24
Jul
10

Single Parent dengan Enam Anak

Tahun Keluarga di PHKY – umat Wilayah III

Sejak ditinggalkan sang suami pada 1995, Romana, umat Wilayah III yang tinggal di daerah Dinoyo Sekolahan Surabaya ini sendirian membesarkan anak-anaknya, yang kala itu masih butuh banyak kasih sayang.

“Saya bertekad tidak akan menyerah. Saya memang sedih sekali dan merasa kehilangan separuh jiwa saya, waktu suami meninggal. Tapi anak-anak masih kecil dan saya tidak boleh terus-terusan sedih. Saya harus bekerja untuk menghidupi anak-anak,” ujar Romana.

Sejak saat itu Romana bekerja apa saja asal halal. Sekarang ia bekerja di griya Opus Dei jalan WR Supratman 65 Surabaya bagian rumah tangga.

Peran ganda yang diembannya tidak membuatnya lalai akan kehidupan imannya. Setelah anak-anak beranjak dewasa, tugas Romana hanya tinggal mengingatkan anak-anaknya akan pentingnya berdoa bersama. Dirinya sendiri masih aktif di kegiatan Lingkungan dan Legio Maria Stella Maris.

“Saya punya kebiasaan doa rosario tepat jam 12 malam. Dalam doa itu saya menyampaikan permohonan dan memasrahkan hidup saya pada rencana Allah. Banyak manfaat saya rasakan dari kebiasaan itu. Rasanya saya jadi lebih tegar dan tabah menjalani hidup,” imbuhnya.

Ibu yang mengaku cintanya pada sang suami tak tergantikan ini ingin agar anak-anaknya mencari jodoh yang seiman. “Anak-anak saya harus hidup lebih baik dari saya,” katanya. Kehadiran cucu semata wayang semakin membuat hidupnya makin bahagia. Keenam anaknya, Margaretha Noviana, Devrina Debliana, Frensiana Nita Niku, Yumarti Falentina Niku, Fransiscus Waluh (foto kiri atas) dan Yulus kini sedang meniti hidup meraih kebahagiaan sejati dengan bekal kasih sayang yang diberikan sejak kecil oleh Romana, mama mereka.

Tahun Keluarga di PHKY – umat Wilayah VI

Doa adalah Nafas Hidup

Rafael Jehurung adalah seorang guru dan petugas tata tertib (Tatib) gereja. Ia menikah dengan Wiwik Setyarahayu selama 15 tahun dan hingga kini belum dikaruniai anak.

Saat ditanya tentang kehidupan doa dalam keluarga, Rafael mengaku kerap berdoa bersama saat ulang tahun mereka masing-masing. Ia sendiri memilih rutin mengikuti misa tiap Jumat, Sabtu dan Minggu, di luar tugasnya sebagai tatib.

Meski belum dikaruniai anak, Rafael tidak terlalu gusar. “Bagi kami prinsip menikah adalah menjadi teman hidup bagi pasangan. Selama kami memakai pedoman itu, saya percaya Tuhan punya rencana pada hidup saya. Saya dan istri terus saling menguatkan dalam iman dan saling mengingatkan untuk terus bersyukur,” ujar umat Wilayah VI yang tinggal di daerah Pandegiling Surabaya ini.

Pria yang kerap didaulat menjadi pemberi renungan dalam Doa Lingkungan ini mengaku mendapat banyak berkat dalam setiap pelayanannya. “Saya bukan seminaris, tapi dipercaya umat Lingkungan memberi renungan. Saya juga sering pergi ziarah tanpa keluar biaya. Ini semua saya dapatkan dari kebaikan hati saudara-saudara seiman. Rasanya benar yang dikatakan orang-orang : semakin aktif melayani, semakin banyak berkat,” ujarnya sambil tersenyum.

Pria ini menganggap doa adalah nafas hidup. Tanpa nafas, hidup tak ada artinya. Lewat doa-doa dalam keluarga itulah, ia merasakan ketenangan dalam hidup dan keyakinan akan kuasa Allah.

Meski kadang terpikir untuk mengadopsi anak, Rafael -dalam doanya- selalu memohon pada Tuhan agar ia dan istrinya dikarunia anak, sesuatu yang telah lama ia dambakan.

Daniel/Yudhit


0 Responses to “Single Parent dengan Enam Anak”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: