03
May
11

Mentalitas Murid Perlu Dikembangkan

Evaluasi Pelaksanaan Ardas Tahun Pertama

Pelaksanaan Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019 (Ardas) telah berjalan satu tahun. Apa saja yang menjadi catatan dan evaluasi dalam perjalanan satu tahun ini?. Di Wisma Pastoran jalan Mojopahit 38, Benedizione menjumpai RD. Tri Kuncoro Yekti (romo Cuncun), Kepala Kantor Koordinasi Pastoral (KKP) Keuskupan Surabaya, untuk berbincang tentang hal itu.

Untuk mendapatkan gambaran umum pelaksanaan Ardas, Keuskupan Surabaya telah menyebarkan angket kepada pastor Paroki pada November 2010. Angket terdiri dari tiga pertanyaan, yaitu hal-hal apa yang sudah terjadi di Paroki berkaitan dengan pelaksanaan Ardas, penilaian pastor Paroki terhadap hal-hal yang sudah terjadi, dan gagasan pastor Paroki terhadap gerak Ardas pada umumnya. Pertanyaan angket ini diajukan untuk melihat sejauh mana persepsi pastor Paroki terhadap gerak Ardas di Parokinya. Hasilnya bisa menjadi gambaran pelaksanaan Ardas di Paroki. Untuk menyempurnakan hasil angket, anggota DPK (Dewan Pastoral Keuskupan) juga melakukan survei ke masing-masing paroki.

Sejauh ini, hasil angket itu sedang diolah untuk dapat dibaca sebagai sebuah informasi. Sementara ini, yang sudah dapat dibaca adalah tabulasi yang berisi check-list pelaksanaan prioritas program Ardas di masing-masing paroki. Hasilnya bervariasi. Meski tingkat kontribusi paroki yang tertinggi dapat mencapai 75%, prioritas program tertentu ada yang tidak memperoleh nilai kontribusi sama sekali atau memiliki nilai 0%. Prioritas program dengan kontribusi paroki tertinggi adalah bidang liturgi. Prioritas program yang tidak men dapatkan sumbangan kontribusi sama sekali dari paroki adalah prioritas program bidang pendidikan. Hal ini bisa berarti luar biasa sekaligus biasa saja.

“Tanpa melakukan apa-apa, tingkat kontribusi Paroki terhadap prioritas program bidang liturgi sudah cukup tinggi. Misalnya, pembinaan liturgi bagi para petugas liturgi seperti misdinar atau lektor, pasti sudah dilakukan setiap saat,” demikian romo Cuncun.

Beberapa hal menjadi temuan berharga dalam proses evaluasi ini. Pertama, pastor Paroki sebagai penanggung jawab tertinggi di paroki, masih mengalami kebingungan dalam memahami dan mengimplementasikan Ardas. Umumnya alasan para pastor Paroki adalah bahwa bahasa Ardas terlalu “tinggi” dan “berat”. Kedua, pastor Paroki tidak dapat menyampaikan secara detil dan kongkrit hal-hal apa yang membingungkan atau menjadi kesulitan dalam memahami dan melaksanakan Ardas. Di satu sisi, hal ini merupakan tanda yang sehat karena Ardas merupakan hal baru sehingga wajar bila terjadi kebingungan dalam pelaksanaannya. Akan tetapi, di sisi lain, pernyataan ini juga dapat berarti bahwa Panduan Umum Pelaksanaan Ardas belum dipelajari dengan baik. “Ada kecenderungan seperti mengandalkan pengalaman belajar yang tidak enak di minggu pertama tetapi kemudian tidak mau mencoba untuk mempelajarinya kembali,” tutur romo Cuncun. Masih menurut romo Cuncun, kesulitan untuk menjelaskan kebingungan yang dialami dapat terjadi karena adanya masalah komunikasi di masyarakat kita. “Seringkali sesuatu dijelaskan dengan pernyataan yang normatif, yang tidak menyebutkan inti persoalannya tetapi hanya menggambarkan permukaannya,” imbuhnya.

Strategi pelaksanaan Ardas tahun kedua

Di tahun kedua, Bapa Uskup dan Kuria melakukan visitasi (kunjungan) ke setiap paroki. “Setiap minggu ada satu-dua paroki yang dikunjungi. Tiap Paroki sudah mendapat jadwal visitasi dari Keuskupan Surabaya,” ujar romo Cuncun. Selain bertujuan memberi semangat dan motivasi kepada paroki, kunjungan ini juga bertujuan untuk melakukan pemantauan dan standarisasi sehingga pihak Keuskupan dapat membuat tindak lanjut atau daftar bantuan apa saja yang dapat diberikan bagi Paroki untuk dapat melaksanakan Ardas, misalnya alat, dana, atau melakukan upgrading aktivisnya.

Kunjungan ini memiliki dimensi profesional (paroki harus berbenah secara administratif) sekaligus dimensi kekeluargaan (pastor Paroki ditemani, disemangati, dan diperhatikan oleh Uskup). Kedua pendekatan ini diupayakan sebagai langkah yang strategis. Harapannya, ketika berhasil menggerakkan kemauan belajar dan menyerap hal baru dari pastor Paroki sebagai “pusat” paroki maka setiap lini yang berada di paroki pelan-pelan juga dapat dibenahi. “Tulangnya dibenahi dulu, kemudian baru ototnya bisa dilatih,” demikian romo Cuncun mengandaikan.

Keuskupan juga merekomendasikan paroki untuk membentuk format DPP berdasarkan bidang atau rumpunnya, yaitu bidang Formatio/pembinaan (keluarga, anak, remaja, OMK), bidang Sumber (liturgi, kitab suci, katekese), bidang Kerasulan Khusus (karya misioner, komunikasi sosial, pendidikan), dan Kerasulan Umum (Kerawam, PSE, HAK). Rekomendasi ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi dan memberikan kesadaran bahwa bidang-bidang yang sejenis seharusnya saling berdekatan, bekerja sama, dan bersinergi. “Apabila format ini tidak mungkin dibentuk di paro ki dalam tahun ini, diusahakan untuk dapat dibentuk tahun depan,” romo Cuncun menambahkan.

Ketika ditanya apakah evaluasi dengan angket akan dilakukan kembali, romo Cuncun menjawab, “Semuanya masih bergulir, evaluasi dengan angket belum tentu digunakan pada tahun ini. Metode dengan angket kemarin membutuhkan orang yang dapat mengolahnya menjadi informasi dan kami kekurangan tenaga untuk melakukannya”.

Masih menurut romo Cuncun, apabila tahun depan evaluasi dilakukan dengan menggunakan angket maka pihak yang akan mengolah datanya menjadi informasi juga harus ditentukan. “Angket ini belum ada kerangkanya atau tidak metodologis (ilmiah) sehingga belum dapat digunakan untuk membidik masalah tertentu. Apabila evaluasinya masih menggunakan angket maka angketnya harus lebih baik dalam metodologi evaluasinya. Akan tetapi, apapun metodenya, setiap akhir tahun harus diadakan evaluasi,” ujar Romo Cuncun menjelaskan.

Menutup perjumpaan dengan Benedizione, romo Cuncun merangkum evaluasi tahun pertama pelaksanaan Ardas, bahwa problem dasar yang terjadi pada pelaksanaan Ardas selama satu tahun kemarin adalah problem budaya yakni tentang bagaimana sikap seseorang dalam menanggapi sesuatu hal yang baru. Singkatnya, sikap orang terhadap perubahan. Setiap pribadi memiliki pilihan untuk mau belajar atau menutup diri terhadap hal baru tersebut. Kemauan untuk terus belajar, melihat, menyerap, dan mengevaluasi adalah keberanian untuk mau menjawab tantangan dari proses menjadi murid.

Oleh: M. Ch. Reza Kartika P. R.


0 Responses to “Mentalitas Murid Perlu Dikembangkan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: