10
Apr
10

Sikap Melayani Demi Kesejahteraan Bersama

Ketika saya mau menulis renungan ini, sedang berlangsung Sidang Paripurna DPR terkait kasus Bank Century. Kebijakan bail-out (dana talangan) dari pemerintah kepada Bank Century merupakan pelanggaran atau merupakan tindakan yang seharusnya dilakukan (tidak ada masalah), menjadi fokus sidang saat itu. Pengambilan keputusan dalam sidang paripurna ini setelah mendengarkan laporan dari pansus angket Bank Century. Setelah diambil keputusan melalui voting, maka diputuskan bahwa kebijakan bailout Bank Century merupakan penyimpangan.

Terlepas dari hal tersebut di atas, sidang yang diwarnai dengan kericuhan dan suara “saur manuk”(tak beraturan) itu memperlihatkan kurangnya pengelolaan emosi dan juga retorika kosong yang ujung-ujungnya hanya mau menunjukkan citra partai masing-masing. Dengan kata lain saya mau mengatakan bahwa bukan rakyat yang diwakili, bukan suara rakyat yang disuarakan, tetapi fraksi atau partainyalah yang disuarakan. Saya berfikir, membahas soal kebenaran, sampai ada voting di lembaga legislatif. Ada dua orang yang tidak bisa menipu suara hatinya dalam mengungkapkan kebenaran, yaitu Lily Wahid (Adik almarhum Gus Dur) dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Kurdi Mukri dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Untuk yang lainnya saya kira hanyalah “pion-pion” dari fraksi atau partainya.

Tentu kita masih ingat, ketika memilih mereka, kita berharap bahwa mereka nantinya bisa bekerja dan berjuang demi kepentingan rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepada wakil-wakilnya. Tujuan dan harapan rakyat adalah terjadinya kesejahteraan bersama, bukan kesejahteraan pribadi dan golongan. Maka sebenarnya para wakil rakyat yang sering disebut sebagai Anggota Dewan yang terhormat itu, haruslah mempunyai semangat atau spirit melayani. Mereka adalah abdi rakyat seperti halnya para pejabat pemerintahan yang lain yang juga sering menyebut diri sebagai abdi rakyat. Namun bila kita melihat peristiwa sidang paripurna, dan mungkin juga kenyataan sehari-hari yang kita lihat di dalam kehidupan masyarakat kita, banyak abdi rakyat yang gagal menjadi pelayan bagi kepentingan umum. Barangkali tidak terlalu salah kalau ada yang mengatakan bahwa lembaga dan kursi terhormat telah menjadi sarang perampok, dan koruptor bangsa. Dalam kondisi seperti itu sudah sewajar nya jika rakyat bernada pesimis terhadap orang-orang yang ketika kampanye menyebut diri akan menjadi abdi masyarakat.

Sikap seperti apa sebenarnya sebagai abdi masyarakat itu?? Dalam Kitab Nabi Yesaya ditunjukkan bahwa hamba Tuhan dan mengabdi masyarakat itu akan mengalami penderitaan dalam melaksanakan tugasnya (menjalani hidup perutusannya). Tetapi yang tampak sebagai penderitaan itu sebenarnya adalah kemenangan, Karena oleh sengsara dan deritanya, sekalian orang akan dibenarkan, karena ia telah menanggung orang-orang yang telah dibenarkan tersebut (Yes 53:10-13).

Apa yang dinubuatkan dalam Kitab Nubuat Yesaya tersebut akan terjadi di dalam diri Yesus sebagai utusan Allah yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Bahkan dalam pelayanan itu Yesus mengatakan akan memberikan nyawa sebagai tebusan bagi semua orang. Dialah Hamba yang akan mejadi korban pepulih (Injil Markus 10: 35- 45) Tuhan Yesus sangat menyadari bahwa jalan demi keselamatan banyak orang menuntut sikap dasar yaitu melayani. Maka Yesus sangat mengecam sikap dan perilaku serta pola kepemimpinan yang tidak mencerminkan semangat dan praktek pelayanan bagi orang lain. Para murid diajak untuk belajar dari padaNya bahwa menjadi abdi masyarakat haruslah ditandai oleh tekad dan kemauan untuk melayani, bahkan berkorban demi kepentingan banyak orang.

Memang sabda tersebut pertama-tama ditujukan kepada murid-murid Kristus, namun seharusnya juga berlaku bagi siapapun yang menjadi pelayan masyarakat.

Banyak slogan kita jumpai di kantor-kantor pemerintah, pertanyaannya adalah bagaimana mengimplementasikan slogan-slogan di kantor-kantor pemerintahan tersebut menjadi sebuah kenyataan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Sudah banyak slogan atau jargon yang baik, misalnya “Polisi mengayomi dan mengabdi masyarakat”. Tetapi apakah jargon tersebut sungguh sudah dirasakan oleh masyarakat? Di sinilah perlunya ditanamkan sikap dan gaya hidup pelayanan dan kesediaan berkorban demi kesejahteraan bersama. Melihat peristiwa sidang Paripurna DPR, ketika membahas Bank Century, dan janji-janji para wakil rakyat ketika kampanye, jalan menuju semangat dan sikap mengabdi kepada masyarakat masih jauh. Masih banyak orang yang takut kursi yang empuk dan jabatannya terlepas dari kehidupannya, meski itu harus mengkhianati hati nuraninya.

Murid-murid Kristus yang menjadi pejabat publik tentunya akan melaksanakan tugas dengan semangat ajaran Kristus. Kita sebagai murid-murid Kristus berusaha menghadirkanNya dengan selalu siap melayani tanpa pamrih, bukan demi kursi dan jabatan. Semangat pelayanan dan pengorbanan yang konsisten, niscaya akan membawa masyarakat sejahtera. (*)

Rm Eko Budi Susilo, Pr.


0 Responses to “Sikap Melayani Demi Kesejahteraan Bersama”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: