14
Mar
12

Wayang Kulit dan Sahur Bersama

Paroki Redemptor Mundi PERINGATI HUT RI

“Kami hanya berpartisipasi dalam melestarikan budaya bangsa yang semakin banyak dilupakan.” Ungkapan ini keluar dari pernyataan romo Eko Budi Susilo, Pastor PHKY Surabaya usai memainkan lakon Petruk, salah satu anggota Punakawan. Romo Eko Budi Susilo bersama 3 romo lainnya yaitu romo Sumarno sebagai Semar, romo Budi Nuroto memerankan Gareng, serta romo Gusti Purnomo yang menjadi Bagong, menyemarakkan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, menandai peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-66, serta lustrum ke-3 Paroki Redemptor Mundi Surabaya pada Rabu malam(17/8) hingga Kamis dini hari (18/8).
Mengetengahkan lakon Kresna Duta dengan Dalang Ki Surono Gondo Taruno dari Surabaya, Wayang Kulit yang ditampilkan di lapangan parkir gereja Redemptor Mundi, bertujuan untuk melestarikan budaya bangsa serta wujud rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih dari jerih payah para pejuang dan pendiri negara.
Antonius Yohanes Suwanto selaku seksi acara menjelaskan, diadakannya pagelaran wayang kulit ini selain untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, juga sebagai sarana untuk membangun kebersamaan antar umat. “Kami berharap dengan acara ini umat semakin dipersatukan dalam semangat kasih persaudaraan, serta mampu membangun kebersamaan gereja sebagai bagian dari masyarakat,” ujar Antonius Yohanes Suwanto kepada Benedizione.
Meski masih tampak kaku, para romo yang bertugas di beberapa paroki di Surabaya ini cukup berhasil menghibur penonton dengan gaya yang lucu dan apa adanya. Romo Budi Nuroto mengaku hanya berlatih satu hari untuk tokoh Punakawan yang dimainkannya. “Meskipun saya orang Jawa, tapi masih perlu banyak belajar,” kata pastor yang bertugas di Paroki Sakramen Maha Kudus, Pagesangan.
Sementara romo Eko Budi Susilo yang sudah beberapa kali terlibat dalam olah peran di pewayangan maupun ketoprak, mengharapkan umat Katolik ikut tergerak melestarikan kembali kesenian dan budaya bangsa. “Dengan mencintai wayang atau kesenian yang lain, kita ikut melestarikan budaya bangsa. Para seniman ini hidup dari manggung, kalau bukan kita yang nanggap siapa lagi, bagaimana kesenian ini bisa lestari?,” ujar romo Eko Budi Susilo, yang 10 tahun lalu pernah bertugas di Paroki Redemptor Mundi.
Pagelaran wayang kulit ini dilanjutkan dengan acara makan sahur bersama, yang mengundang sekitar 600 orang dari warga masyarakat sekitar gereja. Umat paroki Redemptor Mundi pun menyambut baik kegiatan semacam ini yang dapat menyatukan umat paroki serta umat dari agama lain. “Acara kebersamaan antar umat dengan warga saat ini mulai digalakkan lagi, wayang kulit dan sahur bersama sangat bagus untuk memperkuat persaudaraan,” tutur Basuki, umat Redemptor Mundi yang menyaksikan pagelaran wayang kulit.
Yohanes Suwanto menambahkan, mencintai dan melestarikan budaya bangsa merupakan wujud kecintaan akan bangsa Indonesia yang sedang membangun, sedangkan kegiatan yang melibatkan umat lintas agama seperti sahur bersama merupakan sarana untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang rukun, aman dan nyaman. (*)
Oleh : Petrus Riski


0 Responses to “Wayang Kulit dan Sahur Bersama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: