15
Mar
12

Dipilih Supaya Nama dan Kuasa Allah Dimuliakan

Profil Romo Vikjen Keuskupan Surabaya

Cita cita saya dari dulu menjadi pastor ‘biasa’ di paroki pedesaan di mana disamping memimpin dan mengelola institusi gereja, memimpin perayaan sakramen/liturgi namun juga pergi ke stasi-stasi mengajar dan melakukan sarasehan iman.

Dalam kenyataannya hal terakhir itu kurang bisa saya wujudkan. Tetapi ketika berkarya di pedalaman Kalimantan bisa teraktualisasi. Saya sangat menikmati minimnya fasilitas katekese di kampung-kampung sederhana mengajarkan tentang iman kepada Yesus. Kebanyakan orang pedalaman tahunya hanya sebagai orang Katolik tetapi tidak mengenal Tuhan Yesus.
Terlahir dari keluarga yang sederhana di Ngawi pada 12 April 1968, pada awal cita-citanya menjadi Romo adalah karena ingin menjadi pastor desa. Berawal dari keinginan ini setelah menamatkan pendidikan SD dan SMP di Ngawi, kemudian melanjutkan ke SMA St. Louis Madiun.
Selepas tamat SMA masuk Seminari Menengah St Vincentius Garum Blitar pada 1986-1988. Tahun Orientasi Rohaninya bertempat di Celaket-Malang tahun 1988-1989.
Menurutnya tiga tugas utama seorang imam dalam reksa pastoral di Paroki adalah melaksanakan tritugas Kristus yaitu menjadi nabi (mengajar), imam (menguduskan) dan raja (memimpin).
“Saya merasa pelayanan saya sebagai pastor di Paroki lebih terfokus pada fungsi raja dan imam, kurang dalam kenabian,” ujar romo berkacamata ini.
Sejak ditahbiskan menjadi imam pada 27 Agustus 1996 romo bernama lengkap Agustinus Tri Budi Utomo ini memulai pelayanan pertamanya di paroki St. Maria Anuntiata Sidoarjo. Kesan pertamanya setelah ditahbiskan menjadi imam adalah rasa heroik untuk melayani umat di desa. Pada saat itu dia mendapatkan dua SK yaitu sebagai pastor paroki St. Maria Anuntiata dan sebagai pastor mahasiswa di Unair dan ITS. Tugas ini dia jalani sampai tahun 2001. Setelah, itu romo Didik -demikian panggilan akrabnya- pindah ke Kalimantan tepatnya di Keuskupan Ketapang.
Di sela tugas utamanya menggembalakan umat, romo Didik juga suka melukis. Menurutnya, seni adalah tindakan spiritual. Maksudnya melihat sisi yang tak terlihat dari realitas sehari-hari. Aktifitas seni sangat mengkondisikan batin untuk mengasah kemampuan reflektif. Keindahan karya seni adalah wujud keagungan Allah dalam ciptaan. Maka kalau kita sungguh-sungguh menggeluti seni sebenarnya kita sangat dekat dengan keagungan Tuhan.
Setelah beberapa tahun melayani umat di berbagai paroki, dua tahun lalu, ketika romo Edi Laksito berangkat studi ke Roma, romo Dwi Joko dan Bapa Uskup pernah menawari untuk “seandainya” menjadi romo Vikjen. Romo Didik mengaku tidak tahu hal itu serius atau tidak. “Saya sungguh takut, tidak berani, tidak pantas dan merasa tidak memenuhi kompetensi. Tugas struktural sebagai Vikjen sungguh bukan harapan saya. Terlalu tinggi dan terlalu berat tanggung jawab moral bagi saya,” ujar romo Didik mengulang jawabannya waktu itu. Alasan lain adalah karena karakternya yang tidak terlalu formal dan lebih suka bekerja di lapangan. Rupanya ibu dari romo Didik juga sempat tidak menyetujui putranya menjadi Vikjend karena tahu betul kemampuan putranya sendiri.
Tawaran kedua datang lagi dan romo Didik menyanggupinya. “Saya mengira akan menjadi ketua KKP (Kantor Koordinasi Pastoral) menggantikan romo Kuncoro Yekti (romo Cuncun) yang studi ke Roma,” kata romo Didik mengenang peristiwa itu.
“Namun saya sungguh terkejut dan langsung lemas, ketika romo Dwi Joko dan Bapa Uskup mengatakan bahwa saya ditunjuk menjadi romo Vikjen. Saya langsung bertanya kepada monsinyur, apa dasarnya menunjuk saya? Beliau menjelaskan bahwa tugas romo Dwi Joko ke depan sangat berat jikalau harus merangkap sebagai romo Vikjud (Vikaris Judicial) dan romo Vikjen sekaligus. Maka harus ada romo Vikjen baru,” lanjut romo Didik.
Lagipula, masih menurut romo Didik menirukan penjelasan Uskup, dengan berdirinya Seminari Tinggi Providentia Dei berarti romo Dwi Joko akan menjadi pengampu utama kuliah Hukum Gereja bagi para frater yang tentu saja membutuhkan perhatian khusus.
Dengan beberapa penjelasan itu, atas keputusan rapat Kuria romo Didik diminta untuk menjadi romo Vikjen. Saat romo Didik masih merasa keberatan, Bapa Uskup menambahkan lagi satu alasan yang meneguhkan dirinya yaitu kaul ketaatan pada Uskup.
“Saya sontak lemas dan tak berdaya. Kalau memang Bapa Uskup percaya dan Kuria telah memutuskan, maka saya taat,” ujar romo Didik waktu itu.
Setelah rapat itu, romo Didik masih membayangkan ketakutan, ketidakmampuan dan ketidakpantasan. Romo Didik mengaku gelisah pada malam setelah peristiwa itu dan membawa kekuatiran itu dalam doa. Dalam doanya ia mohon supaya Tuhan menggagalkan keputusan ini. Namun ia seperti mendengar firman Tuhan berkata padanya, “Apakah kamu hendak mengandalkan kemampuanmu sendiri? Kamu diminta menjadi romo Vikjen bukan karena kamu hebat, mampu dan pantas. Bukan! Justru karena kamu tidak mampu, tidak pantas dan bukan apa-apa. Banyak romo yang lebih mampu dan pantas dibandingkan kamu. Namun kamu dipilih supaya nama dan kuasa Allah yang dimuliakan!”
“Alasan yang paling mendasar adalah karena Bapa Uskup percaya pada saya, maka saya harus menerimanya dan harus taat pada beliau. Selain itu Kuria juga sudah memutuskan dan ditambah dukungan doa dari seluruh umat, maka saya siap mengemban tugas baru ini,” tegas romo yang dekat dengan orang muda ini.
Romo Didik yakin banyak umat tahu bahwa dirinya tidak mampu, maka pasti banyak umat yang akan mendoakannya. Menurutnya, ketaatan adalah salah satu semangat Injili yang harus dihidupi oleh seorang imam atau kaum religius. Ketaatan adalah sebuah jawaban “ya” terhadap kehendak Tuhan melampaui kepentingan, minat dan kemampuan diri sendiri. Ketaatan letaknya jauh di atas perasaan suka atau tidak suka. Ketaatan adalah komitmen dan kehendak untuk menerima tugas atau perintah untuk di jadikan misi spiritual pribadi.
Keyakinan bahwa segenap umat akan berdoa bagi para imamnya agar mampu mengemban tugas penggembalaan membuat romo yang ramah ini yakin dalam menjalani tugas barunya, demi semakin besarnya kemuliaan Allah.
Setelah diangkat menjadi romo Vikjend pada 1 Mei 2011 lalu, tugas utamanya adalah membuat laporan kepada Uskup perihal segala urusan yang menyangkut kuasa administratif yang dilakukannya seperti, pelayanan pastoral parokial dan kategorial di wilayahnya, pelayanan administrasi paroki dan kegiatan penting lainnya yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan. Saat ini romo Didik ditunjuk sebagai ketua panitia peresmian Seminari Tinggi Providentia Dei (STPD) Keuskupan Surabaya.
Ke depan kata romo Didik “Saya siap diutus oleh Bapa Uskup untuk kegiatan apapun termasuk yang terutama adalah mengkoordinir komisi-komisi Keuskupan.Untuk tugas utama ini, yang akan saya lakukan pertama kali adalah menemani, mendengarkan dan bertanya. Tugas mengkoordinir komisi-komisi ini benar-benar saya mulai dari nol”.
Romo sederhana yang cinta Ekaristi
Dalam pelayanannya romo Didik selalu mengutamakan kesederhanaan dalam kehidupannya sehari-hari.
Saat bertugas di pedalaman Kalimantan, ia harus bekerja dengan fasilitas yang sangat terbatas. Wilayah Paroki yang sangat luas dan susah dijangkau ditambah tingkat pendidikan umat yang sangat rendah tidak membuatnya menyerah.
Menurutnya saat yang paling berharga dalam hidupnya adalah pada saat mempersembahkan Ekaristi. Baginya, Ekaristi adalah kesempatan untuk “menarik diri” dari kehidupan duniawi yang penuh dosa. “Namun sungguh beruntung kita punya Ekaristi. Waktu yang hanya satu jam setiap hari mampu menyelamatkan dan menguduskan saya. Apa jadinya hidup saya jika tidak ada Ekaristi?” ujarnya.
Baginya, menjadi imam adalah menjadi pendamping umat dalam ziarah kehidupan. Sementara seorang imam sendiri juga sedang berziarah ia sekaligus melayani peziarah yang lain untuk memaknai dan mengarahkan kehidupan menuju Tuhan. Suatu “pekerjaan” yang sangat indah dan menantang.
Logika pasar dan sensasi
Ketika disinggung mengenai persoalan orang muda, romo yang pernah menjadi pendamping mahasiswa di era reformasi 1997-1999 ini menangkap kecenderungan menurunnya kecerdasan spiritualitas dan kemampuan refleksitas orang muda. Menurutnya itu dipengaruhi oleh logika pasar kontemporer yang juga menyeret agama-agama.
Saat ini semua manusia sedang terhisap oleh dorongan sensasi (kesan indrawi). Sensasi seakan-akan telah menjadi “Tuhan baru” bagi masyarakat modern saat ini. Orang muda dan umat beragama pada umunya sedang terjebak dalam “nafsu sensasi” Yaitu nafsu yang hanya mementingkan “rasa dan kemasannya”. Bagi orang modern, beragama itu soal “rasa dan kemasan”. Kalau “rasa dan kemasan” tidak berkenan di hati, mereka dengan mudah pindah ke tempat lain yang menawarkan “rasa dan kemasan” yang lebih nikmat.
Lama kelamaan seluruh energi terserap pada hasrat untuk mencari sensasi. Sensani itu terakumulasi menjadi obsesi dan bermuara pada adiksi (kecanduan). Fenomena “sensasi-obsesi-adiksi” itu tidak hanya terjadi pada soal hidup beragama, melainkan telah menjadi hidup batin masyarakat modern.
Baginya, inilah tantangan gereja Katolik saat ini. “Kita semua terpanggil untuk menjernihkan kembali spiritualitas modern kepada arah yang benar melalui pembinaan iman yang mendalam melalui katekese, mendengarkan firman Tuhan, melakukan firman Tuhan, dan tinggal bersama Yesus,” ujarnya.
Dalam hal ini, integritas untuk terus mengutamakan hidup sesuai dengan iman sambil terbuka pada dunia dan lingkungan sosial memegang peranan penting. Dan semuanya bersumber pada pendidikan keluarga.
“Saya yakin Ardas (arah dasar) Keuskupan Surabaya jikalau dihayati dengan baik akan membawa umat pada “hidup berkelimpahan” (motto Uskup) yang murni, bukan sekedar kelimpahan sensasional,” tegasnya.
Baginya, menjadi vikjen bukan sekedar menjadi wakil Uskup tetapi juga menjadi teman, partner bahkan semacam “istri” bagi Uskup untuk mengawal implementasi Ardas secara “fanatik”. Dirinya juga siap untuk mendampingi Uskup dan tetap satu dalam hati, pikiran, dan gerak demi menghadirkan Gereja sebagai sakramen yang menyelamatkan dunia. (*)
Oleh : Krispinus Alfen


0 Responses to “Dipilih Supaya Nama dan Kuasa Allah Dimuliakan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: