16
Apr
11

Manusia Pengharapan

Di malam yang tidak sunyi itu aku termenung, apa ya…,  sekarang ini yang bisa aku banggakan dari negeriku yang kucintai ini? Kalo dulu keramahtamahan masih bisa dibanggakan, tetapi dengan maraknya kekerasan dan tindakan brutal dewasa ini, kebanggaan keramah tamahan itu sudah hilang. Malah terbalik, merk bangsa bar-bar yang terdengar bagi bangsa Indonesia di telinga bangsa lain. Keadilan seakan hanya miliknya orang yang punya kekuasaan, senjata, dan uang. Rakyat kecil seperti nenek Minah menjadi terpidana hanya karena mencuri tiga buah kakao.  Dua janda veteran, Soetarti –Soekarno dan Roemini yang diminta paksa negara untuk mengembalikan  rumah dinar mereka.

Mencuri  tiga buah kakao diganjar  pidana hukuman 6 bulan penjara. Ini sangat jauh berbeda dengan para koruptor yang mencuri milyardan rupiah dan hanya diganjar 1 tahun penjara, bahkan sama sekali bisa lolos dari jeratan hukum. Ada juga kasus seorang yang disangka melakukan tindak pidana pembunuhan kemudian keluarganya diperas oleh oknum aparat penegak hukum hingga ia terpaksa harus menjual rumahnya dan tinggal di kandang kambing. Hukum yang sejatinya untuk keadilan dan kesejahteraan manusia, justru berbanding berbalik. Hukum yang seharusnya menyeimbangkan setiap kepentingan manusia yang berbeda, tetapi saat ini hukum hanya berpihak kepada mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.

Dalam bidang olah raga apa yang bisa dibanggakan lagi? Badminton? Sekarang ini sudah tidak ada lagi tokoh legendaris seperti Rudi Hartono dan Liem Swi King, Susi Susanti dan Allan Kusuma.Cabang Olah raga lain kita bisa liat bagaimana hasil Asean Games tahun 2010 ini. Berapa medali emas yang diperoleh oleh Bangsa kita? Ada di urutan ke berapa  Indonesia dalam asean Games ini??

Bidang politik, fenomena yang tampak adalah orang berebut masuk partai untuk mendaftar calon anggota  Dewan Perwakilan Rakyat, bukannya untuk mensejahterakan rakyat, tetapi untuk gengsi, gagah-gagahan, dan mengeruk uang rakyat/uang negara untuk kepentingan partai atau dirinya sendiri. Makanya sekarang ini keliatan di tengah penderitaan rakyat yang lagi kena musibah, para wakil rakyat malah berlomba-lomba untuk studi banding ke leuar negeri dengan anggaran negara. Apa yang kita harapkan??

Padahal  banyak orang yang sudah tahu bila pemimpin-pemimpin suatu bangsa tidak bertanggungjawab dan korup, biasanya rakyat menderita. Dari dulu sampai detik ini umat manusia di atas muka bumi ini didera oleh berbagai kemalangan. Kebanyakan  merupakan buah dari kepemimpinan yang tidak bertanggungjawab.  Misalnya saja bencana lumpur Lapindo di Porong, Bencana banjir di Wosior dan banjir yang melanda perkotaan atau pemukiman di pedesaan, tanah longsor, iklim dan cuaca yang kacau tak beraturan.  Berbagai penyakit seperti gangguan pernafasan, gangguan pencernaan  yang menyerah rakyat kecil, kurang gizi dan busung lapar adalah pertanda gagalnya pemimpin menyediakan pangan bagi rakyat.

Dalam situasi malang, dalam penderitaan, tidak ada hal yang bisa diharapkan, menjadikan rakyat frustasi. Maka wajar dan sah bila rakyat merindukan seorang pemimpin yang mampu menjamin secara nyata kemakmuran dan kesejahteraan masing-masing warga.  Rupanya oranag Yahudi pada jaman Yesaya juga mengalami keadaan serupa. Mereka menantikan seorang pemimpin, yang mempunyai kemampuan memulihkan martabat bangsa dengan menciptakan kedamaian dan kemakmuran seperti pada pemerintahan raja Daud 300 tahun sebelumnya. Nabi Yesaya memastikan bahwa tokoh itu akan datang. “Roh Tuhan ada padaNya, roh hikmat dan pengertian, roh nasehat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan” (Yes 11:2).

Ternyata Yesus Kristuslah Pemimpin yang diutus Allah itu,   Dia datang untuk menegakkan Kerajaan Allah di bumi ini. Kerajaan yang berpedoman kebenaran dan kehidupan, keadilan, serta cinta kasih. Sebenarnya kelahiran Yesus di Betlehem merupakan mulainya penampakan sosok pemimpin yang ideal di bumi ini.  Sehingga gambaran Yesaya akan datangnya situasi damai dan adil semakin menjadi jelas. “Macan tutul akan berbaring di samping kambing, lembu dan beruang sama-sama merumput, anak kecil bermain-main dekat liang ular tedung”(Yesaya 11:6.7.8). Sebuah gambaran suasana yang rukun, aman, dan sejahtera. Keamanan dan damai itu seperti digambarkan anak kecil  berani bermain dekat liang ular tedung. Orang mengira bahwa suasana seperti itu mungkin sulit untuk diwujudkan. Tetapi kita sebagai orang kristiani yang selalu mempunyai pengharapkan tentunya mempunyai optimesme dan percaya. Salah satu syaratnya adalah menerima Kristus dengan hati yang tulus sebagai pemimpin dari segala pemimpin. Artinya kita dengan tulus dan senang hati melaksanakan perintah-perintahNya.

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru.

Rm. Eko Budi Susilo, Pr.

Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Surabaya


0 Responses to “Manusia Pengharapan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: