16
Apr
11

Tarekat Imam Baru di Keuskupan Surabaya

Sejak Agustus 2009, Uskup Sutikno mengundang Kongregasi Salesian Don Bosco (SDB) untuk berkarya di Keuskupan Surabaya. Kehadiran SDB membawa warna baru dalam karya pastoral di Keuskupan Surabaya. Berikut profil singkat SDB. 

SDB didirikan oleh Yohanes Don Bosco, seorang imam kelahiran Italia. Don Bosco ditahbiskan sebagai imam pada usia 26 tahun. Ia banyak melakukan kunjungan pastoral ke penjara. Di sana ia melihat banyak orang muda yang cerdas, sehat dan kuat tapi sia-sia menghabiskan hidupnya di penjara. Menyaksikan peristiwa-peristiwa ini, ia pernah berikrar, “seorang imam tidak bisa pergi sendirian ke surga. Ia akan pergi bersama jiwa-jiwa yang diselamatkannya melalui contoh perbuatan baiknya. Sebaliknya, ia akan kehilangan jiwanya bersama dengan jiwa-jiwa yang gagal diselamatkannya. Aku berjanji untuk berjuang, siap menderita dan dihina, jika itu menyangkut keselamatan jiwa-jiwa.”

Karena itu pada 1853 Don Bosco mendirikan sebuah sekolah teknik  untuk menampung anak-anak muda dan membekali mereka dengan pengetahuan praktis. Pada 9 Desember 1859, Don Bosco mendirikan kongregasi religius, yang kemudian diberi nama “Salesian”.  Nama Serikat Salesian diambil dari nama St. Fransiscus dari Sales, yang dikagumi oleh Don Bosco karena kerendahan hati dan kebajikan-kebajikan yang dilakukannya.

Pada 3 April 1874 Konstitusi Serikat St. Fransiskus dari Sales diakui oleh Takhta Suci. Semangat Salesian untuk memenangkan jiwa orang muda sebanyak mungkin tampak dari mottonya yang terkenal, “da mihi animas caetera tolle”, yang berarti “berikanlah aku jiwa-jiwa dan ambillah yang lain”.

Kesetiaan pada Tahta Suci

Salesian merupakan salah satu serikat yang sangat setia pada Tahta Suci. Selama hidupnya Don Bosco senantiasa menunjukkan cinta dan kesetiaannya yang besar kepada Tahta Suci dengan tetap menjaga kewibawaan Paus sebagai penerus Santo Petrus. Paus Pius IX (1846-1878) yang terkenal karena pada masa kepausannya menetapkan dogma Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculate Conception), menawarkan diri sebagai pelindung Serikat Salesian.

Paus Pius IX meminta Don Bosco untuk menuliskan semua mimpi-mimpinya karena sangat berguna bagi misi Gereja. Termasuk mimpi Don Boso yang terkenal, yang menceritakan perjuangan Gereja Katolik dengan dipimpin Bapa Suci dalam menghadapi musuh-musuh Gereja di dunia ini. Tapi berkat devosi pada Sakramen Mahakudus dan Bunda Maria, Gereja Katolik berhasil memperoleh kemenangan.

Don Bosco diangkat sebagai Beato pada 2 Juni 1929 oleh Paus Pius XI, dan lima tahun setelahnya, Beato Don Bosco diangkat sebagai seorang Santo pada Hari Raya Paskah 1 April 1934. Paus Pius XII juga memberi gelar kepada Don Bosco sebagai pelindung Editor Katolik. Dalam sejarah tercatat, Paus-paus berikutnya juga menunjukkan kecintaannya pada SDB.

Salah satu ikrar yang pernah diucapkan Santo Don Bosco menjelang ajalnya adalah, “katakan kepada Bapa Suci, bahwa Salesian akan selalu mendukung kewibawaan Paus di mana pun mereka berada dan di mana pun mereka bekerja.”

Perkembangan Serikat Salesian

Semasa hidupnya, Don Bosco mendirikan tiga organisasi yakni, SDB, Suster-Suster FMA (Figlie di Maria di Ausiliatrice yang juga dikenal sebagai Putri-putri Maria Penolong Umat Kristiani atau Suster-suster Salesian), dan Koperator Salesian.

Koperator Salesian beranggotakan kaum awam pria maupun wanita, baik yang belum atau sudah menikah. Kaum awam ini menjadi anggota Koperator dengan berjanji di depan publik untuk menghidupi semangat dan kharisma Salesian dalam kehidupan mereka sehari-hari

Serikat Salesian semula hanya beranggotakan 18 orang (2 orang imam, 15 orang klerus dan 1 orang pe-lajar), namun ketika Don Bosco meninggal pada 31 Ja-nuari 1888, Serikat telah berkembang menjadi 773 imam SDB dan 393 suster-suster FMA. Berdasarkan data tahun 2008, anggota SDB telah mencapai 15.952 imam dan novisiat yang tersebar di 130 negara, sedangkan anggota FMA ada 14.324 suster yang tersebar di 89 negara.

Perkembangan di Indonesia

Di Indonesia, SDB mulai dirintis oleh Pastor Carbo nell pada 1985 di jalan Rajawali Jakarta. Dan pada 1994 mulai di-bangun Wisma SDB di Sunter, sebagai tempat pembinaan bagi para frater SDB yang belajar Filsafat dan Teologi di STF Driyarkara.

Saat ini karya SDB di Jakarta dapat ditemui di Paroki St. Yohanes Bosco di daerah Sunter Jaya, Jakarta Utara. Balai Latihan Kerja (BLK) SDB terdapat di daerah Tangerang dan Weetebula, Sumba Barat.

Di Keuskupan Surabaya SDB berkarya di Paroki St. Mikael, Perak Surabaya dan di Paroki St. Yusuf Blitar.

Romo Noel Villafuerte yang asli Filipina mulai berkarya di Indonesia sejak Maret 1990 di daerah Pademangan Jakarta Utara dan  mulai bertugas di Paroki St. Mikael Perak sejak Agustus 2009.

Selain aktif sebagai Pastor Paroki dan tugas-tugas pastoral dan sakramental, romo Noel juga memberikan bimbingan di berbagai kegiatan kategorial, tidak hanya terbatas di Paroki St. Mikael, tapi juga di kelompok-kelompok lain.

“Karya Salesian berkembang karena dukungan umat yang bersimpati pada karya kerasulan terhadap kaum muda yang dilayani oleh Salesian. Selama kaum muda masih ada, karya Salesian pun akan terus berkembang,” ujar romo Noel. (*)

Don Bosco : “Kaum muda tidak hanya butuh dikasihi,  tetapi mereka juga harus tahu bahwa mereka telah dikasihi. Mereka yang tahu bahwa dirinya dikasihi dan bisa mengasihi, mempunyai kebahagiaan yang sempurna.”

Oleh : Joseph Haryanto.

Editor : Yudhit Ciphardian


0 Responses to “Tarekat Imam Baru di Keuskupan Surabaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: