15
Mar
12

Banyak peminat, sepi penonton

Lomba renungan Kitab Suci

Kegiatan lomba di seputar gereja biasanya adalah lomba paduan suara, lomba lektor, lomba tatib kolektan, dan lain-lain. Lomba tersebut dapat dipastikan banyak peserta yang turut berpatisipasi dan juga penonton yang ikut meramaikan lomba.
Tapi sangat berbeda dengan lomba Renungan Kitab Suci yang diadakan oleh Seksi Kerasulan Kitab Suci PHKY, Minggu 25 September 2011 lalu di Wisma Pastoran. Karena syarat peserta lomba hanya berumur 17 tahun ke atas, maka lomba ini diikuti oleh peserta yang masih pelajar, mahasiswa, maupun bapak dan ibu.
Peserta lomba wajib memilih tema renungan yaitu “persekutuan murid-murid Kristus” (1 Kor 12:12-16), “beriman dewasa” (Mat 13:31-35), “guyub” (Kis 4:32-37), “penuh pelayanan” (Yoh 13:1-20), dan “misioner” (Mat 28:16-20).
“Lomba ini tidak lazim tapi menarik. Lihat saja peserta banyak tapi penontonnya sedikit,” ujar Aloysius Suryo selaku ketua panitia acara. Dari daftar peserta tercatat 29 orang dari 6 Wilayah di PHKY ditambah peserta dari SMAK St Louis, SMAK Santa Maria dan Akademi Perawat RSK Vincentius A Paulo (Akper RKZ). Sementara dari bangku penonton, nyaris tidak sampai 5 orang yang datang murni untuk menonton.
Juri dalam lomba ini adalah Errol Jonathan (Direktur Operasional Radio Suara Surabaya), Florentina Yuni Apsari (Dosen Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya), dan romo Yohanes “Yose” Setiawan.
Pemenang pada lomba ini adalah Maria Jia Fernandez (juara 1) dari Akper RKZ dengan total nilai 375 poin, Matildis Asry Seran (juara 2) dari Akper RKZ dengan total nilai 370 poin, dan Maria Tanda Agung (juara 3) dari SMUK St. Maria dengan total nilai 362 poin.
Dilihat dari umur dan latar belakangnya, para juara yang didominasi orang muda memperlihatkan bahwa orang muda punya potensi luar biasa untuk berkarya mengenalkan kitab suci lewat renungan-renungan.
Di penghujung acara, Errol Jonathan memberikan masukan dan kritikan bagi para peserta antara lain tentang intonasi suara yang tidak beraturan (public speaking), tidak adanya kontak mata dengan umat, kepercayaan diri yang kurang (posisi tubuh yang tidak tegap).
Acara ini perlu digalakan terus untuk menggali potensi-potensi umat dalam hal memberikan renungan dan juga mengenalkan kitab suci. (*)
Oleh : Ferdinand “Oki” Vidiandika


0 Responses to “Banyak peminat, sepi penonton”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: