24
Jul
10

Penolong Yang Setia

“Tuhan membuka mata orang-orang buta,…” (Mzm. 146 : 8)

Pada April 2008, saya ditugaskan oleh kantor pusat di Jakarta untuk bekerja di Surabaya. Tugas ini saya syukuri sebagai bentuk rahmat Tuhan, lewat doa kepada St. Bridget yang saya tekuni selama 4 (empat) tahun tanpa putus. Seakan Tuhan mengatur segalanya, karena kemudian ternyata anak saya pun diterima bersekolah di SMAK St. Louis I Surabaya. Di Surabaya kami tinggal di rumah kerabat, dekat Gereja Katedral.

Suatu saat timbullah keinginan untuk mengikuti misa harian pukul 18.00 di Gereja Katedral. Saat itu saya tahu bahwa di Gereja ada kapel Adorasi, yang dibuka 24 jam setiap hari. Padahal di kota saya Pasuruan, Adorasi hanya dapat dijumpai pada hari tertentu, misalnya pada Jumat Pertama. Itu pun hanya seperempat jam saja. Atau pada Tuguran Kamis Putih, sebelum Paskah.

Maka terjadilah demikian, kegiatan rohani saya meningkat. Saya beradorasi mulai September 2008, rutin setiap hari. Saya percaya bahwa Yesus hadir nyata dan seutuhnya dalam Sakramen Mahakudus di atas altar.

Banyak masalah yang saya utarakan dalam doa. Juga masalah kesehatan. Kata dokter saya harus menjalani operasi mata katarak, karena penglihatan saya semakin kabur. Tapi karena sesuatu hal, operasi itu belum bisa dilaksanakan. Saya terus mohon kepada Tuhan Yesus dalam adorasi, agar diberi jalan keluar yang terbaik.

Sekitar 8 (delapan) bulan kemudian, saya merasa ada keanehan dengan mata saya. Ternyata penglihatan saya berangsur-angsur membaik. Obyek penglihatan yang sebelumnya terasa kabur, sekarang terlihat jelas.

Saya benar-benar bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan atas rahmatNya ini.

FirmanNya mengatakan : “Tuhan membuka mata orang-orang buta, Tuhan menegakkan orang yang tertunduk, Tuhan mengasihi orang-orang benar.” (Mzm. 146 : 8)

Sementara itu saya masih terus melakukan kegiatan pelayanan sebagai pembina Mudika, misdinar, dan KKMK (Kumpulan Karyawan Muda Katolik) di paroki St. Antonius Padua, Pasuruan sebulan sekali. Karena itu setiap Sabtu sore saya pulang ke Pasuruan, minggu sore baru kembali ke Surabaya. Kegiatan ini sudah saya lakukan sejak 8 (delapan) tahun yang lalu. Dalam pelayanan itu banyak sekali rahmat dan pengalaman jamahan kasih Yesus yang saya terima.

Saya senang dapat melayani anak-anak, meski banyak tantangan yang harus saya hadapi. Namun satu hal yang kemudian saya dapatkan, bahwa dalam melayani, saya harus tulus, percaya dan selalu berserah diri kepada Tuhan. Tidak boleh punya pikiran untuk memegahkan diri, tetapi harus tetap rendah hati.

Saya senantiasa berpegang pada Firman Tuhan yang terdapat dalam Mazmur. 37:5, : “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah, maka Ia akan bertindak.” Saya yakin bahwa semua ini dapat saya lakukan, hanya karena Roh Allah yang telah memampukan dan menguatkan saya. Tanpa Roh kudus itu, saya tak berdaya sedikit pun.

Demikian kesaksian saya, semoga boleh membawa berkat bagi pembaca sekalian. (*)

Stevanus Hartanto


0 Responses to “Penolong Yang Setia”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: