03
May
11

Ketika Tuhan Hadir Dalam Mimpiku

Suatu malam aku bermimpi, aku sedang duduk di sebuah taman yang luas. Ditemani semilir angin yang sepoi-sepoi, aku mengagumi pemandangan elok di sekelilingku. Di kejauhan aku melihat gunung-gunung berselimut kabut yang menjulang tinggi serta hamparan hijaunya pepohonan ikut mewarnai keindahan panorama di sekitarnya.

Tidak berapa lama kemudian aku dapat merasakan kehadiran Tuhan berada dekat di sisiku. Dia pun duduk menemaniku sambil menikmati pemandangan yang indah di penghujung sore itu. Belum sempat kami berbincang-bincang tiba-tiba terbentang sebuah layar seperti layar bioskop di hadapan kami. Di layar itu ada sebuah film, aku melihat diriku di dalam film tersebut dan berperan sebagai tokoh utamanya, ternyata itu adalah sebuah film tentang perjalanan hidupku selama ini.

“Engkau ada bukan karena suatu kesalahan, karena hari-harimu ada tertulis dalam kitabKu. Aku juga telah menentukan waktu yang tepat untuk kelahiran dan di mana engkau akan hidup. Serta mengeluarkan engkau pada hari engkau dilahirkan,” Tuhan membuka percakapan dan di layar muncul film sewaktu aku dilahirkan.

Kemudian menyusul film mengenai masa kanak-kanak dan remajaku. Tetapi pada masa-masa itu tidak ada sesuatu yang istimewa. Aku bertumbuh, belajar, bermain serta bersosialisasi bersama teman-teman dan lingkunganku, semuanya berjalan seperti biasa.

Setelah itu film berganti ketika aku sedang duduk di bangku kuliah, di situ terlihat aku begitu bangga dan bersyukur ketika menerima beasiswa. Aku bertanya kepada Tuhan “Tuhan beasiswa yang aku terima itu karena memang sudah selayaknya aku terima atau karena aku telah mempersembahkan uang terakhirku di kolekte waktu itu?”

Ingatanku segera melayang ke peristiwa di suatu sore, masih jelas di benakku meskipun belasan tahun telah berlalu. Waktu itu aku sedang khusuk mengikuti misa kudus. Dan saat persembahan tiba, aku ragu untuk memberikan persembahan mengingat uang di dompetku telah menipis. Namun ada dorongan yang kuat dari lubuk hati untuk memasukkan uang terakhirku itu. Dengan taat aku pun melakukannya. Dan ternyata Tuhan tidak mau berhutang terlalu lama kepadaku karena tepat keesokan harinya Dia telah menggantinya berlipat ganda melalui beasiswa yang aku terima dari kampusku.

Berharap atau bahkan bermimpi pun tidak pernah terlintas di anganku mengingat saingan yang begitu banyak. “Aku dapat melakukan lebih banyak dari yang engkau pikirkan. Dan keberhasilanmu bukanlah semata-mata hasil usahamu, namun Aku yang telah berkarya dalam dirimu,” jawab Tuhan menjelaskan. “Benar Tuhan, aku memang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Engkau,” jawabku apa adanya. Dan aku pun tahu dari peristiwa itu Tuhan telah mengajariku tentang ketaatan serta arti dari sebuah ucapan syukur.

Kemudian film berganti lagi semasa aku memasuki gerbang kedewasaan. Terlihat di layar adegan ketika aku dikhianati oleh sahabat karibku. Hingga hari ini pun aku belum bisa mengerti mengapa dia tega berbuat demikian. “Aku sedih dan sakit hati sekali Tuhan karena dia adalah salah satu teman terbaik yang pernah kumiliki,” aku mengomentari kejadian itu. Dan Tuhan pun menjawab, “benar namun Aku tidak membiarkan engkau jatuh dan Aku ingin engkau belajar mengampuni orang yang telah menyakiti hatimu”.

Setelah itu aku melihat di layar diriku terbaring di rumah sakit untuk segera di operasi. “Lihatlah, betapa Aku sangat mengasihimu,” kata Tuhan kepadaku. “Benar Tuhan, saat itu aku memang sangat ketakutan dan Engkau memberi aku kekuatan sehingga aku dapat menghadapi semuanya. Selama aku sakit, Engkau juga yang telah menjaga dan merawatku melalui tangan dokter dan perawat, serta orang orang yang mengasihiku” jawabku membenarkan.

Tidak berapa lama kemudian muncul peristiwa lain sewaktu aku difitnah oleh teman sekantorku. “Lihat, sekali lagi Aku tidak membiarkan engkau sendiri meng alami masa yang sulit itu,” kata Tuhan. “Benar sekali Tuhan, karena Engkau segera datang melalui teman yang sengaja Engkau kirim untukku,” jawabku. “Ya dan sekali lagi Aku ingin engkau belajar untuk mengampuni,” kata Tuhan.

Setelah itu menyusul adegan ketika aku kena PHK karena perusahaan tempatku bekerja mengalami pailit. Aku bertanya kepada Tuhan “Kenapa Engkau membiarkan hal itu terjadi?” Tuhan menjawab, “Aku mempunyai rencana atas semuanya. Aku juga tidak pernah menguji engkau melebihi kekuatanmu. Aku pun tidak membiarkan engkau jatuh tergeletak. Tidakkah engkau merasa Akulah yang memegang tangan kananmu waktu itu ?”.

“Benar Tuhan meskipun saat itu aku sempat frustrasi namun aku tidak sampai terpuruk. Karena Engkau datang tepat pada waktunya,” jawabku dan bersamaan itu terlihat film ketika satu bulan kemudian aku sudah mendapat pekerjaan dengan cara yang sangat ajaib.

Kemudian tayangan di layar berganti lagi ketika aku mengunjungi sebuah panti asuhan bersama teman-temanku. Di situ kami berdoa, menghibur serta membantu belajar anak-anak di panti itu. Terlihat di layar, mereka sangat bahagia dengan kedatangan kami. Hingga kemudian kami pun meninggalkan tempat itu dengan hati yang sangat puas. “Ketika engkau melakukan semua itu dengan kasih, engkau melakukannya untukKu,”  kata Tuhan mengomentari.

Setelah itu menyusul film yang lain episode per episode dari kehidupanku. Dan aku melihat dari semua episode yang ada ternyata lebih banyak peristiwa yang kurang menyenangkan daripada yang menyenangkan. Segera aku merasa Tuhan telah berbuat tidak adil kepadaku. Lalu aku mengajukan protes kepada Tuhan “Tuhan kenapa dalam kehidupanku Engkau memberikan lebih banyak kesedihan dari pada kegembiraan?” Dengan penuh kasih Dia menjawab, “Itu adalah anugerah anakKu, justru di dalam kesedihanmulah engkau dapat lebih merasakan kasihKu” Aku pun terdiam mendengar jawaban Tuhan sambil berusaha untuk dapat mengerti.

Kemudian pada episode terakhir aku melihat seperti sebuah jalan panjang yang tidak berujung. Aku tidak mengerti jalan apakah yang ada di film itu. Dengan penasaran aku pun lalu bertanya kepada Tuhan “Jalan apakah itu Tuhan ?” Dan Dia pun menjawab “Itu adalah jalan yang hendak engkau lalui di kemudian hari” “Apakah sewarna seperti jalan jalan yang telah aku lewati ?” aku mencoba mencari bocoran jawaban dari Tuhan. Dia pun hanya tersenyum mendengar pertanyaanku lalu menjawab, “Bagaimana pun jalan itu nanti janganlah engkau kuatir, karena Aku akan selalu ada untuk menyertaimu”.

Bersamaan dengan berakhirnya jawaban Tuhan tadi, aku merasakan kehadiran Tuhan tiba-tiba menghilang dari sisiku. Aku tersentak kaget lalu terbangun, dan aku melihat ternyata malam sudah berganti pagi.

Oleh : Rindang Respati   

Terinspirasi dari suatu kesaksian


0 Responses to “Ketika Tuhan Hadir Dalam Mimpiku”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: