14
Mar
12

Hak Hidup Manusia

Bom Lagi, lagi-lagi bom! Heran, prihatin, cemas, was-was, marah, bingung. Perasaan yang campur aduk tidak beraturan, ketika mendengar berita ada bom bunuh diri yang diledakkan di gereja GBIS (Gereja Bethel Injil Sepenuh) Kepunton Solo. Masih ada kekerasan model seperti itu, ketika masyarakat lintas agama sedang membangun kerukunan di antara mereka.
Masih ada orang yang mau bunuh diri dengan bom, ketika ratio manusia sedang berperan pada jaman serba digital seperti sekarang ini? Mengapa pelaku bom bunuh diri itu tiba-tiba menjadi buta hatinya, begitu teganya menghancurkan segalanya? Di sana ada manusia yang tidak berdosa, tidak tahu sama sekali apa yang dimaksudkannya. Celakanya yang tidak tahu apa-apa, malah mereka yang menanggung derita dan trauma.
Apa kita ini hidup di negara yang sudah merdeka? Di mana negara menjamin keamanan dan rasa aman yang menjadi hak warga semua? Apakah kita hidup di negara yang sudah merdeka, yang terus membangun, menarik pajak dari setiap warga untuk kesejahteraan warganya? Apakah kita hidup di negara yang sudah merdeka, yang memberikan dan melindungi hak semua warganya? Fakta, masyarakat warga hidup dalam ketidaknyamanan dan ancaman dalam jiwanya.
Seakan nurani kita sudah tumpul, dan menganggap tindakan biadab merupakan hal biasa. Seakan kita sudah tidak peka lagi bahwa ada peristiwa biadab baru saja terjadi. Kalau sudah demikian manusia tidak akan serius mengurus peristiwa itu. Apakah kita lupa bahwa setiap orang mempunyai hak untuk hidup, dan hak untuk hidup ini merupakan hak asasi? Pada hak untuk hidup inilah hak-hak lain menjadi bermakna, seperti hak untuk bicara, hak untuk beribadat dan sebagainya. Bom bunuh diri, menjadikan hilangnya nyawa (hilangnya hidup) diri sendiri dan orang lain. Tindakan bom bunuh diri tersebut menjadikan martabat manusia turun seperti binatang. Padahal manusia diciptakan Allah baik adanya, dan diciptakan menurut gambar Allah sendiri (Kej 1: 27). Tuhan menghendaki anggur yang baik, tetapi yang dihasilkan ialah buah anggur yang asam (Yesaya 5: 1-3). Allah telah melakukan apa saja untuk menunjukkan kasihNya kepada manusia, namun kasih itu tidak dibalas. Manusia hanya menghendaki seperti yang dipikirkannya sendiri. Akibatnya manusia sendiri yang menderita. Padahal manusia adalah ciptaan yang paling luhur di antara makhluk lain yang diciptakan Tuhan.
Kesadaran akan keluhuran penciptaan manusia seharusnya menjadikan manusia semakin “meng Allah”. Bertindak dan berlaku dalam kesadaran sebagai ciptaan Allah yang bermartabat. Ketika manusia melakukan hal yang biadab, menyalahgunakan kebebasannya untuk mencelakakan diri atau menghilangkan diri dan nyawa orang lain dengan bom itu, dia telah melanggar kewenangan Allah, dan melanggar hak asasi orang lain. Itu bukannya masuk sorga, tetapi malah masuk neraka. Allah yang kuasa atas segalanya, tidak perlu pembelaan dari manusia. Maunya membela Allah, membela agama, tetapi bila dengan cara mengebom dir sendiri, tentu tidak dikehendaki oleh Tuhan, tidak dikehendaki oleh agama, karena agama semua mengajarkan kebaikan. Jadinya bukan membela agama, tetapi berbuat biadab.
Mengingat satu-satunya batas kebebasan manusia adalah larangan berbuat biadab, maka hak untuk hidup tidak boleh dirampas oleh siapa pun termasuk oleh seorang teroris, atau sekelompok teroris.
St. Agustinus pernah mengatakan bahwa manusia tidak boleh berlaku biadab, karena sesama manusia adalah sama Ciptaan Allah. Sedangkan Immanuel Kant menyatakan, adalah kewajiban moral universal manusia untuk tidak berlaku biadab terhadap sesamanya. Hal larangan untuk berlaku biadab ini tentu saja juga menjadi salah satu ajaran setiap agama yang ada di dunia ini.
Menjadi tugas setiap orang untuk menghormati hak orang lain, apalagi hak asasi manusia lain, dan sudah semestinya setiap orang juga turut merasakan penderitaan atas pelanggaran hak asasi yang menimpa orang lain. Karena ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana kualitas moral seseorang. Maka entah motif apa saja yang menjadi alasan mereka, bom bunuh diri menunjukkan bahwa kualitas moral pelaku sangat rendah, pelaku tentu saja berfi kir sangat dangkal, dan jangka pendek. Seperti pertanyaan di atas, “kok masih ada di era digital seperti sekarang ini ada orang rela bunuh diri, dengan iming-iming masuk sorga?” Padahal tindakannya jelas merugikan banyak orang lain, barangkali bukan sorga yang di dapat, tetapi siksa kubur. Kalau mau membela Allah, pertanyaannya, apakah Allah masih perlu dibela? Kita memahami bahwa Allah itu maha kuasa, Allah itu Maha Tahu, dan Maha segalanya, seharusnya Dia yang membela kita.
Saya merenungkan bahwa kekerasan muncul di mana-mana di negara kita ini, dan sampai kepada bom bunuh diri, ini adalah karena kegagalan lembaga agama. Agama hanya mempunyai kekuatan moral, agama yang seharusnya menata dan menanamkan nilai-nila kebaikan telah gagal mendampingi masyarakat. Tindakan anggota masyarakat yang anarkis, seakan menjadi hal yang biasa. Peristiwa demi peristiwa dibiarkan, dan dianggap bukan merupakan pelanggaran serius hak asasi. Saya kira ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut, apalagi “dipelihara” yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan demi kepentingan politik kelompok tertentu.
Agama harus bertindak benar, bebas dari kepentingan politik untuk terus menerus memberi penyadaran kepada umatnya , agar mereka berlaku benar sesuai dengan ajaran agama. Demikian juga pemerintah harus menegakkan hukum, siapa saja yang bersalah, harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Minimal dua sisi ini (agama dan pemerintah), perlu bergerak dalam berkampanye menghormati hak hidup manusia. (*)
Oleh : Rm Eko Budi Susilo


0 Responses to “Hak Hidup Manusia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: