10
Apr
10

“Vampire” di Gereja HKY

Vampire dalam film adalah makhluk jejadian penghisap darah yang keluar sarang waktu malam. Waktu siang mereka bersembunyi dari sengatan matahari. “Vampire” yang dijumpai Minggu (7/3) siang itu di aula SMPK St Katarina jalan Mojopahit 38, juga menghisap darah tapi untuk kepentingan kemanusiaan. “Vampire” ini adalah petugas Palang Merah Indonesia (PMI) dalam kegiatan donor darah rutin PHKY.

Kegiatan donor darah di Paroki HKY sudah berlangsung lama. Menurut Sudarti Tjan, Ketua Wilayah VI kegiatan ini semula murni dari Wilayahnya yang diikuti oleh pendonor aktif 70 orang. Dalam perkembangannya DPP menaruh perhatian dan akhirnya diselenggarakan rutin oleh Paroki.

Selain untuk memenuhi kebutuhan darah bagi PMI dan masyarakat yang membutuhkan, kegiatan ini juga dapat menumbuhkan solidaritas dan kepekaan sosial umat. Setiap 3 bulan, kegiatan ini membutuhkan dana sekitar 750 ribu rupiah untuk konsumsi dan transport.

Panitia kali adalah ibu-ibu Sie Sosial Wilayah VI dibantu oleh Wanita Katolik RI (WKRI) cabang HKY. Jumlah pendonor yang terdaftar sebanyak 63 orang.

Kebanyakan pendonor adalah pendonor rutin yang telah lebih dari 10 kali. Misalnya frater Rachmat Jatmiko (32) mengaku sudah donor sejak 1996, lebih dari 25 kali dan ingin bisa rutin donor di mana pun berada.

Tampak dalam kegiatan ini romo Eko Budi Susilo yang juga pendonor aktif. “Saya rutin donor agar sirkulasi darah lancar dan badan sehat. Selain itu bisa membantu orang yang butuh darah,” ujar romo Eko Budi.

Salah seorang pendonor Johanes Istiadji umat Wilayah II tercatat sudah hampir 50 kali donor sejak 1996. Ia bercerita ketika pertama kali donor sempat dimarahi orangtua mengingat usianya masih muda. Kini ia tidak pernah ketinggalan donor tiap 3 bulan. Saat donor ke-25, ia mendapat piagam penghargaan dari PMI. “Saya tidak mengejar piagam, saya hanya ingin menyumbangkan darah,” ujarnya.

Dr. Lusi Hernawati, dokter PMI yang dijumpai di sela-sela kegiatan menerangkan syarat-syarat sebagai pendonor antara lain usia minimal 17 th dan maksimal 65 th, dalam keadaan sehat dan tekanan darah normal. Darah yang diambil setiap orang adalah 350 cc untuk semua golongan darah.

Saat ditanya kendala dalam pelaksanaan donor darah umum seperti ini, dr. Lusi mengaku sering menjumpai pendonor pemula yang takut berlebihan dan mengalami pusing, pingsan sebagai efek pengambilan darah. Kendala lain misalnya pendonor yang tidak dalam keadaaan sehat atau belum makan pagi. “Untuk kondisi seperti itu biasanya kami menyarankan mereka untuk kembali lagi satu jam kemudian agar lebih fresh dan siap,” ujar dr. Lusi.

Bagi mereka yang belum pernah sama sekali, syarat donor cukup enteng yaitu mengisi formulir tentang data diri dan data kesehatan, mengisi kuisioner tentang sejarah penyakit, dilanjutkan dengan pemeriksaan tekanan darah dan pengambilan sampel darah untuk penggolongan dan pemeriksaan kemungkinan terjangkitnya penyakit.

Salah satu aksi sosial yang tidak merepotkan adalah donor darah. Sambil beramal, kesehatan Anda juga akan terjaga. Maka, mari menyumbangkan darah. (*)

Eag. Dwi Irawan


0 Responses to ““Vampire” di Gereja HKY”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: