anak mencari telur paskah yang bernada gembira.
Tapi apakah perayaan Paskah tanpa ada usaha penggalian makna dapat mengokohkan iman umat akan pengorbanan Yesus? Tidakkah tanpa sadar lambat laun melenyapkan makna Paskah sesungguhnya?
Dalam sejarah kekristenan masih adanya keterkaitan lahirnya hari Paskah antara tradisi agama Yahudi dengan Kristen. Paskah Kristen berbeda dengan Paskah Yahudi, sekalipun terkandung makna yang sama, yaitu Allah membebaskan umatnya dari segala bentuk penin dasan. Bagi bangsa Yahudi memaknai Paskah merupakan kasih Allah yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan beratus tahun dari bangsa Mesir, dengan mengorbankan anak domba sulung tambun, yang darahnya dioleskan pada pintu rumah, dagingnya dimakan dengan roti yang tak beragi. Peristiwa pembebasan bangsanya ini selalu dirayakan setiap tahun untuk memperingatinya sebagai hari Raya Paskah.
Peringatan kasih Allah dalam pembebasan yang disebut Paskah orang Yahudi itu, dirayakan oleh Yesus juga, momentum ini digunakan waktu yang tepat untuk mengorbankan diriNya sebagai Anak Domba Allah Penebus dosa dunia mati di kayu salib. Sesuai dengan rencana Allah dalam rangka menebus dunia agar manusia memperoleh jalan keselamatan.
Bersamaan waktu perayaan Paskah Yahudi, Yesus mengorbankan diriNya sebagai Domba Allah penebus dunia. Dari kejadian ini dapat tergambar dua peristiwa dahulu masa Musa dan belakangan masa Yesus, yang sama kejadiannya, mengorbankan domba untuk memperoleh keselamatan, namun berdeda maknanya. Allah menunjuk Musa untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir; Musa membebaskan hanya satu bangsa dari seluruh umat manusia yang ada. Sedangkan Yesus Sang Sabda Anak Allah mengorbankan diriNya mati di kayu salib, Darah dan Tubuh-Nya (dagingNya) yang tercurah sebagai penebusan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari perbudakan nafsu jahat manusia dan Iblis, agar manusia memperoleh keselamatan abadi. Dari sini terlihat perbedaan makna Paskah Yahudi dengan Paskah Kristen.
Bagi umat Kristiani, Paskah berpusat pada kesengsaraan, kematian dan kebangkitan Kristus, yang merupakan puncak dari karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus itu merupakan fakta sejarah, yang dialami dan disaksikan oleh para muridNya. Kematian dan kebangkitan Kristus itu sangat penting, sedemikian pentingnya Paulus bahkan mengatakan: tanpa Kebangkitan Kristus, iman Kristen runtuh tidak ada apa-apanya. Karenanya umat Kristen hendaknya memahami dan menghayati mendalam makna Paskah ini, agar umat tidak sampai jauh dari kehendak Kristus dan mudah jatuh dalam pengaruh iblis dan kejahatan di kehidupan ini. Bila tidak demikian berarti kita masih tetap tinggal dalam kematian dan belum merasakan kebangkitan.
Hal ini dapat kita lihat dari keadaan murid-murid Yesus sebelum melihat nyata kebangkitan Kristus. Mereka hidup dalam keputusasaan, kehampaan. Iman, sikap dan kehidupan mereka dihantui dan dikuasai kematian, keputusasaan dan ketakutan. Namun ketika mengetahui dan melihat kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh sudah bangkit, hidup, sikap dan keberanian mereka berubah. Dalam dirinya terjadi perubahan hidup yang cukup radikal. Hal ini terlukis dalam Kisah Rasul, di hadapan mahkamah agama yang mengadilinya, mereka dengan tegas berani bersaksi: Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kisah Rasul 4: 12).
Dalam kisah itu tampak suatu keberanian bersaksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dulu mereka takut bersaksi sekarang mereka secara terbuka berani bersaksi sekalipun menghadapi resiko besar.
Mengapa ada perubahan besar dalam diri murid-murid Yesus setelah melihat nyata kebangkitanNya? Karena dengan kebangkitan Kristus murid-murid-Nya diubah dari kematian bangkit menjadi hidup baru bagaikan diciptakan manusia baru dalam Kristus. Dengan kata lain manusia lama dengan segala noda dosa dan kesalahan sudah mati dikubur, muncul manusia baru yang memenuhi syarat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Hanya tinggal proses kesempurnaannya dalam perjalanan hidup ini.
Umat Krtisten yang telah dipilih Yesus sebagai murid-Nya dan telah dibangkitkan dari kematian menjadi manusia baru, janganlah menoleh ke belakang, membayangkan kenikmatan daging dan dunianya dahulu, hidup dalam kejahatan, hidup dalam rekayasa, kemaksiatan, penindasan, mempertuhankan materi untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan kenikmatan yang sementara, meninggalkan kebenaran dan cinta kasih.
Bisa terjadi godaan semacam itu, seperti yang dilakukan oleh umat Israel yang keluar dari Mesir, dalam perjalanan panjang yang penuh perjuangan, selalu mengeluh membayangkan enaknya hidup penuh makan sekalipun jadi budak di Mesir, daripada sengsara dalam perjuangan menuju tanah Kanaan. Akhirnya mereka semuanya takkan dapat memasuki tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan.
Bagaimana sikap dan tindakan orang yang sudah dibebaskan dan dibangkitkan Kristus, tetapi masih hidup dalam masyarakat yang kenyataannya sarat dengan pandangan hidup yang menganggap kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup ini, materialisme, individualistik dan cenderung acuh terhadap orang lain.
Murid Yesus yang terpilih harus berani menyangkal kejahatan dan berani menolak segala bentuk tawaran yang menyesatkan. Dan kehidupan dirinya yang penuh rahmat itu supaya dapat pula dirasakan oleh orang lain; sebagaimana yang diistilahkan Yesus harus menjadi garam dan terang di tengah-tengah lingkungannya, mempengaruhi hal-hal yang positif; antara lain di tengah lingkungan yang tidak adil, kehadirannya harus membawa dan menegakkan panji-panji keadilan. Di tengah-tengah ketidakbenaran, kehadirannya harus menyuarakan suara kebenaran. Di tengah-tengah kehidupan yang bobrok dan maksiat, kehadirannya harus membawa kedamaian dan perbaikan. Di tengah-tengah kehidupan yang tidak jujur (korupsi), kehadirannya harus membawa kejujuran yang tulus. Di tengah-tengah masyarakat yang munafik, kehadirannya harus membawa ketulusan. Pendek kata, sesuatu yang berdampak positip harus keluar dan dilakukan dari kehidupan anak-anak Tuhan. Dengan demikian umat Kristen hidupnya bisa memberi berkat bagi orang lain, karena mereka telah memperoleh berkat jasmani maupun rohani dari Tuhan.
Semuanya itu bisa terlaksana kalau ada kasih yang dilakukan terhadap orang lain. Dengan landasan kasih yang dipraktekkan orang percaya akan membawa kehi dupan baru bagi orang-orang di sekitarnya.
Untuk mewujudkan hal ini, umat Kristiani harus senantiasa mohon pertolongan Tuhan Allah, dengan jalan setiap hari, harus membina hubungan yang harmonis dengan Roh Kudus melalui kehidupan doa dan mentaati Firman Allah. Hanya dengan demikian, kehidupan yang sesuai dengan kehendak Kristus akan dapat tercipta dengan benar, yaitu kehidupan yang berdampak positip bagi orang lain. Dengan demikian orang percaya dalam perjalanan hidupnya akhirnya dapat memasuki Tanah Kanaan Baru yaitu Kerajaan Surga yang telah disediakan Tuhan sejak dunia ini diciptakan.
J.P. Ismanto
Wilayah IV PHKY


0 Responses to “Makna Paskah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: