06
Oct
10

Menjadi Murid Bijaksana

Apakah karena kecerdikan mereka, ataukah karena kepandaian mereka, pada jaman sekarang ini banyak orang memanfaatkan media masa untuk mengangkat citra dirinya. Para pejabat Politik gencar memanfaatkan media dengan Politik Pencitraan. Sehingga karena banyak mengurus pencitraan , malah menjadi lupa tuga utama dalam mengurus rakyat. Beberapa kasus kekerasan  di negara kita akhir-akhir ini dibiarkan melenggang.  Warga negara yang seharusnya dil;indungi hak-haknya ketika beribadat dibubarkan. Saat renungan ini ditulis, tiga  lima hari lalu diberitakan di koran ada 3 orang pendeta ditusuk orang tak dikenal.

Di sisi lain pada jaman ini, banyak orang yang menggunakan media untuk menyebarkan issue-isue yang menyudutkan orang lain atau lawan politik, atau orang yang tidak disenangi. Tujuannya antara lain untuk menyebarkan benih benih kebencian kepada lawan politik atau orang yang tidak disenangi tersebut. Barangkali juga untuk menumbuhkan rasa tidak percaya kepada seseorang atau lawan politik, atau orang yang ditakuti atau tidak disenangi, atau pesaingnya. Untuk membangkitkan rasa iri dan menghajar lawan, mereka itu tidak jarang menghalalkan cara-cara curang untuk mencapai tujuan.

Sebagai pemimpin atau pelayan, Yesus tidak lepas dari cara-cara curang orang-orang yang tidak senang kepadaNya.  Memang Dia dikagumi oleh banyak orang karena keberpihakannya kepada orang lemah, dan juga ajaran-ajarannya yang sangat “Ces pleng”. Namun disisi lain, Ia tidak terlepas dari orang-orang yang tidak suka kepadaNya,  tidak lepas dari orang-orang yang iri, bahkan mungkin tidak lepas dari orang-orang yang cemburu. Tidak mengherankan muncul provokator-provokator yang melakukan kasak-kusuk  kepada masyarakat agar tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Muncullah issue bermacam-macam yang menudutkan Tuhan Yesus. Pendek kata Tuhan Yesus mengalami kampanye gelap. Kalau jaman Yesus tentu dari mulut ke mulut, waktu saya kecil hal itu duilakukan oleh ibu-ibu sambil petan (mencari kutu). Kalau jaman sekarang dilakukan dengan media baik media cetak atau media elektronik. Bisa juga dengan Hand phone. 

Ketika orang membaca Injil Lukas 8, Kisahnya adalah Tuhan Yesus berkelikling untuk mewartakan Kerajaan Allah dari desa ke desa dan dari kota ke kota. Ia disertai oleh kedua belas muridNya, dan beberapa wanita yang telah mengalami kesembuhan karena kuasa Allah di dalam Yesus. Ada yang dilepaskan dari roh-roh jahat dan juga bermacam-macam penyakit. Disebutkan bahwa para wanita itu adalah Maria yang disebut  Magdalena, ia dibebaskan dari tujuh setan, Yohana isteri Khuza, bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi yang lain. Wanita-wanita itu melayani seluruh rombongan dengan harta kekayaan mereka.

Orang yang tidak senang dengan Tuhan Yesus tentu mempunyai pikiran lain. Seorang teman saya yang beragama bukan Katolik pernah mengatakan kepada saya bahwa Tuhan Yesus  pernah menikah dengan Maria Magdalena yang terkenal statusnya sebagai pelacur itu.  Ada juga yang mengatakan bahwa Yesus itu Poligami, karena Ia dekat dengan banyak wanita-wanita yang mengikutiNya.  Tuhan Yesus tidak terlepas dari issue gelap yang ditaburkan oleh orang – orang yang tidak senang, terutama orang Farisi , Ahli Taurat, dan imam kepala.  Dasar ketidak senangan mereka adalah iri hati. Kita terkadang juga seperti orang-orang Farisi, lebih mementingkan iri hati dan cemburu. Ada teman yang lebih berprestasi, bukannya kita bangga dan senang tetapi malah bersedih  menjadi iri hati.  Lebih parah lagi malah menebarkan benih-benih issue yang memojokkan teman itu.  Menjelekkan orang lain, dan membenarkan diri sendiri. Seharusnya kita  bijaksana , apalagi sebagai murid Kristus. Kita harus menyadari ketika orang memusatkan pada diri sendiri, akan melupakan orang lain bahkan Tuhan, lalu muncullah kesombongan dan iri hati. Bila kita mencermati kisah di dalam Injil Lukas bab delapan tersebut, kiranya para perempuan itu mengikuti Yesus atau lebih tepatnya menyertai Tuhan Yesus dalam perjalanan, dilakukan dengan kesungguhan dan ketulusan hati, di dalam melayani. Mereka menyertai Yesus bukan untuk “ngrepoti” , tetapi bahkan membeayai dan memberikan hartanya sebagai sarana mewartakan Kerajaan Allah.  Pertanyaannya adalah mengapa para perempuan itu sampai rela berkorban seperti itu? Mungkin saja Tuhan Yesus sudah memperhatikan mereka, dikatakan ada yang disembuhkan dari sakit penyakitnya, mungkin juga karena Tuhan Yesus sudah menyentuh hati mereka, dan barangkali mereka juga merasa sudah diselamatkan hidupnya. Maka mereka dengan tulus membantu Tuhan Yesus dalam mewartakan kerajaan Allah.

Saudara sekalian, manusia memang tidak terlepas dari rasa iri hati dan cemburu, namun kita sebagai Murid kristus harus bijaksana. Janganlah iri hati dan kecemburuan itu mencelakakan orang lain, sehingga orang lain menjadi menderita karenanya.       

Y. Eko Budi Susilo, Pr.


0 Responses to “Menjadi Murid Bijaksana”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: