24
Jul
10

Rosario Hidup

Penutupan Bulan Maria – Mei 2010

Bulan Mei, dalam tradisi Gereja Katolik, tidak dapat dipisahkan dari figur Bunda Maria dengan sikapnya yang rendah hati. Kerendahan hati tercermin dari sikapnya yang tidak banyak mengumbar kata, namun lebih banyak menyimpan segala perkara dalam hati untuk direnungkan dan dipergumulkan dengan Tuhan.

Dalam penutupan bulan Maria tahun ini PHKY menyelenggarakan doa rosario hidup di gereja, Senin (31/5) lalu. Acara yang diprakarsai oleh WKRI (Wanita Katolik RI) ini digelar seusai misa harian pukul 18.

Semula acara ini mau melibatkan lima sekolah dasar Katolik (SDK). Tetapi karena keterbatasan waktu maka hanya murid-murid SDK Karitas 1 yang dapat merealisasikan acara tersebut. Sebanyak 60 anak (yang menggambarkan jumlah butir-butir Rosario), membentuk lingkaran mirip rosario di altar. Masing-masing anak berperan dan mendoakan satu butir manik dari rosario secara bergantian.

Berperan sebagai “salib” di sebuah rosario, -tentu saja sambil membawa salib- seorang anak berdoa “Aku Percaya”. Begitu seterusnya disambung yang lainnya berdoa “Bapa kami” kemudian tiga kali doa “Salam Maria” hingga puluhan kelima dari rosario. Sebelum doa Bapa Kami, mereka membacakan renungan singkat peristiwa demi peristiwa, yang pada malam hari itu membawakan Peristiwa Gembira.

Dengan mengenakan seragam indah warna-warni yang membedakan puluhan satu dengan puluhan yang lain, rosario hidup itu tampak memikat.

Melalui wawancara singkat, Asisia Pastirahayu sebagai guru agama sekaligus pembina mereka mengungkapkan bahwa Rosario hidup itu sebenarnya hanya sebuah istilah. Melalui acara ini selain melatih keberanian juga mau membiasakan anak-anak untuk mencintai doa Rosario. Meskipun waktu latihan sangat singkat (hanya pada waktu pelajaran Katolisitas), namun mereka berhasil membawa suasana doa malam hari itu menjadi khusuk. Sejak gladi resik hingga hari-H, romo Eko Wiyono setia mendampingi mereka, itu salah satu yang membuat mereka selalu bersemangat.

Namun dengan berakhirnya bulan Maria bukan lalu berakhir pula doa Rosario kita. Mari kita mencintai Maria dengan mencintai rosarionya, serta belajar darinya tentang kerendahan hati. Karena sering tanpa sadar pada saat kita bercerita mengenai anak, keluarga, studi, pekerjaan ataupun bahkan pelayanan, kita melakukannya dengan hati yang sarat kesombongan serta lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan semua keberhasilan itu. Semoga kerendahan hati “Maria” dapat selalu tercermin dari ucapan dan sikap hidup kita sehari hari. (*)

Oleh: Rindang Respati


0 Responses to “Rosario Hidup”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: