16
Apr
11

Sarikrama, Katekis Di Balik Baptisan Sendangsono

Baptisan Sendangsono pada 14 Desember 1904 tercatat dalam sejarah sebagai baptisan yang monumental. Tercatat 171 orang dewasa dibaptis serentak di sebuah mata air di bawah pohon Sono. Barnabas Sarikrama adalah sosok penting di balik kisah itu. 

Tahun 1890, tidak banyak orang Jawa yang meng anut Katolik karena saat itu belum ada seorang imam pun yang mengajar agama Katolik. Pada 1896, ada beberapa pastor yang dikhususkan untuk orang Jawa. Salah satunya adalah romo Van Lith, SJ.

Setelah beberapa tahun bertugas, romo Van Lith memang membaptis beberapa orang Jawa. Namun, ia membongkar sebuah skandal keuangan yang dilakukan beberapa katekis dengan kedok memberi pelajaran bagi umat. Usut punya usut, puluhan umat yang dibaptis itu mendapat bayaran dari katekis itu. Ini dilakukan untuk menyenangkan hati para imam misionaris. Ia pun memberhentikan para katekis dan terjadi gejolak dalam karya misi di Jawa. Hikmah dari peristiwa ini adalah dipindahkannya pusat karya misi dari Semarang ke Mendut dan Muntilan di wilayah Magelang pada 1897. Di Mendut bertugas romo Hoevenaars, SJ sementara romo Van Lith bertugas di Muntilan.

Setelah beberapa bulan berkarya, romo Van Lith menerima hasil evaluasi yang kurang menggembirakan dari pusat misionaris di Belanda tentang karyanya di Muntilan. Jumlah baptisan yang sedikit (dibanding Mendut) dan gaya berpastoral yang “terlalu dekat” dengan orang Jawa menjadi dua point penilaian yang diakhiri dengan ultimatum : karya misi di Muntilan akan segera diakhiri.

Di tengah kegalauan itulah Roh Allah bekerja. Persis di saat romo Van Lith nyaris menyerah (ia bahkan menganggap hidupnya seperti lilin yang habis meleleh bukan untuk menerangi), ia bertemu dengan Sarikrama.

Sarikrama adalah sesepuh warga desa Kalibawang, Muntilan, yang konon pernah disembuhkan luka kakinya oleh romo Van Lith. Dari berbagai sumber diceritakan, luka di kaki Sarikrama sudah memborok dan membuatnya tak bisa berjalan dengan tegak. Setelah disembuhkan, Sarikrama berujar, “kaki saya ini dapat berjalan karena Tuhan dan selanjutnya akan saya pakai demi kemuliaan Tuhan”.

Dalam satu kesempatan, Sarikrama dan tiga rekannya, (Yokanan Surawijaya, Lukas Suratirta, dan Markus Sukarono) pergi menghadap romo Van Lith dan meminta kesediaannya untuk dibaptis dan mengajari mereka iman Katolik secara khusus untuk diteruskan pada penduduk Muntilan. Ia dan tiga temannya lalu dibaptis oleh romo Van Lith pada 20 Mei 1904.

Beberapa bulan setelah itu, keempat orang katekis ini, di bawah pimpinan Sarikrama, mengajar ratusan orang Jawa untuk mengenal agama Katolik. Puncaknya terjadi pada peristiwa yang disebutkan di awal tulisan ini : baptisan Sendangsono.

Peristiwa baptisan itu berhasil membatalkan ultimatum pimpinan Jesuit di Belanda untuk mengakhiri karya misi di Muntilan. Romo Van Lith pun kembali bersemangat berkarya.

Bahu-membahu dengan Sarikrama, ia mengubah Kolese Xaverius yang awalnya adalah sekolah calon katekis menjadi sekolah calon guru. Menurut romo Van Lith, kedudukan guru sangat strategis. Lewat sekolah calon guru itulah romo Van Lith menetapkan ladang karya pastoralnya, yaitu di dunia pendidikan.

Sarikrama meninggal pada 15 Juli 1940 dan dimakamkan di pemakaman desa yang terletak satu kompleks dengan Gua Sendangsono. Rafael Sudarna Wirjaredja, 81, putra bungsu Sarikrama, mengatakan: “Bapakku sangat komitmen mengajarkan agama kepada para katekumen atau mengunjungi para siswanya, sehingga ia sering lupa keluarganya. Kebunnya juga ditinggalkan, dan tidak dikerjakan!”

Jika dipadankan dengan kisah di Perjanjian Baru, ro-mo Van Lith ibarat St. Paulus, yang giat mewartakan Injil sementara Sarikrama adalah rasul lokal yang juga giat menaburkan benih-benih iman di kalangan orang Jawa.

Pada misa khusus 14 Desember 1929 Sendangsono diresmikan sebagai tempat peziarahan dan Medali Pro Ecclesia et Pontifice (untuk Gereja dan Kepausan) dari Paus Pius XI dianugerahkan kepada Barnabas Sarikrama atas jasa-jasanya. Medali itu kini disimpan di Museum Misi Muntilan.

Museum Muntilan dan Sendangsono

Museum Misi Muntilan terletak di Jl Kartini no 3 Muntilan Magelang persis di sebelah kiri gereja St Antonius. Museum ini dibuka sejak 14 Desember 2004, bersamaan dengan peringatan Baptisan Sendangsono oleh Pastor Van Lith. Museum ini menjadi bukti hidup sejarah misi di tanah Jawa.

Sendangsono. Mungkin tidak ada seorang pun orang Katolik di Jawa yang tidak pernah mendengar tempat perziarahan Sendangsono. Malah, sebagian besar dari mereka mungkin pernah berkunjung ke “Lourdes”-nya umat Katolik di Indonesia ini lebih dari dua kali. Sendangsono yang luasnya hampir satu hektar itu memang tersohor sebagai tempat ziarah yang lengkap.

Hikmah

Hikmah dari kisah perjuangan “duet” Van Lith-Sarikrama ini adalah, di mana pun, kapan pun, tanpa kaum awam, Gereja tidak akan bisa tumbuh dan berkembang subur seperti sekarang ini. Awam membutuhkan hierarki sama besar seperti hierarki butuh awam. Jika keduanya bahu-membahu bekerja sama, karya pastoral akan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Masalah klasik yang kerap menghalangi perpaduan awam-hierarki ini adalah budaya pastor-sentris dan keterampilan manajerial pastoral. Dalam budaya pastor-sentris, awam enggan dan sungkan menampilkan potensinya dengan maksimal karena budaya ini menanamkan prinsip yang kurang bagus : “jika pastor bicara, semua selesai!”. Di sisi hierarki, masih ada beberapa pastor yang sungguh menikmati budaya ini untuk berkuasa sepenuhnya dan melemahkan peran awam. Budaya ini akan tergerus dengan sendirinya jika kedua pihak dapat saling menghargai sewajarnya dan memaksimalkan tugas, peran dan tanggung jawab masing-masing.

Dalam masalah keterampilan manajerial pastoral, Keuskupan Surabaya (sejak dicanangkan Ardas), getol mengajak semua lapisan umat untuk menerapkan “sembilan langkah pengelolaan program”. Diyakini, “sembilan langkah” ini akan banyak membantu karya pastoral gereja untuk terus sadar akan jati diri, tujuan dan konteks lingkungan yang mempengaruhi program tersebut. Cita-cita bersama gereja Keuskupan Surabaya akan terwujud jika semua warga gereja dengan kerelaan dan keterbukaan hati menerapkan “sembilan langkah” ini dalam merancang dan mengelola program kegiatan. (*)

Oleh : YUDHIT CIPHARDIAN


1 Response to “Sarikrama, Katekis Di Balik Baptisan Sendangsono”


  1. 06/07/2011 at 14:37

    How Great…..!!
    ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: