16
Mar
12

Hidup Sejahtera Adalah Hidup yang Penuh Syukur

Umat Katolik telah memasuki masa Prapaskah. Masa Prapaskah menjadi saat yang tepat untuk memasuki retret agung Gereja. Kita diajak untuk memperbarui diri dengan semangat tobat yang ditandai dengan puasa dan pantang. Selain puasa dan pantang sebagai silih, kita diajak memperdalam iman kita dengan Pendalaman Iman Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang dilaksanakan seminggu sekali selama masa Prapaskah. Dari tahun ke tahun APP memiliki fokus dalam mewujudkan bentuk pertobatannya. Tema APP Nasional 2012 adalah “Mewujudkan hidup sejahtera”. Sedangkan Tema APP 2012 Keuskupan Surabaya adalah “Mewujudkan hidup sejahtera yang Ekaristis”.
Berikut penjelasannya.
Hidup sejahtera adalah hidup dalam kelimpahan. Hal ini sejalan dengan motto Uskup: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan’ (Yoh 10:10).
Hidup dalam kelimpahan tak lain adalah hidup dalam iman kepada Tuhan. Tuhan memiliki dan mengendalikan segalanya. Harta benda merupakan kehormatan, bukan sekedar hak milik sebagai yang utama. Harta benda merupakan berkat Tuhan yang patut kesanggupannya, seturut kodrat, seturut pemberian Tuhan serta konsekuensi iman dan ketaatan seseorang mengikuti prinsip-prinsip Kitab Suci. Harta benda merupakan hasil upaya penuh iman mengembangkan talenta. Prioritasnya bukan mengumpulkan kekayaan dan meningkatkan kekayaan, tetapi bijaksana dalam mengatur kekayaan.
Hidup dalam kelimpahan bukan berarti kelimpahan harta benda duniawi, tetapi menempatkan dan mengarahkan harta benda duniawi itu menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Tindakan memuliakan Tuhan tak bisa dilepaskan dengan mengangkat harkat martabat manusia. Dengan demikian, mewujudkan hidup sejahtera berarti menjadikan materi sebagai sarana untuk mengabdikan diri kepada Tuhan melalui karya amal kasih dan pemberdayaan kepada sesama, Tindakan memberi derma, memberi pinjaman modal, melakukan pendampingan serta menjalin kerjasama dalam persekutuan dengan orang-orang yang berkekurangan adalah salah satu contoh mewujudkan hidup sejahtera.
Dalam upaya mewujudkan hidup sejahtera, seseorang tidak hanya memikirkan diri sendiri. Seseorang selalu merasa tidak nyaman dengan penderitaan orang yang berkekurangan. Seseorang mudah gelisah dengan ketidakadilan yang terjadi. Pendek kata, seseorang merasa belum sejahtera dan mudah tergerak oleh belas kasih, karena ia menyadari bahwa dirinya berada di tengah sesama yang belum sejahtera. Manusia hidup bukan untuk dirinya sendiri. Keberadaan manusia ada karena dan untuk manusia lain. Tuhan menjadi pusat dan tujuan akhir hidup manusia. Hidup manusia menjadi berarti dan bermakna hanya dan dalam hidup dengan manusia lain. Oleh karena itu, panggilan hidup manusia diarahkan supaya orang lain mempunyai hidup dan kehidupan. Itulah yang diteladankan Allah Bapa, yang rela memberikan hidup kepada manusia, melalui pengorbanan Yesus Kristus, Putera-Nya.
Ekaristi
Ekaristi mengenangkan kembali pengorbanan Yesus yang luhur dan mulia. Pengorbanan itu tidak semata- mata demi kematian, namun berujung pada kebangkitan yang mendatangkan keselamatan. Umat beriman dipanggil untuk ikut mengambil bagian dalam Misteri Paskah. Karena kuasa kasih dan kebangkitanNya, Yesus memberikan kesempatan kepada umat untuk ikut mengambil bagian dalam peristiwa yang mendatangkan keselamatan bagi dunia ini.
Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup kristiani. Hidup Kristiani mengalir dari ekaristi sebagai sumbernya dan tertuju serta terwujud secara penuh pada ekaristi sebagai puncaknya, ke arah mana seluruh aktivitas umat beriman mesti mengarahkan. Inilah dorongan yang diberikan oleh Ekaristi, di mana Ekaristi menjadi titik awal kita masuk ke dalam dunia kehidupan sehari-hari, sekaligus membawa kita kembali kepada Ekaristi setelah perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Ekaristi, Yesus hadir dan membagikan rahmatNya, menjadi sumber hidup rohani. Umat yang menghayati Ekaristi dan menerima dengan iman, niscaya menanggapinya dengan pertobatan dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari. Ekaristi mengenangkan Yesus yang memberikan amanat dalam Perjamuan Maiam terakhir, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk 22:19).
Ia memberi amanat untuk melaksanakan suatu perayaan liturgis sekaligus untuk melakukan karya cinta kasih bagi sesama. Inilah yang diteladankanNya dengan cara simbolis membasuh kaki para murid. Ada keterkait an utuh antara, cultus dan caritas dari amanat Yesus. Ritus atau cultus yang dipahami dan dihayati dengan baik, menjadi sumber yang mengan tar umat beriman mengamalkan kasih atau caritas, kepada sesama.
Inilah mewujudkan hidup sejahtera yang ekaristis. Mewujudkan hidup sejahtera yang bersumber dari teladan Yesus yang mengorbankan diri. Pengorbanan diri Yesus hendaknya menggerakkan untuk bertobat dan menghasilkan buah pertobatan dalam rupa karya nyata. Karya nyata kasih kepada sesama, sebagaimana diteladan kanNya dengan cara simbolis membasuh kaki para murid, merupakan inspirasi untuk melakukan amal kasih dan pemberdayaan kepada sesama. Dengan demikian, mewujudkan hidup sejahtera yang ekaristis berarti mewujudkan hidup sejahtera dengan rela berkorban, saling berbagi dan rela dipecah-pecah,
Hidup sejahtera yang Ekaristis
St. Irenaeus mengatakan relasi antara Ekaristi dengan hidup kita, yaitu cara berpikir kita disesuaikan dengan Ekaristi dan Ekaristi pada gilirannya meneguhkan cara berpikir kita (KGK. 1327). Hidup yang ekaristis tidak terbatas pada cara berpikir, melainkan meliputi seluruh aspek hidup kita: pikiran, perkataan dan perbuatan dalam hidup sehari-hari sesuai dengan konteks zaman. Bagaimana mewujudkan hidup yang ekaristis yang bersumber dan berpuncak pada ekaristi, agar bermakna secara nyata? Untuk menjawab pertanyaan ini kita akan bertolak dari unsur penting dari Sakramen Ekaristi.
a. Hadir secara nyata : Hidup kristiani dilihat bukan sebagai hidup yang menolak dunia, melainkan hidup yang masuk dalam dunia.
b. Ekaristi dan Komunitas : Tidak pada tempatnya untuk memahami Ekaristi sebagai ajang menempa kesalehan pribadi atau tempat bagi umat penonton yang pasif, tanpa kepedulian untuk mengupayakan kehidupan bersama yang semakin berorientasi pada Injil Yesus Kristus.
c. Penuh syukur : Ekaristi tidak lain adalah puji syukur Gereja kepada Allah Bapa dalam Kristus dan oleh Roh Kudus.
d. Berbagi Hidup : Ekaristi adalah perjamuan Tuhan dan perjamuan adalah cara untuk berbagi hidup.
e. Mengorbankan Diri : Ekaristi adalah kenangan yang menghadirkan korban salib Kristus, satu kali untuk selamanya.
f. Cara Hidup yang Ekaristis : Orang Kristiani tidak dapat hidup dalam rahmat kerahiman Allah ini (berupa Ekaristi) jika sekaligus menyatakan permusuhannya dengan sesama.

disunting seperlunya dari Buku Pendalaman Iman APP 2012 Kevikepan di Surabaya


0 Responses to “Hidup Sejahtera Adalah Hidup yang Penuh Syukur”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: