24
Jul
10

Berbakti dengan Kasih

Inspirasi dari tokoh-tokoh Katolik Indonesia

Telah sejak lama umat Katolik berperan bagi bangsa. Meski tidak banyak (mengingat jumlah pemeluk Katolik yang juga tidak banyak), namun peran mereka cukup memberi warna dan membawa perubahan bagi tata kehidupan berbangsa bernegara.

Kata “perubahan” perlu digarisbawahi di sini karena memang itulah yang menjadi tujuan dari seluruh usaha dan perjuangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh ini.

Lewat berbagai bidang, tokoh-tokoh ini tidak hanya menyumbang keahlian dan kemampuan, tapi mendedikasikan dan mendarmabaktikan hidupnya bagi kebaikan bersama. Kompetensi yang mereka miliki diabdikan bagi meningkatnya harkat dan martabat manusia Indonesia.

Yang menjadi kekhasan mereka tentu saja adalah nilai-nilai kekatolikan dalam berkarya ; jujur, tekun, total dan berlimpah kasih.

Generasi masa kini pantas berterima kasih pada tokoh-tokoh ini atas inspirasi hidup yang mereka sumbangkan. Dengan inspirasi ini, generasi masa kini wajib meneruskan apa yang sudah mereka rintis untuk berperan bagi bangsa. Untuk berbakti dengan kasih.

I.J. Kasimo, tokoh politik

Sebagai pendiri Partai Katolik di era Orde Lama, Ignatius Joseph Kasimo, kelahiran Yogyakarta, turut mewarnai percaturan politik waktu itu dengan keberanian dan ketegasan sikap.

Sebagai anggota parlemen (dulu disebut Volksraad), Kasimo turut dalam perumusan dasar negara. Mentornya dalam berpolitik adalah Uskup Soegiyopranoto yang terkenal dengan slogannya “100% Indonesia, 100% Katolik”.

Yang banyak dikenang dari Kasimo adalah persahabatannya dengan M. Natsir, seorang tokoh muslim, yang dekat dengan Soekarno-Hatta. Meski kerap berdebat dalam sidang-sidang parlemen, dua tokoh ini bersahabat kental. Persahabatan itu tidak hanya menggambarkan kebesaran hati dua tokoh politik, tapi juga kebesaran hati dua tokoh agama.

Di tengah krisis negarawan (orang yang lebih memikirkan nasib negara dan bangsanya daripada urusan pribadi dan golongannya) dewasa ini, figur I.J. Kasimo kembali diajukan sebagai teladan.

I.J. Kasimo mengabdi sejak 1931 hingga wafat pada 1986. Sampai sekarang, setiap kali topik politik dibica rakan di kalangan umat Katolik, nama I.J. Kasimo selalu disebut.

Frans Seda, tokoh pemerintahan

Frans Seda disebut sebagai tokoh tiga jaman. Frans Seda menjabat menteri di dua era presiden yang yaitu Soekarno dan Soeharto. Di masa reformasi, gagasan dan pemikiran Frans Seda masih menjadi rujukan penting para pelaku politik dan ekonomi. Yang istimewa, Frans Seda adalah tokoh Katolik dari Indonesia timur. Asal daerahnya (Sikka, Nusa tenggara Timur) yang kerap diasumsikan sebagai daerah tertinggal ternyata menghasilkan seorang kader Katolik yang cakap, terampil dan bijaksana.

Sejak kecil, ia adalah seorang pekerja keras. Saat merantau ke Muntilan selepas SD, ia sekolah SMP sambil bekerja serabutan. Keuletan, kerja keras dan kejujurannya membawa ia kuliah di Belanda dan terjun ke politik, sampai akhirnya menjadi menteri. Sebelum pensiun, ia menjadi duta besar di beberapa negara dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.

Pendiri sekaligus pengurus Yayasan dan Universitas Katolik Atma Jaya ini pernah menjadi anggota komisi kepausan Isutitia et Pax (Keadilan dan Perdamaian) diangkat oleh Paus Yohannes Paulus II, 1984.

Fransiscus Xaverius Seda meninggal dunia 31 Desember 2009, sehari setelah Gus Dur (Abdurrahman Wahid) meninggal. Saat itu, seluruh bangsa berduka karena kehilangan dua anak bangsa yang besar jasanya bagi kemajuan bangsa.

J.B. Mangunwijaya, tokoh kemanusiaan

Tokoh yang wafat pada 10 Februari 1999 ini lebih dikenal sebagai tokoh kemanusiaan daripada sebagai pastor. Ya, romo Mangun makin memantapkan pengabdiannya dengan memilih tinggal di luar pastoran, tepatnya di kampung Kali Code Yogyakarta.

Dalam pidatonya saat menerima “Hadiah Ruth dan Ralph Erskine” di Swedia, Februari 1996, romo Mangun mengatakan, “Aku hendak menyingkir untuk mencari jalan baru supaya aku dapat mengabdikan diri kepada sebagian besar bangsaku. Dengan cara itu aku akan mendatangi orang-orang papa di tempat yang paling hitam di Yogya. Lebih-lebih supaya aku dapat senasib dan sepenanggungan dengan mereka.”

Romo Mangun adalah tokoh yang lengkap. Ia adalah arsitek, intelektual, budayawan, novelis dan pejuang kemanusiaan. Ratusan buku dengan ratusan topik ia tulis sebagai sumbangsih bagi bangsa. Saat meninggal, romo Mangun sedang menjadi narasumber untuk sebuh seminar pendidikan dasar, sebuah topik yang digelutinya bertahun-tahun. Peninggalannya yang penting di dunia pendidikan adalah SD Mangunan dan lembaga Dinamika Edukasi Dasar (DED).

Alan Budi Kusuma dan Susi Susanti, tokoh olahragawan

Saat ini semua pebulu-tangkis muda Indonesia sangat menginginkan bisa meniru prestasi pasutri Alan dan Susi. Dua medali emas disumbangkan pasutri ini di Olimpiade Atalanta 1996 masing-masing dari nomor tunggal putra dan tunggal putri.

Sebagai atlet, prestasi mereka mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Hal itu didapat dari latihan tekun bertahun-tahun. Di luar lapangan, pasutri ini juga dikenal bersahaja dan sederhana.

Setelah mencapai puncak prestasi, pasutri umat Paroki Salib Suci Jakarta Utara ini masih mengabdikan hidupnya untuk kemajuan olahraga bulutangkis. Mereka mendirikan pusat pelatihan bulutangkis dan memproduksi raket merk lokal buatan home industry.

Butet Kertaredjasa, tokoh seniman

Ia dijuluki “Raja Monolog” karena kerap mementaskan monolog (pentas teater dengan satu pemain tunggal). Dunia teater digelutinya sejak belia dan hasil yang diraihnya sekarang adalah hasil dari dedikasi dan kecintaannya pada pekerjaan.

Yang membedakan Butet dengan aktor teater lainnya adalah sikapnya yang kritis dan nakal. Ia menjadi terkenal karena keahliannya meniru suara pejabat, antara lain Harmoko, Soeharto, dan Habibie. Suara dan gaya tiruan yang bernada olok-olok itu ia pertontonkan dalam pementasan teater atau monolog. Maka, setiap pertunjukan dan pementasan teater yang dibintangi Butet dijubeli pengunjung. Peniruan suara tokoh pejabat tertentu, yang dilakukannya dengan hampir sempurna, membuat banyak penonton tertawa geli.

Bersama adiknya, Djaduk Ferianto, Butet banyak membantu lembaga-lembaga sosial yang ingin menggunakan keahliannya berteater dalam menyampaikan kampanye dengan topik-topik seputar sosial dan kemanusiaan.

Berbakti dengan kasih

Tokoh-tokoh yang ditampilkan ini hanya mewakili beberapa tokoh Katolik (baik yang sudah mangkat maupun yang masih berkarya) yang mengabdikan dirinya demi kebaikan bersama.

Jangan dilupakan juga tokoh-tokoh Katolik di sekitar kita. Mereka mungkin “hanya” menjadi Ketua RW, Lurah atau Camat. Mereka dapat kita jumpai sebagai polisi, tentara, guru, dokter, wartawan dan beragam profesi lainnya. Mereka dapat kita kenali dari sifat-sifatnya yang khas orang Katolik ; kerendahan hati, kejujuran, berprinsip teguh dan ikhlas melayani.

Maka, berperan bagi bangsa dapat dimaknai secara sederhana dengan melakukan yang terbaik di setiap bidang dan pekerjaan yang kita geluti. Dengan melakukannya secara total, kita sesungguhnya sedang berupaya mewujudkan Kerajaan Allah lewat “prestasi-prestasi kecil” yang pada akhirnya membentuk sebuah mozaik besar yang bernama “kebaikan dan kesejahteraan bersama” (bonnum commune).

Yudhit Ciphardian


0 Responses to “Berbakti dengan Kasih”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: