15
Mar
12

Membangun Kejujuran

Masihkah kejujuran sekarang ini? Pertanyaan itu muncul ketika seorang murid Sekolah Dasar Negeri 2 Gadel Surabaya diberitakan diminta oleh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya. Ibu dari murid yang diberi inisial Aam itu melapor kepada dinas pendidikan. Tetapi akibatnya setelah dimuat di media, ibu-ibu sekampungnya malah mengusir Ibu Aam untuk pergi dari rumah dan kampungnya sendiri.
Kasus tersebut berkembang menjadi masalah nasional, malah ada yang mengatakan bahwa kasus menyontek merupakan praktek yang sudah lama dilakukan oleh dunia pendidikan. Kalau menyontek pribadi mungkin sudah sejak jaman dulu, tetapi adalah menyontek massal. Sengaja seorang murid diminta untuk memberikan jawaban kepada semua temannya satu kelas. Tujuannya antara lain biar satu kelas lulus seratus persen. Karena itu ujian nasional. Ada yang mengatakan ketika naskah ujian atau soal-soal ujian dikawal oleh aparat keamanan, tetapi ada satu dua sekolah yang sengaja dengan diam-diam diberi soal- soal itu agar prestasi sekolahnya terangkat. Memang hasilnya manakjubkan, seluruh siswa di sekolah itu lulus semua dan nilainya sungguh sangat baik, di luar dugaan.
Tetapi apa artinya itu semua? Inikah dunia pendidikan kita sekarang ini? Lembaga pendidikan yang seharusnya menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran supaya bangsa kita ke depan menjadi bangsa yang jujur, bangsa yang tidak munafik, tetapi malah kebalikannya. Anak- anak dididik menjadi pembohong, menjadi orang-orang yang munafik.
Memang tidak mengherankan karena keteladanan dari tokoh masyarakat sudah tidak ada lagi, lihat saja ketika kampanye-kampanye semua janji-janji tidak pernah ada yang diwujudkan alias janji bohong-bohongan. Seorang calon presiden, atau gubernur, atau bupati, ketika mencalonkan dekat-dekat dengan pengusaha agar bisa mendapatkan sponsor, tentu saja nanti kalau dia terpilih timbal baliknya adalah proyek-proyek diberikan kepada pengusaha bersangkutan. Tetapi dalam hal ini pun banyak pengusaha yang kecewa. Apa yang diperbincangkan katanya mau membangun negara, mau mengembangkan kota, menertibkan administrasi, dan sebagainya itu tidak pernah terjadi. Bahkan setelah mendapatkan yang diharapkan sang pengusaha pun dibuangnya, janji tinggal janji, si pengusaha gigit jari. Itulah kenyataannya.
Mengembalikan nilai kejujuran
Orang yang jujur, yang tulus, dan murni hatinya akan melihat Allah (Matius 5 : 8) Memang dalam teks tersebut tidak ditulis secara langsung orang yang jujur dan tulus, namun penulis menganggap jujur nilainya hampir mirip dengan tulus dan murni. Seharusnya orang itu harus berlaku jujur terhadap diri sendiri.
Saya ingat kata orangtua saya ketika masih kecil, menyontek artinya menipu diri, berbohong terhadap diri sendiri. Nilai yang dimiliki adalah bukan hasil murni pengetahuan yang diserapnya. Kalau kita jujur terhadap diri sendiri, kita juga jujur terhadap Allah. Jujur terhadap diri berarti membuka rahasia kedalaman diri terhadap Allah yang selalu membuka mata terhadap perbuatan manusia. Orang seperti itulah yang diberkati oleh Allah.
Orang yang berlaku jujur adalah mahkota kemuliaan Allah, berarti sudah menyimpan deposito di dalam kerajaan surga. Dengan berlaku jujur hidup kita tertuju kepada Allah, sehingga Allah menguasai hidup kita. Dikatakan dalam pengalaman rohani orang yang berlaku jujur memiliki hati nurani yang murni. Di dalam Alkitab diberikan contoh bahwa Paulus adalah orang yang berlaku jujur di hadapan Allah. Ia mempunyai hati yang murni, hati nurani yang masih tajam (Bdk Kis 23:1). Untuk membangun keutamaan dalam hidup memang diperlukan hati nurani yang harus selalu diasah. Karena pada jaman ini serangan terhadap perbuatan-perbuatan baik, norma-norma moral semakin gencar. Apalagi dibarengi himpitan ekonomi yang semakin menekan, keutamaan seperti kejujuran, ugahari, kedisipli nan, kesetiaan, kalah dengan paham hodonisme, dan uang. Inilah realita jaman ini, bahwa kehidupan di alam semesta ini tidak semuanya tertuju kepada Allah, bahkan yang di luar Allah itu yang sering membuat hati kita tidak murni, hati nurani kita menjadi tumpul.
Padahal hati nurani yang tajam adalah syarat untuk melihat Allah, dan Allah sendiri adalah sebagai terang (Bdk. 1 Yoh 1 :5). Karena itu melihat Allah artinya melihat terang.
Seumpama Allah itu adalah terang ibaratnya seperti matahari, hati kita ibaratnya cermin. Maka supaya kita bisa memancarkan terang, maka kita manusia ini harus mengarahkan hidup kita kepada Allah. Ketika manusia tidak mengarahkan kehidupannya kepada Allah, mata yang terjadi adalah kegelapan hidup manusia. Ketika manusia mengarahkan hidupnya pada hedonisme, cinta uang, berfikir materialistis, ibaratnya ia hidup dalam kegelapan.
Untuk itu mari berusaha jangan sampai kita hidup dalam kegelapan, bisa-bisa kita jatuh terjungkal. Namun mari kita hidup dalam terang, sebagai anak terang, karenan kita akan melihat Allah.
Mengutamakan kejujuran dalam kehidupan kita, berarti kita berusaha hidup dalam terang, kita berusaha hidup bersama Allah. (*)
Oleh : Rm. Eko Budi Susilo, Pr.


0 Responses to “Membangun Kejujuran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: