03
May
11

Hidup Bersama Mereka yang Terpinggirkan

Bentuk kepeduliannya terhadap mereka yang terpinggirkan banyak mengundang kontroversi. Ada yang mendukung, namun tidak sedikit juga yang justru mencibir. Namun tanpa surut, semangat untuk mengasah keperdulian itu terus ia gencarkan.

Ditemani hujan lebat malam itu Elisabeth Lusmini, akrab disapa Eli bersedia berbagi pengalaman kepada Benedizione mengenai kegiatan kemanusiaannya selama ini.

Semua berawal sejak 2005 kala ia bergabung di Yayasan Genta Surabaya sebagai PL (Pendamping Lapangan ). Dan sekarang ditambah lagi sebagai BCI (behavior change intervetion – pengubah perilaku seseorang dari perilaku tidak sehat menjadi sehat) dan MK (Manager Kasus) bagi pendampingan orang yang positif penderita HIV/AIDS yaitu dari proses pemeriksaan sampai dengan pengobatan. 

Awalnya bersama ILO (International Labour Organization, organisasi buruh internasional) wanita kelahiran Surabaya, 10 November 1980 lalu itu mendampingi mereka yang telah menjadi korban eksploitasi seks komersial anak (usia di bawah 17 tahun). Kebanyakan mereka korban dari human trafficking (perdagangan orang) baik itu karena dijual oleh orang tuanya sendiri, pacar, ataupun karena ditipu. Ia mencari korban korban tersebut di tempat tempat hiburan malam seperti diskotik, ia dekati mereka namun karena secara kasat mata mereka tidak bisa dibedakan dengan pengunjung yang lain, ia pun menyamar menjadi teman lalu menjaring teman-teman mereka.

Kemudian mereka diajak dan ditampung di rumah aman untuk kemudian diberi pelatihan seperti kursus masak, kursus ketrampilan, komputer dan lain-lain sebagai bekal hidup. Banyak dari mereka yang sudah tertolong. Lalu mereka kembali ke keluarga, bahkan tidak sedikit yang sudah menikah dan mempunyai keluarga hingga sekarang.

Setelah itu mulai 2007 bersama FHI (Family Health International) dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya wanita lulusan Fisip Sosiologi Universitas Wijaya Kusuma ini mendampingi para penderita IMS (Infeksi Menular Seksual) dan HIV/AIDS. Sasaran utamanya adalah para PSK (pekerja seks komersial) juga ibu rumah tangga dan ibu hamil.

Data menunjukkan usia orang terinfeksi HIV terbanyak di usia 25-40 tahun. Namun bayi pun juga rentan terinfeksi dari orang tua pengidap HIV. Belum lagi anak yang terpaksa menjadi yatim piatu karena HIV telah merenggut orang tua dari sisi mereka. Betapa susahnya harus menyadarkan orang akan bahaya HIV, berapa ibu rumah tangga miskin atau buta huruf yang harus menanggung sakit seumur hidup akibat dari sesuatu yang tak diketahuinya. Orang bisa terinfeksi virus itu selain dari hubungan seks juga karena penggunaan jarum suntik narkoba. Kita tahu bagaimana resiko penularan HIV, jadi kesadaran awal menjadi sangat penting.

Melihat betapa dahsyatnya penyakit yang satu itu, bersama timnya yang terdiri dari tiga orang, ia datang ke wisma-wisma di lokalisasi untuk memberikan penyuluhan kepada PSK yaitu di saat mereka sedang tidak bertugas. Untuk sementara ini masih lingkup wilayah Dolly dan Jarak yang ia layani.

Caranya masuk melalui mucikari. Namun sebelum itu ada beberapa pihak yang mesti dilobi. Antara lain Camat, Lurah, Polsek dan Koramil. Tidak lupa juga ketua RT dan RW setempat. Setelah diberi penyuluhan dan ditemukan keluhan, para PSK ini lalu dirujuk ke puskesmas. Bagi penderita IMS mereka diajari upaya pencegahan agar tidak terinfeksi kembali. Namun bagi yang positif terinfeksi HIV mereka akan dirujuk ke rumah sakit dan di sinilah perannya sebagai MK diperlukan yaitu untuk mendampingi dan memberikan motivasi.

Bagi PSK asli Surabaya tidak dikenakan biaya sepeserpun, namun bagi yang berasal dari luar Surabaya dikenakan biaya 10.000 rupiah di awal. Setelah itu semua biaya akan ditanggung oleh Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Data terakhir menunjukkan sudah lebih dari 1220 orang ia layani.

Ketika ditanya apakah ia tidak melakukan hal yang sia-sia saat mengetahui setelah diobati mereka kembali lagi bekerja ke tempat yang beresiko tinggi, perempuan yang hobi menyanyi ini tersenyum.  “Ini adalah masalah klasik, mereka mau bekerja apa?, sedangkan mereka harus membiayai anak, orang tua, dan tidak ada suami yg dapat menopang hidupnya. Lagi pula tidak ada seorang pun yang bercita-cita untuk menjadi PSK. Jadi tidak semudah itu kita minta mereka bertobat, karena itu seperti lingkaran setan yang tidak berujung,“ ujarnya.

Semuanya memang harus dilalui dengan keberanian dan kebesaran hati. Umat Paroki St.Yohanes Pemandi ini bercerita, awal ia datang ke wisma para PSK, ia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan. Mereka menyambutnya dengan ogah-ogahan, bahkan ada yang menolak sama sekali dan langsung ditinggal pergi. Namun setelah tahu tujuan Eli dan kawan-kawan, para PSK ini bisa menerima dengan baik. “Seperti pepatah tak kenal maka tak sayang,“ imbuhnya sambil tersenyum.

Dan sekarang mereka telah menjadi sahabat dan tetap kontak dengan Eli. Harapannya selama ini walau mereka bekerja seperti itu tetap dapat menjadikan hidup mereka berkualitas, agar orang tidak memandang sebelah mata. Ia pun mengungkapkan janganlah kita memandang orang sebelah mata tapi pandanglah lebih jauh sebelum menilai seseorang.

Kini hampir dua tahun semenjak penyandang dana mulai berkurang, Eli bersama tiga temannya mendirikan LSM Mutiara Rindang yang murni dananya dari uang pribadi sebagai bentuk perwujudan rasa sosial di luar pekerjaan.

Tugas mereka mendampingi masyarakat pada umumnya termasuk anak anak, remaja dan ibu-ibu. Tujuannya memberikan sosialisasi tentang HIV kepada ibu-ibu PKK atau perkumpulan warga lainnya. Gunanya agar stigma masyarakat terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) berkurang. Mereka tidak perlu dihindari pun juga tidak usah diistimewakan, namun perlakukan mereka sebagaimana mestinya.

Nilai-nilai dasar yang menghormati martabat manusia, seperti penghargaan akan kesamaan setiap orang di hadapan Allah dan perhatian untuk kepentingan bersama adalah nilai-nilai dasar yang bersumber dari iman Katolik. Selain meyakininya, kita juga diajak untuk menjalankannya dalam hidup keseharian kita. Tidak harus melakukan sesuatu yang sangat besar dan berani seperti profil kita kali ini, tapi cukuplah dengan menjadi orang Katolik yang selalu berbuat kebaikan bagi setiap orang. (*)

Oleh: Theresia Margaretha


0 Responses to “Hidup Bersama Mereka yang Terpinggirkan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: