14
Mar
12

Masih Perlukah Makan Bersama?

Sejak terbentuk sebuah keluarga, maka keluarga itu berusaha supaya selalu ada kebersamaan, misalnya berdoa bersama, makan bersama, ke gereja bersama, bertamasya bersama dan rekreasi bersama. Rasanya hal-hal itu jarang, bahkan sulit dilaksanakan. Alasannya pun bermacam-macam.
Ayah dan ibu bekerja dan pulang petang hari, bahkan kadang-kadang pulang lebih malam karena lembur. Hari Sabtu mereka libur, namun sering diminta lembur, padahal mereka sangat mendambakan hari Sabtu dan Minggu sebagai hari keluarga. Tiap hari anak-anak pulang sekolah hanya disambut pembantu yang mengurus segala sesuatu untuk anak-anak itu.
Waktu untuk bersama menjadi sangat minim. Ketika orangtua pulang dari kerja, anak-anak sudah tidur. Pagi harinya, ada kesempatan sebentar untuk melepas anak-anak berangkat ke sekolah. Minggu adalah peluang terbaik, kalau seluruh keluarga dapat ke gereja bersama-sama. Kembali dari gereja, kebersamaan yang berikut adalah sarapan sekeluarga. Kenyataannya ialah, anak-anak justru lari ke dalam rumah, mencari pembantu mereka dan minta ganti pakaian. Usai ganti pakaian, si pembantu pula yang mengatur sehingga anak-anak makan bersama orangtua mereka. Tentu diharapkan seusai sarapan itu anak-anak akan tetap bersama orangtua bersantai ria sekeluarga sambil menonton TV, saling menceritakan pengalaman atau main di luar rumah, sambil berharap bisa makan bersama lagi di tengah hari.
Sering terjadi, anak-anak ada undangan ulang tahun temannya, ada acara bersama di sekolah sampai sore. Orangtua juga tidak selalu ada di rumah pada hari Minggu karena ada undangan pernikahan, pertemuan komunitas tertentu atau tugas gereja. Orangtua bisa mengisi hari Minggu dengan pergi bersama anak-anak untuk rekreasi bersama.
Kalau kegiatan itu semua sudah terjadi, maka masih ada moment kebersamaan sekeluarga, ialah makan malam bersama. Makan malam bersama adalah saat orang tua menjalin hubungan yang erat dengan anak-anak. Pembinaan anak-anak akan lebih berhasil dalam suasana akrab dan penuh pengertian.
Sembari menikmati hidangan, ayah dan ibu dapat berkatekese. Anak-anak dari hari ke hari makin mengenal Yesus lebih baik. Iman anak akan tumbuh seperti biji sesawi. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati dapat diceritakan kepada anak dengan menarik sehingga menumbuhkembangkan semangat melayani sesama, bekerjasama dengan teman tanpa pandang perbedaan agama, status, dsb. Anak-anak, perlahan tapi pasti, juga akan tahu tugas perutusannya. Berkatekese dalam keluarga melalui perilaku dan tutur kata berarti mendukung Keuskupan kita mencapai cita-cita Ardas.
Idealnya makan bersama dilakukan sesering mungkin. Tapi kalau kesempatan yang ada hanya hari Minggu, maka baik rasanya dijadikan kebiasaan yang disukai semua anggota keluarga. Banyak sekali yang dapat disampaikan kepada anak sebagai bekal perjalanan hidup anak-anak.
Kalau rutinitas makan bersama ini menjadi kebiasaan yang mengikat namun menarik tanpa kesan terpaksa dan membosankan ; melainkan justru merindukan, maka orangtua pun perlu waspada dan jeli mempertahankan acara makan bersama sekeluarga.
Perubahan suasana akan terjadi bila ada perkembangan studi anak-anak. Kesibukan dan acara mereka berubah. Mereka mulai ikut bimbel, atau kursus, dan itu pasti menimbulkan perubahan tata laksana harian sepanjang Minggu. Pada akhir pekan orangtua juga perlu meningkatkan katekese mereka dalam keluarga.
Keluarga Nazaret adalah teladan kita. Yesus sendiri yang mengajarkan kerukunan, membangun keluarga guyub. Yesus juga menghendaki dalam tiap keluarga iman anggotanya menjadi dewasa. Yesus pula menyontohnyatakan pelayanan kongkret. Yesus juga mengajarkan pancatugas gereja dan tritugas Kristus.
Orangtua tidak perlu memaksa anak mempelajari semuanya, melainkan dengan cara bijaksana penuh kebapaan menularkannya kepada anak. Orangtua tidak perlu takut, karena Yesus mengutus sekaligus memberi jaminan (Mat 28 : 20) (*)
Oleh : Aloysius Joseph Rahadi


0 Responses to “Masih Perlukah Makan Bersama?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: