06
Oct
10

Menata Komisi Keuskupan

Tanggal 23 Agustus 2010 merupakan salah satu tanggal bersejarah yang patut dicatat dalam perjalanan pastoral Keuskupan Surabaya. Ditandai dengan diturunkannya surat keputusan pengangkatan Koordinator Bidang (Rumpun) oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr. kepada masing-masing romo yang didaulat untuk memimpin beberapa komisi pastoral sebagai satu rumpun, Peta Pastoral Keuskupan Surabaya pun berubah. Di Wisma Keuskupan Surabaya, Benedizione memperoleh kesempatan istimewa berjumpa dengan Vikaris Jenderal (Vikjen), Romo Dwi Joko, Pr untuk berbagi hal tersebut.

Lemahnya Koordinasi

Pengelompokan ini berangkat dari keprihatinan terhadap koordinasi antar komisi yang tidak berjalan dengan baik sebelumnya. Lemahnya koordinasi disebabkan oleh padatnya aktivitas romo Ketua Komisi yang sekaligus menjabat sebagai romo Paroki dan lokasi tempat tinggal beberapa romo Ketua Komisi yang jauh dari Surabaya. “Dalam pertemuan antar komisi, undangan seringkali tidak bisa hadir secara lengkap karena jabatan rangkap dan letak kediaman yang jauh dari Surabaya. Hal ini membuat urusan yang berkaitan dengan komisi menjadi dinomorduakan,” Vikjen menjelaskan.

Perombakan Sistem

Dalam usaha membenahi sistem koordinasi di dalam komisi, pihak kuria (Uskup, Vikjen, sekretaris dan bendahara) beserta Kantor Koordinasi Pastoral (KKP) mulai memikirkan, mengatur, dan mengupayakan kehadiran romo Ketua Komisi yang memiliki waktu penuh bekerja di Komisi. Setelah melalui proses diskusi yang intens dan mendalam, terpilihlah romo Sabas Kusnugroho, Pr. untuk menjabat sebagai Koordinator Bidang Formatio (pembinaan), romo Aloysius Agus Wijatmiko, Pr. untuk menjabat sebagai Koordinator Bidang Sumber, Romo Eko Wiyono, Pr. untuk menjabat sebagai Koordinator Bidang Kerasulan Khusus, dan Antonius Luluk Widyawan, Pr untuk menjabat sebagai Koordinator Bidang Kerasulan Umum dengan masa jabatan masing-masing selama tiga tahun.

Romo Koordinator Komisi Rumpun ini bertanggung jawab dalam pelaksanaan arah dasar Keuskupan Surabaya. “Ada banyak prioritas program yang harus dijalankan Paroki, Komisi bertanggung jawab membantu Paroki untuk mewujudkan prioritas program tersebut. Bila dulu Komisi lebih banyak mengambil alih pekerjaan-pekerjaan di Paroki maka saat ini Komisi harus mendorong Paroki untuk mengadakan aktivitas. Saat ini, Komisi akan ditarik “mundur” dan yang menjadi “ujung tombak” adalah Paroki. Komisi berfungsi sebagai pengendali proses dan program,“ Romo Vikjen menambahkan.

Lantas bagaimana dengan pengurus komisi yang lama? “Pada dasarnya yang diganti hanya Ketua Komisinya saja sehingga pengurus dan anggota yang lama akan masuk dan terlibat dalam tim di komisi tersebut. Struktur di dalam komisi dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing,” jelas romo Dwi Joko.

Romo yang telah ditunjuk tersebut tetap ditempatkan di salah satu paroki di Keuskupan Surabaya. Rm. Sabas Kusnugroho ditempatkan di Paroki St Paulus (Juanda), Rm. Aloysius Agus Wijatmiko ditempatkan di Paroki Roh Kudus (Rungkut), Rm. Eko Wiyono tetap di Paroki HKY dan Rm. Luluk Widyawan, tetap di Paroki St. Maria Annuntiata (Sidoarjo).

Meski demikian, Romo Ketua Komisi Rumpun tersebut memiliki tanggung jawab utama kepada Komisi. “Romo-romo di Paroki telah diberitahu bahwa pekerjaan utama Romo Ketua Komisi Rumpun adalah di Komisi sehingga tugas yang diterima di Paroki sifatnya hanya membantu Romo Paroki,” Vikjen menambahkan.

Ditanya tentang alasan pemilihan paroki tempat tinggal Romo Ketua Komisi Rumpun, Rm. Vikjen menjelaskan bahwa alasan utama pemilihan paroki itu adalah adanya kebutuhan untuk melakukan pelayanan yang merata, yang mampu menggerakkan lebih banyak keterlibatan umat, sehingga seluruh wilayah Keuskupan Surabaya tercover.

Segitiga Pengaman Koordinasi

Romo Ketua Komisi Rumpun akan berkantor di Kantor Koordinasi Pastoral (KKP) Keuskupan Surabaya. Secara bergantian, Romo Ketua Komisi Rumpun akan membantu masing-masing komisi yang menjadi tanggung jawabnya. Ditanya mengenai jalur koordinasi antara Komisi Rumpun dengan KKP, Romo Vikjen menjelaskan bahwa hubungannya bersifat koordinasi dan bukan struktural. Di samping membantu Vikjen selaku sekretaris eksekutif, KKP juga mengkoordinasi komisi-komisi dengan memfasilitasi (mengatur) pertemuan atau kebutuhan yang harus dibicarakan bersama oleh komisi. “Hubungannya seperti segitiga, Komisi Rumpun dapat berkonsultasi kepada Vikjen atau KKP secara langsung, tanpa perlu jalur birokrasi seperti harus menemui KKP dulu baru ke Vikjen. Begitu pula Vikjen dapat langsung memberi masukan ke Komisi Rumpun tanpa melalui KKP. KKP disini lebih berfungsi sebagai payung komisi-komisi. Mekanisme koordinasi ini dimaksudkan untuk menciptakan kerja yang lebih efektif dan efisien,” Vikjen menjelaskan.

Meretas Harapan

Romo Vikjen mewakili pihak Keuskupan Surabaya berharap perombakan koordinasi pastoral ini akan mempermudah komunikasi dan koordinasi sehingga gerakan umat akan semakin mampu mewujudkan Arah Dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019. “Dulu, keberadaan banyak komisi tanpa koordinasi yang baik membuat perjalanan arah dasar Keuskupan Surabaya terasa berat karena masing-masing komisi berjalan sendiri-sendiri sesuai dengan keinginannya masing-masing. Harapannya, pengelompokan komisi dalam Komisi Rumpun dan keberadaan Romo yang bertanggung jawab sebagai Ketua Komisi Rumpun akan membuat koordinasi menjadi lebih mudah karena antar bidang dapat saling berkomunikasi secara efektif dan efisien.

“Koordinasi ini akan membuat kerja menjadi serempak dan mudah karena semuanya berjalan seturut arah dasar ke arah yang sama. Semoga niat baik ini juga didukung oleh umat sekalian,” tutur Romo Dwi Joko, Pr. penuh harapan ketika menutup perjumpaan dengan Benedizione.

***

Profil Romo Rumpun

Romo Sabas Kusnugroho  sempat kaget saat didaulat menjadi Koordinator Komisi Rumpun Formatio yang berisi Komisi Anak, Komisi Remaja, Komisi Orang Muda, dan Komisi Keluarga.

Bagi romo kelahiran Lampung Selatan ini tugas baru ini menjadi tantangan dan peluang untuk terus belajar, mengembangkan diri, dan berproses menemukan arti imamat dalam hidupnya.

“Selama ini, saya belum pernah memegang tanggung jawab penuh atau menjadi ketua karya pastoral baik di Komisi maupun Paroki. Paling-paling saya menjadi “pembantu” sana-sini untuk kegiatan atau karya pastoral yang sifatnya temporal saja,” ujar romo yang hobi travelling ini.

Baginya, tolak ukur keberhasilan mengemban tugas bukan pada banyak atau besarnya kegiatan melainkan pada sejauh mana dirinya dan orang-orang dilayaninya dapat bertumbuh dalam iman. “Caranya adalah dengan sering saling membagikan pengalaman iman yang meneguhkan,” imbuh Romo yang sebelumnya bertugas di sebagai pastor rekan di Paroki St Yusuf Karangpilang ini.

Romo kelahiran 11 April 1973 ini juga akan melakukan up-grading dengan mengambil kesempatan pelatihan peningkatan kapasitas diri dan berkomitmen untuk total terlibat dalam gerak pastoral Keuskupan Surabaya. (*)

Romo Agus Wijatmiko bertanya-tanya, “mengapa saya yang ditunjuk?” Pertanyaan itu muncul saat dirinya ditunjuk menjadi Koordinator Komisi Rumpun Sumber yang berisi Komisi Kitab Suci, Komisi Liturgi, dan Komisi Katekese.

Usia tahbisan yang belum genap setahun dan minimnya pengalaman bergerak di dalam komisi membuat Romo kelahiran 29 Agustus 1973 ini merasa tidak layak mengemban tugas tersebut. Suatu keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan dirinya membuat Romo asli Yogyakarta ini mampu memaknai penugasan ini sebagai perutusan dari Allah melalui Bapa Uskup.

“Saya bersyukur diberi waktu yang memadai dalam peralihan tugas ini sehingga dapat melepaskan tugas-tugas di paroki dan secara perlahan masuk dalam situasi komisi,” ujar Romo yang sebelumnya bertugas sebagai pastor rekan di Paroki St Yosef Mojokerto ini.

Menurutnya, pertemuan rutin seminggu sekali dengan sesama Romo Rumpun membantu mereka menyatukan persepsi, pikiran, dan hati untuk bahu-membahu mengemban tugas baru ini. Agenda pertama Romo Agus adalah menjalin pertemanan, komunikasi dan koordinasi dengan para pengurus, relawan dan aktivis komisi yang dikoordinirnya. (*) 

Romo Eko Wiyono yang selama empat tahun menjadi koordinator Pastoral Pelayanan Mahasiswa (PPM) mengaku tidak kaget saat dirinya dipercaya menjadi Koordinator Komisi Rumpun Kerasulan Khusus yang berisi Komisi Komunikasi Sosial, Komisi Pendidikan, dan Komisi Karya Misioner.  Romo asli Blitar ini mengaku sudah sedikit-banyak mengenal seluk-beluk dan pola kerja Komisi di Keuskupan.

Ditanya tentang proses adaptasi yang harus dijalani, Romo kelahiran 14 Desember 1979 ini mengungkapkan tidak melakukan adaptasi khusus karena praktis tidak mengalami banyak perubahan dalam hal tempat tinggal dan kegiatan yang dikerjakan.

“Saya tetap tinggal di Paroki HKY dan melakukan pelayanan pastoral mahasiswa, hanya saja sekarang ada pekerjaan khusus yang membutuhkan konsentrasi,” ujarnya. Romo Eko Wiyono merasa perlu semakin tertib dalam manajemen waktu pribadi. Baginya, kehadiran dan pertemuan adalah faktor penting untuk mendekatkan dirinya dengan umat yang dilayaninya.

Agenda yang disiapkannya adalah mendorong semua pengurus, relawan dan aktivis komisi untuk terus mau belajar dan memprioritaskan Arah Dasar Keuskupan. (*)

Romo Luluk Widyawan diberi tanggung jawab sebagai  Koordinator Komisi Rumpun Kerasulan Umum yang berisi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE), Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK), Komisi Kerasulan Awam dan Sekretariat Justice and Peace.

Romo kelahiran Rembang 12 Agustus 1976 ini sebelumnya adalah pastor kepala Paroki St Maria Anunttiata Sidoarjo dan moderator Komisi PSE. 

“Menjadi Romo Paroki sekaligus menjadi Romo Komisi sungguh tidak fokus, bahkan ada perasaan terforsir. Saat saya diberitahu adanya tugas baru ini, saya senang karena masih dilibatkan,” ujar Romo yang hobi musik ini.

Romo Luluk berencana untuk membaca terlebih dulu fokus perhatian setiap Komisi, mengenal para aktivis, dan memahami program yang telah dilaksanakan sebelumnya. “Perubahan pola dimana Kevikepan dan Paroki diharapkan lebih proaktif dan Komisi berperan sebagai dinamisator plus adanya prioritas program tiap bidang, perlu dimengerti secara mendalam,” ujarnya.   

Agenda utamanya adalah menumbuhkan kebersamaan dan kesatuan hati para aktivis Komisi. Selanjutnya, memetakan situasi, mengelola kepengurusan, mempertajam program, melakukan kunjungan, dan mengatur pendanaan. (*)

Oleh : M. Ch. Reza Kartika


0 Responses to “Menata Komisi Keuskupan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: