03
May
11

Santo Nino di Cebu

Perjalanan Romo Haryopranoto ke Filipina

Mungkin orang Katolik banyak yang belum mengenal siapakah Santo Nino yang terkenal dengan sebutan Yesus Kecil itu? Kita akan mengenal lebih jauh profilnya melalui wawancara langsung Benedizione dengan Romo Haryopranoto yang pada 14-16 Januari lalu melakukan perjalanan ke kota Cebu di Filipina. Waktu itu berlangsung perayaan Novena St. Nino suatu tradisi perayaan tahunan yang sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu.

“Sebelum saya pergi berlibur ke Filipina, romo Agus OAD datang ke Indonesia dan bercerita tentang senangnya tinggal di Filipina. Dia juga bercerita tentang upacara Novena St. Nino yang sangat dihormati oleh umat katolik di Filipina. Bahkan mereka mengadakan devosi khusus pada St. Nino yang sudah jadi tradisi ratusan tahun lamanya,” jelas romo Haryo di awal cerita.

Romo Haryo melanjutkan, perayaan devosi Novena St. Nino setiap tahunnya digelar di kota Cebu mulai 8 hingga 16 Januari dengan meriah. Pada hari terakhir rangkaian Novena itu, ribuan warga melakukan prosesi perarakan keliling kota dengan rute hingga 7-8 kilometer dengan membawa Patung St. Nino sambil mengeluk-elukannya. Perarakan berakhir di gereja Basilica St. Nino, gereja yang dikhususkan untuk menghormati St. Nino.

“Saya ikut perarakan itu dengan baju basah kuyub akibat hujan deras menjelang satu kilo menuju gereja Basilica St. Nino. Semua peserta perarakan juga basah kuyub, tapi mereka tidak bergeming sedikit pun,” jelas Romo Haryo menggambarkan prosesi perarakan yang khusyuk itu.

Misa penutupan prosesi dipersembahkan oleh Uskup setempat. Tampak banyak imam yang hadir, dan para religius lainnya. Beraneka ragam pakaian khas kongregasi menunjukkan banyaknya tarekat di Filipina. Paling banyak adalah imam dari terekat Agustinian.

Menurut cerita-cerita tradisi nenek moyang yang berkembang di Filipina, St. Nino adalah kanak-kanak Yesus yang memakai mahkota raja. St. Nino adalah seorang raja di bumi karena di tangan sebelah kiri patung St. Nino terdapat bola dunia.

“Yang saya ingat, lagu persembahannya berjudul “Bato Balini” dalam bahasa Visayas yang artinya batu magnet. Mereka bernyanyi dengan tangan diangkat di atas. Orang Filipina suaranya bagus-bagus,” ujar romo Haryo.

Masih menurut cerita cerita romo Haryo, petugas misa (lektor, pemazmur dan kolektan) semuanya wanita.  Mereka memakai tutup kepala, (tidak seperti biarawati) kain dan rok panjang yang kesemuanya berwarna putih.

Di akhir misa diadakan Religius Dance atau Simulog. Mereka menari sambil meneriakkan yel-yel “viva pit senyor, viva pit senyor, viva pit senyor” yang kira-kira artinya “dimuliakanlah kanak-kanak Yesus”.

Di biara OAD

Pengalaman tinggal di biara OAD juga membekas dalam kenangan romo Haryo. Bersama koleganya, romo Agus, OAD, romo Haryo menikmati tinggal di biara bersama imam dari berbagai negara.

“Rupanya romo Agus di Filipina dipanggil father Lori, sesuai nama baptisnya, Laurentius,” kata romo Haryo sambil tersenyum.

Di biara ini romo Haryo berkenalan dengan imam-imam dari Myanmar, Afrika, Malaysia dan Cina. Kelompok Agustinian memang tergolong sedikit dibanding kelompok religius lain di dunia. Tapi mereka terkenal sebagai pekerja-pekerja keras di dalam gereja. Imam Agustinian tidak mengepalai paroki tetapi mereka juga melayani misa. Dalam sehari, seorang imam Agustinian bisa melayani misa hingga sepuluh kali.

Berkunjung ke Manila

Sebelum kembali ke Indonesia romo Haryo menyempatkan diri ke ibukota Manila. Di sana romo Haryo berjumpa dengan kolega imam dari Keuskupan Surabaya, di antaranya romo Adrianus Akik Purwanto. Para kolega imam ini sedang menempuh studi di Universitas St. Thomas yang saat itu sedang merayakan pesta 400 tahun. Universitas Santo Thomas yang dibangun pada 1611 ini berada di kompleks yang sangat luas.

Romo Haryo juga mengunjungi biara Dominikan tempat imam Dominikan atau yang biasa disebut imam OP. Biara ini terbuka untuk umum sehingga umat banyak yang keluar masuk untuk berdoa di situ.

Perjalanan selanjutnya adalah mengunjungi Basilica Yesus Nazareno. Penduduk setempat menyebutnya gereja Fuyiako yaitu gereja di mana terdapat patung Yesus dengan korpus berwarna hitam (Black Nazareno). Penduduk Filipina punya tradisi berdoa di hadapan Yesus Nazareno yang terletak di belakang gereja dekat dengan tabernakel.

Banyak orang berdatangan untuk berdoa sambil memegang kaki Yesus itu. Untuk sampai di patung, mereka harus masuk lewat belakang dan ketika melewati altar mereka harus terus berlutut sambil berdoa Rosario atau Jalan Salib hingga sampai ke patung Black Nazareno. Mereka tampak khusuk menjalankan ritual itu. “Mereka yang lansia, dimaklumkan untuk tidak berlutut,” pungkas romo Haryo yang mengaku terkesan dengan umat Katolik Filipina dan mendapat banyak pengalaman iman selama perjalanan enam hari ke Filipina.

Sejarah St. Nino di Cebu

Pada 28 April 1565, Juan Camus seorang pelaut di sebuah armada pelayaran milik Legaspi, menemukan patung St. Nino di sebuah rumah sederhana di desa Cebu, Filipina. Diyakini patung itu dibawa dari Eropa. Benar-benar terkesan dengan penemuan itu dan menyadari betapa berharganya penemuan itu, Legaspi memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penyelidikan resmi terkait sejarah patung itu.

Dokumen hasil penyelidikan itu diumumkan pada 16 Mei 1565 dan dokumen itu hingga kini masih tersimpan di makam St. Nino di Cebu. Dokumen itu berisi kesaksian saksi mata yang mengatakan bahwa patung ditemukan dalam kotak kecil penyimpanan yang terbuat dari kayu cemara. Patung itu tetap terjaga dalam kondisi yang hampir sempurna; lengkap dengan pakaian dan mahkotanya. Dua jari tangan kanan patung tersebut dalam posisi terangkat seperti posisi sedang memberi berkat, sementara itu tangan kirinya memegang globe yang melambangkan dunia.

Lewat sebuah prosesi yang khidmat, patung itu dipindahkan ke Gereja Provinsialat di mana para imam Agustinian selama ini menetap. Beberapa waktu kemudian, dibangun Gereja baru tepat di lokasi ditemukannya patung tersebut. Tempat itu disebut Gereja St. Nino di mana para imam Agustinian merawat patung itu dan rakyat Filipina menghormatinya selama berabad-abad.

Dalam catatan resmi jurnal Antonio Pigafetta, seorang ilmuwan dan penjelajah yang merangkap asisten juru tulis ekspedisi keliling dunia Ferdinand Magellan dijelaskan asal muasal patung itu sebagai berikut : ketika hari di mana ratu Juana dari Spanyol dibaptis oleh romo Pedro Valderrama, Pigafetta sendiri yang menghadiahkan ratu Juana tersebut dengan patung itu.

Saat Perang Dunia II, sebuah bom dijatuhkan di gereja, tapi patung tetap ditemukan dalam keadaan tidak bercacat. Beberapa waktu kemudian, gereja St. Nino telah direnovasi di bagian interior dan dibentuk seperti Basilika Vatikan agar menjadi tempat suci yang lebih layak untuk St. Nino sebagai pelindung para misionaris pertama dan orang kudus yang menjadi pelindung bangsa Filipina. (*)

Oleh: Robertin Ratnaning


0 Responses to “Santo Nino di Cebu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: