24
Jul
10

Pendidikan dan Kesehatan ; Karya Awal Umat Katolik

Ensiklik Rerum Novarum Mei 1891 menegaskan , Gereja Katolik berhak berbicara mengenai masalah-masalah sosial. Karena, persoalan sosial yang mempengaruhi agama dan moralitas. (ASG- seri PSE no. 10- th. 2008)

Bagi bangsa Indonesia, membangun bangsa artinya membangun manusia seutuhnya untuk kepentingan semua warga negara dan berlaku di seluruh wilayah Indonesia, yaitu mengadakan pembangunan fisik (seperti pembangunan jalan, jembatan, kantor, pasar, gedung sekolah, gereja, mesjid, rumah sakit, dsb), juga pembangunan moral bangsa (seperti pendidikan agama, budi pekerti, pengajaran di sekolah, pengenalan dan pengamalan Pancasila, dsb). Sebelum dan selama perjuangan untuk mencapai kemerdekaan -bahkan sampai saat kini- pimpinan gereja dan umat Katolik sudah banyak berperan aktif di berbagai bidang.

Menurut sensus tahun 1930 jumlah penduduk Indonesia ada sekitar 60 juta jiwa. Tahun1973 jumlahnya menjadi 126,1 juta jiwa, berarti selama 43 tahun ada pertambahan penduduk sebanyak 66,1 juta jiwa. Dan jika di tahun 2007 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 220 juta jiwa, berarti selama 34 tahun ada penambahan sebesar 93,9 juta jiwa. Penambahan jumlah penduduk inilah yang menyebabkan kita wajib dan harus berperan aktif sebisanya mengisi hasil kemerdekaan itu karena masalah yang dihadapi tentu semakin banyak. Adanya pertambahan penduduk ini berarti angka kelahiran lebih tinggi dari pada angka kematian. Apakah ini pertanda bahwa kesejahteraan warga bangsa sudah membaik?

Umat Katolik, organisasi Katolik, rohaniawan/wati Katolik dan juga para pemimpin Gereja yang selama ini telah membaktikan dirinya untuk kepentingan bangsa di bidang pelayanan sosial lewat kegiatan pendidikan, kesehatan serta kegiatan sosial lainnya adalah sebuah pilihan yang sangat tepat  Ini perlu diteruskan dan ditingkatkan  (ASG. Pacem In Terris : “Orang-orang Katolik harus mengambil bagian secara aktif bagi kehidupan masyarakat, dan menyumbang  demi pencapaian demi kesejahteraan umum segenap keluarga manusia maupun masyarakat politis mereka sendiri “.

Sejumlah karya di masa lalu

Tahun 1923 adalah awal kehadiran para pastor Congregasi Misi (CM) di Jawa Timur yang selanjutnya disebut Keuskupan Surabaya. Para romo inilah yang memulai aktivitasnya untuk sebuah karya pendidikan. Pertanyaan berikutnya adalah “Kapan para awam memulai peran sertanya untuk kemajuan membangun bangsa?”. Sejak tahun 1929 orang Katolik Jawa sudah mulai mendirikan organisasi-organisasi seperti Perkumpulan Politik Katolik Jawa, Wanita Katolik, dan Katolik Wandawa.

Di masa-masa itu berdiri “de Katholieke Onderwyzer Bond”, yang bergerak di bidang pendidikan. Ada juga perkumpulan ibu-ibu St. Melania yang memberikan pendidikan untuk anak-anak putri pribumi. Mereka mendirikan sekolah untuk putri dan juga klinik. Dalam bidang kegiatan sosial karitatif muncul perkumpulan ibu-ibu santa Anna. Sedang bapak-bapak tidak mau ketinggalan, mereka membentuk perkumpulan St. Vincentius. Langkah-langkah kecil inilah yang seharusnya kita teruskan dan kita tingkatkan seirama dengan perkembangan budaya dan kemajuan teknologi masa kini.

Kita meneruskan dengan karya lain

Jelas bahwa umat katolik Indonesia (khususnya di keuskupan Surabaya ) sudah lama berkiprah turut membangun bangsa dengan cara sesuai kemampuan dalam situasional saat itu. Kini, apa yang sudah di mulai pantas dan harus diteruskan.

Di bidang pendidikan sudah tak dapat disangkal lagi bahwa peran umat sangat tinggi. Banyaknya lembaga pendidikan Katolik di semua tingkat membuktikan peran itu. Hasilnya pun tidak diragukan, peminat tambah banyak bahkan terkadang sempat menolak calon siswa. Hanya sayang, sekolah-sekolah di luar Surabaya masih banyak yang memerlukan uluran tangan kita untuk meningkatkan kualitasnya.

Dalam bidang kesehatan dan pelayanan medis, umat Katolik tak kalah aktif. Hampir di setiap paroki ada pelayanan kesehatan untuk umat dan warga masyarakat di sekitarnya. Ini perlu diapresiasi. Tentang hadirnya karya sosial, baik yang karitatif maupun yang ekonomis produktif juga tak dapat diabaikan. Yayasan-yayasan Katolik masih beroperasi dan beraktivitas dengan baik. Belum lagi adanya yayasan non-Katolik yang ditangani oleh orang Katolik. Semua karya-karya itu adalah sebuah sumbangan umat untuk pembangunan bangsa sesuai dengan visi, misi dan talentanya.

Perkumpulan-perkumpulan gerejani  juga tumbuh di mana-mana dan mendapat sambutan umat. Dan yang juga patut diperhatikan adalah banyaknya umat yang aktif sebagai pejabat publik mulai tingkat Rukun Tetangga (RT) sampai pemerintah kota/kabupaten. Mereka semua berkiprah maksimal turut membangun bangsa dengan menunjukkan sikap keteladanan yang merupakan intin ajaran Katolik yaitu melayani dengan kasih.

Mari terus berkarya dan mengabdi bagi bangsa, demi semakin besarnya kemuliaan Allah. (*)

Oleh : C. Soemijodo Hadidjojo

(Mantan Anggota Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Surabaya)


0 Responses to “Pendidikan dan Kesehatan ; Karya Awal Umat Katolik”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: