14
Mar
12

Media Jejaring Antarumat Agama

Forum Komunitas Masyarakat Pelangi (FKMP) Surabaya

Masalah sengketa tanah yang belum tuntas memicu bentroknya umat Paroki Algonz dengan warga sekitar. Salah satu faktanya, ketika beberapa pagar rumah di kawasan Satelit, yang notabene rumah umat Paroki Algonz, dilas oleh warga sekitar. Hal ini menyebabkan umat Paroki Algonz terhambat aktivitasnya. Peristiwa ini mengundang keprihatinan dari seksi HAK (Hubungan Antaragama dan Kepercayaan) dan Kerawam (kerasulan awam) Paroki Algonz. Dimotori oleh Ignasius Hermawan Holey (57), pria asal Maumere yang kini Ketua dari komunitas ini, mereka mencoba berdialog dengan beberapa tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat. Usaha ini direspon baik, alhasil terbentuklah FMKP.
Di temui di sela kesibukan aktivitasnya di gereja HKY, Holley yang sudah sejak muda sebagai aktivis dan pekerja sosial ini menyatakan, “Ini sejalan dengan visi dan misi gereja (paroki) Algonz, bahwa gereja berpusat pada Yesus Kristus yang berbasis pada Lingkungan dan mampu berdialog dengan masyarakat”.
Relasi yang baik dan berkesinambungan antar anggotanya membuat komunitas ini mampu bertahan hingga 10 tahun, sehingga ikatan persaudaraan yang tercipta di dalamnya mengantarkan pada lahirnya nilai-nilai kemanusiaan. Sikap saling menghargai, saling melengkapi serta nilai-nilai kemanusiaan lainnya mengarah pada terwujudnya perdamaian.
“Inilah visi dan misi paroki mulai terjawab dan tidak hanya sekedar menjadi slogan belaka”, lebih lanjut Holley menjelaskan. Bentuk konkritnya, ketika setiap hari raya Natal dan Paskah maupun hari raya kurban maupun Idul Fitri, masing-masing umat paroki maupun warga sekitar saling memberikan kontribusinya untuk saling membantu. Ada timbal balik satu dengan yang lain. Bahkan, beberapa orang yang dulu sempat terlibat dalam perselisihan pun mulai terlibat dalam komunitas ini. Di sinilah pentingnya merintis jejaring antar pribadi maupun kelompok yang berbeda baik agama, ras maupun status sosialnya.
Kegiatan rutin lainnya yang biasa dilakukan oleh komunitas ini adalah pertemuan rutin, kerja bakti, aksi sosial, termasuk membagikan ta’jil bersama saat bulan puasa. Dalam pertemuan rutin itu, aktivitas yang dilakukan adalah sharing dan refleksi. Selain itu, acara dialog kerukunan umat beragama oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang diadakan beberapa waktu lalu pun digagas oleh komunitas ini.
Filosofi nama FMKP sendiri berdasarkan latar be-lakang yang majemuk dari tiap-tiap pribadi yang terlibat di dalamnya. “Kami melihat pelangi sebagai corak yang bermacam-macam tetapi memancarkan keindahan,” papar pria yang merantau dari Maumere sejak muda ini.
Sedangkan, konsep forum dianggap lebih tepat karena lebih fleksibel dan tidak mengikat anggotanya. Sejauh ini ada 42 orang yang terlibat dari umat paroki Algonz dan umat beragama lain, terdiri dari anggota dan pengurus. Lebih lanjut Holley menyatakan bahwa harapan ke depan akan terbentuk jejaring di tiap-tiap paroki, meskipun hal tersebut tidaklah mudah.
Dalam prosesnya, pro dan kontra juga kerap dihadapi oleh komunitas ini. Tidak jarang ditemui hambatan-hambatan, difitnah, diremehkan dan sikap-sikap lain yang kurang menyenangkan. Tetapi Holley menegaskan bahwa hal itu bukanlah halangan untuk tetap berusaha.
”Memang harus kita akui, butuh perjuangan untuk mengembalikan martabat manusia dalam kesunyian, berani dan kritis. Tidak perlu juga penghargaan dan sebagainya. Karena Indonesia memang majemuk, sehingga jika tidak bisa dimanage dengan baik akan banyak gesekan yang memicu terjadinya kekerasan,” paparnya.
Kendala internal dari umat Katolik khususnya, ketika tidak banyak yang mau terlibat. Konsep berpikir menjadi salah satu faktor penyebabnya. Banyak umat masih beranggapan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dengan memupuk jejaring antar umat beragama karena pada kenyataannya masih banyak ketidakadilan dan kekerasan di beberapa daerah.
Lebih lanjut Holley yang selama 15 tahun ini bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan baja menjelaskan bahwa jika hal itu yang menjadi persoalannya, maka umat Katolik perlu melirik lagi mengenai apa yang ditawarkan oleh Konsili Vatikan II, dimana gereja sebagai sakramen keselamatan, sehingga perlu ada kontribusi yang dapat diberikan. “Mungkin ini adalah konsep mayoritas umat Katolik di kota besar , yakni bahwa kita akan masuk surga jika setiap saat bisa ke gereja, tanpa melakukan kebaikan apapun,” paparnya.
Menurut Holley, hal ini juga membutuhkan dukungan dari pastor paroki setempat dimana komitmen tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG) dapat diterapkan secara konsisten. Masalah kekerasan terutama antar umat beragama memang menjadi masalah klasik dan laten. Holley menyatakan bahwa kearifan sangat dibutuhkan untuk menafsirkan kitab suci dari masing-masing agama. Selain itu, refleksi dan pemerikasaan batin yg kuat memiliki andil untuk itu, sehingga iman masing-masing pribadi sungguh-sung guh dapat hidup dalam kebenaran. “Jika tidak ada itu, setiap orang dari agama manapun akan jatuh,” Holley menjelaskan.
Masih menurut Holley, lingkaran kekerasan akan terputus jika setiap orang memiliki hati, perhatian dan penghargaan terhadap orang lain. Terkait dengan hal tersebut, tokoh agama sangat berperan penting untuk menanamkan nilai-nilai itu.
Suka duka banyak dirasakan Holley selama terlibat dalam FKMP. Banyak kegembiraan yang dirasakannya, terutama ketika kerukunan antar umat beragama dapat terjalin dengan baik. Ketika itu segala sesuatunya dapat dikomunikasikan dengan baik. Namun, ia tetap prihatin ketika tidak banyak umat Katolik yang mau terlibat. Beberapa waktu lalu, seksi kerawam paroki Algonz pernah mengadakan pelatihan tentang analisa sosial, ASG dan tafsir kitab suci menurut teologi pembebasan yang dikemas sedemikian rupa agar mampu dipahami umat. Hal ini diharapkan agar umat Katolik dapat ditarik keluar dan terlibat dalam kehidupan masyarakat, sehingga tidak melulu berkutat dengan aktivitas di seputar altar.
Secara pribadi pria yang tetap bugar karena hobinya bersepeda dan mendaki gunung ini berpesan bahwa keberhasilan tertinggi dari seorang manusia adalah bagaimana caranya agar dapat mendampingi orang lain untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian karena ukurannya bukan soal materi, kekuasaan dan hal-hal duniawi lainnya.
Cita-cita tentang membangun perdamaian dan kemakmuran antarmasyarakat diupayakan dapat terwujud. Harapannya, jika taraf hidup seseorang sudah meningkat secara ekonomi, tidak akan melupakan kemiskinan rohani yang pernah dialami sebagai dasar pembentukan pribadi. Untuk itu, kesetiaan terhadap komitmen pribadi juga perlu dijaga.
Pada akhirnya Holley menyimpulkan 3 hal yang mendasar dalam kehidupan, yakni bahwa kebaikan lebih kuat dari kejahatan, cinta lebih kuat dari kebencian, pengampunan lebih ampuh dari balas dendam.
“Sebaiknya kita menjadi manusia yang ikhlas dan mau mengampuni meskipun disakiti. Ini merupakan sebuah proses. Setiap orang punya kelemahan, tetapi bagaimana bisa mengolah itu sebagai sebuah kekuatan,” pesannya menutup perjumpaan. (*)
Oleh : Agnes Lyta


0 Responses to “Media Jejaring Antarumat Agama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: