06
Oct
10

Panggilan Calon Imam Dari Surabaya Masih Rendah

Rm Martinus Damar Cahyadi

Jumlah umat Katolik di kota Surabaya mencapai 110 ribu jiwa dari total 160 ribu jiwa umat Keuskupan Surabaya. Namun, jumlah imam kelahiran Surabaya yang ditahbiskan masih sekitar lima persen dari total imam yang ditahbiskan. Angka ini termasuk kecil

jika melihat jumlah populasi umat. Keprihatinan inilah yang selalu diungkapkan romo Damar dalam setiap kesempatan.

Sebagai Sekretaris Keuskupan Surabaya, romo Damar memang bergelut dengan masalah

administrasi, data statistik dan legalitas institusi gereja.

Menurutnya, rendahnya panggilan calon imam dari kota Surabaya -seperti halnya terjadi di kota-kota besar lainnya- banyak dipengaruhi oleh faktor sosial dan keluarga. Secara sosial, panggilan menjadi imam kurang menarik bagi orang muda jaman sekarang. Pemikiran yang berkembang di masyarakat, “profesi” imam tidak menjanjikan secara material. “Sebagian besar orang muda jaman sekarang lebih mementingkan ‘penampilan’ daripada ‘nilai’. Masalah ini tentu tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Faktor lain yang tidak kalah berpengaruh adalah keluarga yang menghendaki hasil akhir daripada proses. Siswa yang keluar dari seminari sering dianggap “gagal”, padahal siswa tersebut sudah mengalami proses yang baik selama mengenyam pendidikan di seminari. “Banyak orangtua yang takut dengan ‘kegagalan’ ini sehingga meskipun si anak berminat menjadi imam, orangtuanya harus berpikir seribu kali untuk meluluskan permintaan anak,” sambungnya.

Meski begitu, romo yang pernah menjadi koordinator Pelayanan Pastoral  Mahasiswa (PPM) dan mengenal betul dunia mahasiswa ini masih optimis dengan panggilan calon imam di Keuskupan Surabaya. “Setidaknya, seminari menengah di Garum Blitar tidak pernah kosong,” ujar romo yang gemar otak-atik komputer ini. Menurutnya keprihatinan ini tidak akan lama jika semua pihak turut memikirkan hal ini. Mulai dari kuria Keuskupan, romo Paroki, orangtua, guru, tokoh umat sampai keseluruhan umat.

Ruang lingkup kerja

Romo kelahiran Sidoarjo, 28 Nopember 1969 ini mengaku istilah “sekretaris” agak kurang pas untuk Keuskupan. Istilah itu dipakai untuk memudahkan penyebutan. Sebagai sekretaris, anak kedua dari empat bersaudara ini bertugas untuk tiga hal penting, yaitu chancery, archievis, dan noturis. Chancery adalah bidang legalitas (keabsahan) yang berhubungan dengan dokumen dan surat yang mewakili institusi gereja. Misalnya, dokumen yang dihasilkan dari pengadilan gereja (tribunal) harus disahkan oleh Uskup dan sekretaris. Archievis adalah pengarsipan dokumen, data dan inventaris penting gereja lainnya. Tugas utama ketiga, noturis, adalah fungsi pencatatan semua hal yang berkaitan dengan dinamika gereja. Untuk tugas ini, romo yang ditahbiskan pada 8 September 1998 ini dibantu oleh team sekretariat keuskupan.

Masa kecil

Putra pasangan Christophorus Maridjo Fredeswinda Sri Mardiah ini menghabiskan masa kecilnya di Sidoarjo. Kecintaannya pada iman Katolik diawali saat aktif menjadi misdinar. Tugas misdinar yang selalu berhubungan dengan romo menumbuhkan minatnya menjadi imam pula.

Di kelas 3 SMA, ia membaca majalah Viva Vox terbitan Seminari Garum yang memuat formulir pendaftaran siswa baru. Formulir itu lantas diisi dan dikirimnya tanpa sepengetahuan orangtua. Bahkan ketika harus mengikuti ujian masuk pun ia berusaha mencari-cari alasan pada orangtua agar bisa bolos dua hari dengan surat keterangan dari orangtua.

Menjelang lulus SMA, saat dirinya sedang ragu untuk melanjutkan kuliah, datanglah surat pemberitahuan bahwa dirinya diterima menjadi siswa Seminari Garum. Orangtua yang awalnya marah karena ketidakjujurannya, berbalik memberi restu dan menandatangani surat persetujuan orangtua.

Sejumlah pengalaman unik dan seru dialaminya sebagai siswa seminari. Kenakalan remaja dan solidaritas antarteman mewarnai hari-harinya studinya.

Lulus dari Seminari Garum, ia lalu melanjutkan Tahun Rohani di Claket dan Seminari Tinggi Giovani di Malang. Setelah menempuh S1, romo yang mengaku selalu bersukacita dalam pelayanannya ini bertugas pastoral di Paroki St Paulus Nganjuk.

Usai pastoral, ia melanjutkan studi di Seminari Tinggi selama dua tahun dan masa diakonat di paroki Ponorogo dan Blitar. Tahbisan Diakon diterimanya Malang dan ditahbiskan sebagai imam pada 8 September 1998 di Gereja HKY Surabaya.

Tugas pertamanya adalah menjadi pastor rekan di  Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya selama 4 tahun dan saat itu juga diminta untuk kursus Kitab Suci di Italia (4 bulan) dan di Manila (7 bulan). Tugas kedua adalah menjadi moderator Pelayanan Pastoral Mahasiswa (PPM) dan tinggal di Paroki St Maria Tak Bercela Ngagel Surabaya.

Demikian wawancara dengan romo Damar, seorang imam yang sederhana dan memiliki harapan akan keikutsertaan umat dalam menumbuhkan benih-benih panggilan bagi kaum muda agar mamu dan mampu mendorong putra-putranya menjadi pelayan gereja dan umat.

***

Oleh : Yohana Tungga / Yudhit Ciphardian


0 Responses to “Panggilan Calon Imam Dari Surabaya Masih Rendah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: