24
Jul
10

Bukan Sekedar Membaca Tapi Membacakan Firman Tuhan

Tim Lektor PHKY Surabaya

Lektor adalah petugas gereja yang punya peran penting dalam setiap perayaan Ekaristi. Agar umat mendapat pemahaman tentang tugas seorang lektor, BENEDIZIONE menjumpai Tim Lektor PHKY untuk berbincang. Berikut laporannya.

Tugas utama lektor adalah membawakan firman Tuhan dan doa umat. Sementara tugas minornya adalah membacakan ucapan selamat datang kepada umat dan membacakan pengumuman. Untuk Ekaristi di hari-hari besar minimal ada dua sampai tiga lektor. Sedangkan untuk Ekaristi Minggu biasa hanya satu orang lektor.

“Tidak ada aturan resmi untuk menjadi seorang lektor. Yang diperlukan hanya disiplin, kesungguhan hati, komitmen, kualitas vokal, kematangan pribadi (mental, proaktif) dan penjiwaan,” tegas Maria Penny, koordinator Tim Lektor PHKY di gereja (8/5) lalu.

Tim Lektor PHKY sudah mengadakan tiga kali pelatihan dalam tiga tahun. “Agar optimal dalam setiap tugas pelayanan,” terang Penny. Selama ini lektor dicari dan direkrut dari enam Wilayah di PHKY. “Tapi kurang direspon dengan baik. Penyebabnya bisa apa saja, mungkin malu, takut atau kurang paham tugas lektor,” sambung Penny.

Selama ini, lektor yang bertugas di PHKY adalah umat dari berbagai paroki di Surabaya. Total jumlah anggota Tim Lektor PHKY adalah 49 orang terdiri dari 8 lektor putra dan 41 lektor putri.

Menurut Penny, masih ada hal-hal prinsip yang perlu dibenahi di dalam tim. Untuk lektor muda masih sering meremehkan tanggung jawab dan kurang disiplin. Untuk lektor dari generasi tua kurang memberi kesempatan pada yang muda.

Untuk makin meningkatkan kualitas, Penny bertekad untuk terus menjaga kekompakan tim serta merekrut lektor baru lintas paroki dari kalangan orang muda. Demi kelancaran tugas, koordinator menyusun jadwal sesuai dengan keputusan dan kesepakatan bersama. Dalam tugasnya, koordinator utama dibantu oleh koordinator mingguan yang bertugas melatih, menyiapkan materi, menyiapkan konsep, dan memonitor tugas setiap minggu. “Yang penting kerjasama agar semuanya lancar, kata Penny.

Menjadi lektor yang baik

Lektor bukanlah seseorang yang sekedar “membaca” sebuah tulisan, melainkan “membacakan” firman Tuhan agar dimengerti dan dihayati oleh umat. Jika “membaca” hanya diperuntukkan bagi diri sendiri, maka “membacakan” berarti mengajak orang lain untuk ikut mendengarkan dengan khidmat. Untuk mencapai penghayatan dalam bertugas, seorang lektor perlu mempersiapkan diri dengan hal-hal sebagai berikut.

Pertama, lektor wajib mempersiapkan diri dan batin (serius dan penuh iman) dengan membaca bacaan yang akan dibacakan minimal satu hari sebelumnya. Kedua, berlatih dan membuat tanda-tanda jeda pada kalimat-kalimat dalam bacaan agar firman disampaikan jelas dan tepat. Ketiga, lektor diharapkan punya kalender liturgi dan renungan harian pribadi sebagai pegangan penguasaan materi bacaan dalam tugas. Keempat, lektor harus percaya diri dengan memakai pakaian yang pantas seusai dengan ketentuan yang diatur dan berpenampilan sewajarnya.

Dalam praktek pembacaan juga ada hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut. (1) Kelancaran membaca. Ini bisa dipersiapkan dengan membaca dan melafalkan bacaan berulang-ulang. (2) Kejelasan artikulasi. Ini sangat dipengaruhi oleh cara membuka mulut, (3) Frashering atau jeda pernafasan. Ini bisa dibangun dengan mencari penggalan yang tepat dan kemudian memberi tanda. (4) Aksentuasi atau pemberian tekanan, dapat dilakukan setelah ditemukan bagian yang penting yang perlu dipertajam, (5) Tempo atau kecepatan baca, harus diukur agar membantu pendengar dan membantu pembacaan. (6) Irama, mesti disesuaikan terutama dengan bentuk kalimat-kalimat berita, kalimat seru, kalimat tanya dsb. (7) Volume suara, menyesuaikan dengan luas ruangan dan jumlah pendengar. (8) Komunikasi dengan pendengar, diperlukan karena peran lektor adalah “membacakan” dan bukan sekedar “membaca” untuk diri sendiri. Ini bisa mencakup arah hadap, jangkauan pandangan dan kontak mata. (9) Gestur atau gerak-gerik dan penampilan yang mendukung kewibawaan sabda Tuhan yang dibawakan. Lektor tidak tampil untuk membawakan diri sendiri. Perlu dicermati cara kita berjalan, berlutut, berdiri, memandang, berpakaian, bermake-up dsb. (*)

Oleh: Fransiskus Anggu


0 Responses to “Bukan Sekedar Membaca Tapi Membacakan Firman Tuhan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: