16
Apr
11

Benih-benih Iman Bertumbuh Subur di TPA

“Wah, saya batuk-batuk sampai sesak nafas selama dua tahun. Saya pergi ke dokter tapi dokter bilang saya tidak alergi, hanya stres saja,” kata suster Bernysia, SSpS ketika ditunjuk oleh suster Monique SSpS selaku pimpinannya untuk mengelola Tempat Penitipan Anak St Vincentius RKZ Surabaya.

Sebagai anak bungsu yang memiliki selisih jauh dengan kakak-kakaknya, suster Bernysia tidak terbiasa bergaul dengan anak kecil, wajar apabila timbul stres yang luar biasa ketika mengawali mengurus anak-anak di TPA.

Namun suster Monique tidak serta merta meninggalkannya begitu saja. Suster Monique yang saat itu masih menjabat sebagai Direktris Keperawatan Umum RKZ selalu memberi support dan tak jemu-jemunya memberi nasihat agar suster Bernysia senantiasa sabar dan pasti mampu melalui semua permasalahan ini. Ternyata apa yang dikatakan oleh suster Monique menjadi kenyataan dan saat ini sudah dua belas tahun suster Bernysia mengabdi untuk anak-anak TPA, penuh cinta dan kelembutan dalam menghadapi anak-anak. Saat ini suster Bernysia selalu memberi kabar perkembangan TPA pada suster Monique melalui email karena ia tinggal di Belanda.

Tempat Penitipan Anak St Vincentius RKZ atau sering disebut TPA RKZ terbentuk atas inisiatif para karyawan RKZ sendiri. Mereka banyak yang mengeluh kerepotan karena tidak memiliki pembantu rumah tangga, tidak tahu harus menitipkan anak pada siapa dan akhirnya karyawan terlambat masuk dan menjadi tidak konsentrasi dalam bekerja. Usulan tersebut tidak serta merta langsung direalisasikan. Berkat jasa suster Monique lah  TPA RKZ dapat terwujud. Dengan dibantu 6 karyawan rumah sakit dari bagian POS (Pembantu Orang Sakit) dan 2 staf maka suster Bernysia memulai tugasnya.

“Kalau ditanya suka-dukanya, sebenarnya lebih banyak sukanya dibanding dukanya. Dukanya hanya apabila ada bayi yang rewel dan menangis, sering bingung kalau mau nolong,” kata suster Bernysia dengan tertawa. Saat itu datang seorang anak menghampiri dan mengajak bicara Benedizione dan anak tersebut kelihatan kurang jelas dalam berbicara. Ternyata anak itu berkebutuhan khusus.

Suster Bernysia tidak membatasi keadaan dan latar belakang anak-anak yang dititipkan, asalkan mereka adalah anak karyawan RKZ, di luar instansi tersebut suster tidak menerima.

Bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus, suster akan melihat kondisinya, apabila mampu merawatnya maka akan diterima namun bila kurang mampu maka orangtua anak tersebut akan diberitahu dan dirujuk pada psikolog atau psikiater agar dapat penanganan yang lebih tepat. Hal itu pernah terjadi pada salah satu anak yang dahulu pernah dititipkan namun akhirnya oleh suster  dirujuk ke psikiater dan saat ini anak tersebut sudah menjelang remaja dan mampu melakukan banyak hal dengan baik. Hal itu membuat suster bersyukur karena melihat kemajuan dan perkembangan yang pesat pada anak tersebut.

Saat ini suster merasa begitu dekat dengan anak-anak, satu hal yang dahulu tidak pernah terbayangkan olehnya. Tangannya terbuka menerima anak-anak dari agama apa pun dan dengan latar belakang apa pun. Namun bagi anak-anak dari karyawan yang beragama non-Katolik, sejak awal penerimaaan suster sudah menjelaskan pada orangtua tersebut bahwa pendidikan iman yang diajarkan pada anak-anak adalah iman Katolik. Ternyata para orang-tua tidak merasa keberatan dengan hal tersebut.

“Saya mengatakan pada para orangtua bahwa saya hanya bisa mengajarkan pendidikan yang berlatar belakang Katolik, berdoa dengan cara Katolik, saya tidak bisa berdoa dengan cara Islam atau Hindu atau Budha, oleh karena itu ya saya mengajarkan apa yang saya bisa dan karena mereka tidak keberatan ya ayooo..,” kata suster sambil merentangkan tangan seolah ingin merangkul anak-anak.

TPA RKZ Surabaya dibuka pada 2 Januari 1998.  Pada awalnya menempati rumah di jalan Kutai. Rumah itu cukup besar dan memadai karena memiliki beberapa ruang, misalnya kamar tidur anak-anak, ruang makan, ruang  untuk kegiatan dan aula serta ada kebun di depan dan tengah sehingga anak-anak dapat melakukan kegiatan dengan nyaman. Namun sejak 22 Nopember 2010 TPA dipindah ke jalan Ciliwung 32 dengan ruangan yang terbatas.

Benedizione melihat hanya ada satu ruang besar yang dipakai anak-anak untuk kegiatan bermain, belajar dan makan. Di depan ada teras kecil dan mainan anak-anak, namun lokasi yang berhadapan langsung dengan jalan raya sering membuat suster cemas, terutama jika ada anak yang tiba-tiba keluar tanpa sepengetahuan petugas karena pintu yang tidak terkunci dan mudah dibuka.

Saat ini ada sekitar 60 anak yang ditampung  di TPA RKZ dengan usia antara 2 tahun hingga 12 tahun. Suster tidak mau menerima anak-anak yang berusia diatas 12 tahun sebab anak yang sudah lulus SD sudah lebih mandiri.

Kegiatan TPA dimulai pukul 6 pagi dengan makan pagi bersama. Setelah itu pukul 08.30 hingga 09.30 anak-anak diajak aneka permainan. Kegiatan disesuaikan dengan pengajaran di sekolah playgroup. Agar mampu membimbing anak-anak, suster dan seluruh karyawan diikutsertakan kursus babysitter dan kursus guru playgroup di sekolah Tadika Puri. (*)

Oleh : Yohana Tungga 


0 Responses to “Benih-benih Iman Bertumbuh Subur di TPA”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: