06
Oct
10

Salam redaksi

Dalam kitab Suci, kita semua pengikut Kristus di sebut orang kudus. Namun benarkah selama ini kita sudah mencerminkan hidup sebagai orang kudus itu? Dari kisah para orang kudus, kita tahu bagaimana hidup mereka dulu. Mereka dikenal karena kerendahan hati, ketaatan serta kesucian hidupnya. Mempersembahkan hidup dan segenap hati mempercayakan diri kepada Tuhan. Melakukan silih serta paham arti berkurban demi cintanya kepada Tuhan. Suka meluangkan waktu untuk berdoa dan tidak pernah mengeluh atas penderitaan yang berat. Santo Yohanes dari Salib misalnya, justru mohon kepada Tuhan untuk mengijinkannya menderita setiap hari demi cinta kasih kepada Yesus. Untuk membalas kasihnya Yesus menampakan diri kepada Santo Yohanes dengan suatu cara yang istimewa.

Mereka yang sudah diangkat menjadi santa atau santo adalah orang suci yang sudah diakui oleh gereja. Tapi untuk menjadi suci bukan datang dengan cara instant. Mereka dulu pun juga sama seperti kita, jatuh bangun dalam iman. Bahkan ada yang berasal dari penjahat, pembunuh dan lain sebagainya. Namun kemudian mereka merasakan penyesalan yang mendalam atas hidupnya yang jahat dan mempersembahkan hatinya kepada Kristus. Cintanya yang besar kepada Tuhan dan teladan baiknya menghantar banyak orang untuk menjadi orang Kristen. Karena terbakar oleh semangat yang menyala-nyala untuk menjadi orang kudus, mereka membayar mahal kesetiaan imannya. Bahkan hingga rela wafat menjadi martir. Santo Vincentius misalnya, mohon kekuatan dari Roh Kudus agar tetap setia kepada Yesus tak peduli betapa dahsyat derita yang akan menimpanya hingga ia wafat sebagai martir. Kekuatannya yang luar biasa itu bersumber pada pengharapannya yang besar akan kehidupan kekal kelak bersama Tuhan di surga.

Mungkin kita tidak sepandai atau sehebat yang kita harapkan. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi Tuhan untuk tetap mencintai dan memanggil kita untuk melakukan hal hal yang mengagumkan. Mari kita belajar meneladan hidup para “orang kudus” dengan hidup benar, taat beribadah dan melakukan banyak perbuatan baik. Mempergunakan waktu untuk membaca kitab suci serta merenungkan keutamaan keutamannya. Dan semoga teladan hidup kita sebagai “orang kudus” dapat membawa banyak orang kepada Yesus.

Pada edisi ini kami menampilkan wawancara dengan umat bagaimana mereka memaknai nama babtis yang mereka miliki. Dan semoga keteladanan nama para orang kudus itu dapat mereka hayati dalam hidup sehari-hari. Juga liputan menarik lain yang patut untuk disimak.

Selamat menikmati, Tuhan Yesus memberkati.   


0 Responses to “Salam redaksi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: