14
Mar
12

Profil Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya

“Jangan takut akan resiko dalam mengembangkan talenta kita,” demikianlah pesan yang disampaikan oleh Moderator Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya (PTRS), yaitu Romo Antonius Dwi Djoko Pr pada rapat formatur Panitia HUT PTRS ke-10 yang diadakan pada13 September 2011 lalu di Surabaya.
Romo Dwi Djoko mengaitkan kata sambutannya tersebut dengan bacaan Injil tentang talenta (Matius 25:14-30), bahwa “dalam hidup ini kita hendaknya jangan takut mengambil resiko, karena dalam Injil, Tuhan Yesus justru mengecam orang yang tidak mau mengembangkan talentanya.”
Senada dengan sambutan Romo Dwi Djoko, Teguh Kinarto Ketua Panitia HUT ke-10 membagikan tips membangun bagi para anggota panitia yang hadir, yaitu supaya fokus hanya pada kelebihan tiap-tiap orang. Teguh yang juga pernah menjabat sebagai ketua PTRS untuk dua periode yaitu periode 2001-2004 dan 2005-2008 ini menjelaskan, bahwa talenta masing-masing orang jika disatukan akan menjadi energi positif yang mampu menghasilkan sesuatu yang besar.
PTRS sebagai satu-satunya di Indonesia ini didirikan untuk menjadi wadah pemersatu serta komunitas bagi para alumni retret Tulang Rusuk pimpinan Romo Jusuf Halim SVD, guna melestarikan dan mengaplikasikan nilai-nilai tambah yang telah diperoleh dalam retret.
Ide pembentukan PTRS oleh almarhum Uskup Surabaya Mgr. Johanes Hadiwikarta ini mulai ditindaklanjuti melalui rapat perdana pada 20 Maret 2001 yang dihadiri oleh Bapa Uskup, romo Antonius Gozal serta tim formatur yang terdiri atas FX. Teguh Kinarto, Tjok Supranoto, Leo Arifin, Redemptus Sugito, Jeffrey B. Poedjiono, pasutri Tanzil, pasutri Handoyo S. dan pasutri Gandhi. Dan PTRS akhirnya dikukuhkan sebagai organisasi pada 23 September 2001.
Sesuai dengan visi dan misi PTRS yaitu untuk pembinaan diri para pasutri sehingga menjadi pribadi yang beriman, sejahtera dan harmonis, penuh cinta kasih bagi Tuhan dan sesama, maka PTRS memberikan pelayanan di berbagai bidang, di antaranya bidang pelayanan bagi Gereja, pengembangan anggota paguyuban, maupun pengabdian sosial masyarakat.
Untuk pelayanan bagi Gereja berupa (1) Pembinaan Keluarga Kristiani. Melalui Week End Personality Plus dengan para trainer dari Jakarta, dengan mengupas 4 karakter dasar manusia, diharapkan para peserta dapat lebih memahami pribadi masing-masing maupun orang-orang di sekitar.
(2) Pembangunan Gua Maria.
Sebagai salah satu bentuk pengabdian bagi pengembangan kehidupan rohani, PTRS juga banyak membangun gua Maria sebagai sarana devosi umat di berbagai paroki dan stasi di Keuskupan Surabaya, khususnya di daerah pedesaan. Hingga kini telah dibangun 11 Gua Maria yang tersebar di wilayah Ngawi, Nganjuk, Blitar, Cepu, Tranggalek, Madiun dan Jombang.
(3) Paduan Suara. Yang rutin berlatih tiap Selasa dan Jumat, selain untuk melayani Misa PTRS, juga setiap dua bulan sekali melayani koor di Gereja HKY (minggu ke-2 bulan genap), maupun di Gereja St. Yakobus (minggu ke-3 bulan ganjil) dan untuk aneka acara pernikahan, pemberkatan rumah, dll.
Sedangkan untuk pengabdian sosial masyarakat kegiatannya antara lain (1) Jantung & BASIKA. Yaitu dengan membantu biaya operasi jantung bagi masyarakat yang kurang mampu dan tidak memiliki Jamkesmas dari pemerintah. Hingga saat ini sudah berhasil mengoperasi 53 pasien jantung. Dan bersama dengan BASIKA (Badan Sosial Ilmu Kesehatan Anak) RSUD Dr. Soetomo, PTRS membantu biaya pengobatan anak-anak penderita gizi buruk dan penyakit lainnya serta aktif memberikan penyuluhan kesehatan serta pembagian bingkisan makanan-minuman sehat untuk masyarakat di daerah terpencil.
(2) Bidang Sosial. Yaitu dengan mengadakan Garage Sale bagi masyarakt kurang mampu di sekitar Gereja, acara Sinterklas dengan mengundang anak-anak dari berbagai panti asuhan di Surabaya dan Sidoarjo, serta kunjungan dan pemberian bantuan ke stasi-stasi terpencil di antaranya lomba Tembang Macapat di Blitar guna merangsang minat umat membaca Kitab Suci.
Untuk pembinaan bagi para anggota, PTRS rutin menerbitkan Media Komunikasi “MedKom” tiap enam bulan sekali yang berisikan kegiatan PTRS dan komunitas lain yang terkait, guna menggalang komunikasi antar anggota maupun dengan masyarakat luas. Juga rutin mengadakan arisan setiap 3 bulan sekali, selain untuk menjaga keakraban antar anggota juga untuk menggalang dana bagi aneka pelayanannya.
Saat ini PTRS dipimpin oleh Pasutri Sutoto Yakobus dan Lusyana Setijani sebagai ketua dengan dibantu oleh Pasutri Agus Wardhana dan Dian Maria Pia dengan kantor sekretariat di: Kantor Marketing Ctraland, jl. Taman Perkantoran Kav. 1, Citraraya Utama – Surabaya.
Hingga September 2011, PTRS telah mempunyai 42 angkatan dengan anggota sebanyak 2.600 pasutri. (*)
Oleh : Joseph Haryanto


0 Responses to “Profil Paguyuban Tulang Rusuk Surabaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: