16
Apr
11

Pemantapan Petugas Tatib di Wilayah IV

Petugas tatib (tata tertib) adalah salah satu dari beberapa pelayan liturgi yang biasa kita jumpai saat misa seperti petugas koor, lektor, pemazmur, AI (Asisten Imam) dan lain-lain. “Untuk menjadi seorang petugas tatib yang baik perlu memperhatikan lima hal,” kata Andreas Bardono membuka acara Pemantapan Pelayan Liturgi yang digelar oleh Sie Liturgi Wilayah IV, Senin 22 Nopember lalu. Acara yang digelar di Taman Bintoro 3-5 Surabaya ini dihadiri oleh puluhan petugas tatib di Wilayah tersebut. 

Adapun lima hal yang harus diperhatikan itu adalah sebagai berikut. Saat persiapan. Pada saat persiapan, petugas tatib diharapkan hadir 30 menit sebelum misa dimulai agar dapat mempersiapkan semuanya dengan baik. Sebelum misa. Sebelum misa, tugas tatib adalah menyambut umat yang datang dan mencarikan tempat duduk yang kosong. Yang perlu diperhatikan pada waktu menyambut umat adalah etika dari petugas yang mencakup pakaian, tingkah lalu dan sikap. Demi menjaga kesakralan misa kudus sebaiknya umat yang datang terlambat sampai di doa “Kemuliaan”, diarahkan mengambil tempat duduk di area luar gedung gereja.

Bagian ketiga adalah saat kolekte. Kantong kolekte ada dua buah, agar tidak terjadi penumpukan perlu diperhatikan jeda waktu antara beredarnya kantong kolekte satu dengan kantong yang lainnya.

Perjalanan kantong kolekte pun sebaiknya juga diikuti agar tidak terjadi kecurangan. Pada saat menuang uang kolekte pun juga perlu diperhatikan. Pada saat konsekrasi sebaiknya kegiatan apa pun dihentikan agar petugas dapat ikut berdoa.

Pada saat komuni, tugas tatib yang lain adalah mendampingi imam dan asisten imam yang sedang membagikan komuni, tujuannya agar dapat ikut mengawasi penerima komuni sehingga tidak terjadi pelecehan terhadap hosti.

Setelah misa, tugas terakhir tatib adalah memerik-sa barang umat yang tertinggal di bangku agar dapat disimpan dan dikembalikan ke pemiliknya. Jika diperlukan, petugas tatib juga ikut merapikan kursi yang dipakai umat.

Petugas tatib harus bisa membawakan diri sesimpatik mungkin. Tidak perlu terlalu berlebihan mengumbar senyum, tapi cukup menunjukkan sikap hangat dan ramah. Petugas tatib hadir untuk melayani, bukan menakuti.

Kemudian Kristoforus Adam Santoso selaku koordinator Tatib Paroki juga ikut menambahkan beberapa hal yang perlu berkaitan dengan tugas tugas tatib.

Acara ditutup oleh Edi Heryanto yang memberikan penyegaran rohani yang diperlukan oleh seorang petugas. Malam itu Edi menerangkan mengenai talenta. Talenta yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita harus dapat kita pertanggung jawabkan, salah satunya melalui pelayanan. Pelayan sejati dipilih dan dipanggil oleh Tuhan sendiri dan pertanggung jawabannya  pun juga langsung kepadaNya. Pelayan yang sejati adalah pelayan yang bekerja tanpa pamrih. Melayani dengan tujuan tidak mencari popularitas diri sendiri, melainkan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Melayani harus dengan tulus hati, penuh kecintaan dan tanggung jawab. Dan melakukan tugasnya semata-mata hanya disebabkan oleh rasa cintanya kepada Tuhan dan sesama. Pelayan sejati juga perlu berproses bersama dari pengalaman untuk mematangkan iman agar semakin dewasa.

Begitulah idealnya seorang pelayan. Kekurangan bukanlah suatu halangan namun sebuah proses agar dapat menjadi lebih sempurna. (*)

Oleh : Rindang Respati


0 Responses to “Pemantapan Petugas Tatib di Wilayah IV”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: