16
Apr
11

Kasih Menutupi Kesalahan

Profil Fransiskus Xaverius Triyanto Sutjahjo

Di sela aktivitasnya yang luar biasa padat, ia masih mau meluangkan waktu untuk pelayanan. Menjadi misdinar adalah pelayanan pertama yang ia lakukan dulu, kala itu ia masih berusia 12 tahun. Dokter Tri demikianlah ia akrab disapa.

Ditemui di gereja katedral seusai misa, suami dari Nety Sutjahjo ini menceritakan latar belakang aktivitas pelayannya, yaitu disebabkan tuntutan profesinya sebagai dokter yang begitu lekat dengan kegiatan sosial. Jadi, meski setiap bulan ia mengaku rutin menerima gaji namun ia pun juga harus memiliki kepekaan hati nurani. Selain itu juga tidak lepas dari peran rekan-rekannya yang mengajaknya untuk terjun ke pelayanan. 

Pria bernama lengkap Fransiskus Xaverius Triyanto Sutjahjo ini kemudian memaparkan fungsi dan tugasnya sebagai Sie Kesehatan PHKY yaitu memberikan pelayanan pemeriksaan dan pemberian obat di Balai Kesehatan HKY, memberikan pelayanan rawat jalan di tempat praktek dokter yang ditunjuk, memberikan bantuan pengobatan masuk rumah sakit bagi umat karitatif yang memenuhi persyaratan dan prosedur khusus di RKZ Surabaya. Selain itu juga mengadakan seminar/penyuluhan tentang kesehatan, mengadakan kegiatan lainnya sehubungan dengan kesehatan (misalnya pemeriksaan darah, pap smear, dll) serta kegiatan sosial kesehatan lainnya (seperti donor darah, pengobatan massal dll), dan juga ikut berperan serta di acara-acara besar seperti hari Natal dan Paskah sebagai team medis.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai Kepala Kesehatan Garnizun ini menceriterakan awal keterlibatannya di seksi tersebut yaitu sejak romo Jelantik masih menjabat sebagai romo paroki di PHKY. Dan hingga kini saat ia diminta kembali untuk membantu, ia pun tak segan untuk menerimanya.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Sexologi Indonesia (ASI) ini menuturkan program yang selama ini telah ia buat, yang kesemuanya disesuaikan dengan kebutuhan yang ada atau pun isu yang sedang berkembang. Misalnya waktu itu ramai wabah flu burung maka diselenggarakanlah seminar mengenai flu burung, demikian juga ketika ramai dibicarakan mengenai kanker serviks, pria yang juga aktif melayani di PLUSS (Paguyuban Lanjut Usia St Simeon) dan PDKI Keuskupan Surabaya ini dengan sigap menyelenggarakan seminar serupa.

Kegiatan semacam itu memang dirasa perlu agar masyarakat awan paham benar mengenai suatu penyakit yang sedang santer berkembang dan yang lebih penting lagi adalah upaya pencegahannya.

Di samping itu baru-baru ini juga telah diresmikan Balai Kesehatan PHKY yang buka setiap harinya, yang untuk sementara waktu masih dokter umum yang berpraktek, menyusul setelah itu praktek dokter gigi.

Pria kelahiran Kraksan, Probolinggo 29 Juli 1956 ini mengungkapkan, sejauh ini semua program berjalan dengan lancar, tanggapan dari umat pun juga baik. Namun sayang kini agak tersendat dikarenakan minimnya tenaga sukarela yang bisa membantu, misalnya tenaga untuk mengundang peserta seminar atau untuk menyebar brosur. Ia berharap ada tenaga sukarela yang bersedia membantu sehingga semua program yang telah ia rencanakan dapat berjalan lancar.

Pria yang hobi olahraga dan traveling ini lalu menuturkan pengalaman yang dirasa paling berkesan selama ia melakukan pelayanan yaitu saat ia menjabat sebagai pengurus ISKA (Ikatan Sarjana Katolik) di jamannya dulu, dimana ia dapat mendalami hal yang bersifat rohani, hingga ia mampu memberikan renungan untuk menggantikan jika ada romo atau pembicara yang diundang untuk ibadat berhalangan hadir.

Ketika ditanya pengalaman yang kurang berkesan, dengan merendah ia mengaku sudah lupa. Saat didesak ia pun mengungkapkan yaitu ketika orang sering kali salah terima dengan maksud baiknya. Ia sudah berusaha melakukan yang terbaik namun orang masih salah faham, biasanya mereka hanya memandang dari sisi negatifnya. Sebagai manusia biasa ia pun terkadang dihampiri rasa putus asa. Namun segera ia mengingat bahwa yang ia layani adalah Tuhan, dan ia pun dapat segera meredakan perasaannya untuk kemudian melupakannya. “Bukankah kasih menutupi kesalahan,” imbuh pria yang mempunyai moto “menjalankan hidup dengan sebaik mungkin itu”.

Selama ini peran keluarga pun juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Merekalah yang selalu mendukung segala aktivitasnya bahkan mereka pulalah yang selalu memberikan kekuatan di kala ia membutuhkan.

Memungkasi wawancara malam itu ia menuturkan pesan untuk pembaca Benedizione “kesehatan sangatlah penting dan mahal, lebih baik mencegah daripada mengobati”. Nasehatnya khas seorang dokter. (*)

Oleh : Theresia Margaretha


0 Responses to “Kasih Menutupi Kesalahan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: