10
Apr
10

Pengelolaan Keuangan Sebagai Bentuk Solidaritas

Pelatihan Keuangan Paroki se-Keuskupan Surabaya

Pada 22-23 Januari lalu, Dewan Keuangan Keuskupan Surabaya (DKKS) mengadakan Pelatihan Keuangan Paroki se-Keuskupan Surabaya. Pelatihan diikuti oleh bendahara dan pastor Paroki dari 39 paroki (dari total 42 Paroki). Pelatihan dihadiri romo Vikjen Rm. AP. Dwi Joko yang mewakili Bapak Uskup.

Latar belakang pelatihan ini adalah perlunya pertanggungjawaban atas pengelolaan harta benda/keuangan paroki. Acara ini juga merupakan tindak lanjut usulan paroki-paroki dalam pertemuan Pengelolaan Harta Benda Gereja pada Agustus 2009 tentang standart laporan keuangan.

Hingga kini belum semua paroki membuat laporan keuangan bulanan ke Keuskupan. Selain itu bentuk dan format laporan keuangan juga belum standart.

Dalam pelatihan ini DKKS membagikan program komputer (software) untuk pembuatan laporan keuangan Paroki.

Dengan pelatihan ini Paroki diharapkan membuat laporan keuangan yang berbasis standart akuntansi dan pemakaian sarana modern (komputer, software keuangan dan internet). Dengan laporan keuangan yang baik dapat diketahui tujuan pengelolaan harta benda gereja. “Lewat pelatihan ini juga disampaikan pemahaman yang benar bahwa paroki yang mandiri bukan hanya mengelola harta bendanya untuk dirinya sendiri tetapi juga membantu atau ikut solider dengan paroki yang lain,” ujar Rm. Harjanto Prajitno, Pr ekonom Keuskupan Surabaya yang ditemui di Wisma Keuskupan Senin (8/3).

Materi pelatihan yang diberikan antara lain prinsip-prinsip akuntansi keuangan; manajemen resiko dan pengendaliannya; analisis kinerja keuangan dan non keuangan; pembuatan buku besar; bukti kas masuk dan kas keluar; laporan bulanan keuangan paroki dan pastoran. Di sessi terakhir romo Harjanto menyampaikan evaluasi laporan keuangan 2009.

Untuk tahun 2010 akan ada pembatasan dana yang dikelola paroki yaitu 3 (tiga) miliar rupiah. Bila dana yang dikelola paroki lebih dari tiga miliar rupiah maka kelebihannya disetor ke Keuskupan dan digunakan untuk dana solidaritas dan dana pengembangan kerasulan Keuskupan, misalnya pendampingan kepada orang miskin.

Untuk dana operasional pastoran sebesar maksimal sebesar lima puluh juta rupiah. Bila ada kelebihan, maka dimasukan untuk dana kebersamaan imam se-Keuskupan. “Tujuannya adalah untuk mengontrol dan menyehatkan keuangan paroki serta membudayakan transparansi,” ujar romo Harjanto. Untuk kedepannya Paroki wajib menyerahkan laporan keuangan mulai Mei 2010.

Tentang pengelolaan harta benda Gereja romo ekonom menegaskan beberapa hal penting. Pertama, Pengelolaan harta benda Gereja harus sesuai tujuan, yaitu penyelenggaraan ibadat, kerasulan, amal kasih pelayanan rakyat kecil, penghidupan pelayan rohani dan petugas-petugas lain.

Kedua, Kata “gereja” dalam pengelolaan harta benda Gereja perlu dijaga citranya. Gereja bukanlah perusahan yang berorientasi pada untung dan rugi. Ada salah kaprah yang mengatakan bahwa kenyamanan umat beribadah di Gereja “wajib” dipenuhi agar kolekte naik. “Apakah ini tujuan gereja? Seolah-olah tujuan gereja adalah mengumpulkan kolekte. Memang hidup Gereja bersumber dari derma, persembahan dan sumbangan. Tapi apakah cara itu tepat menjaga citra Gereja. Kebutuhan memang perlu dipenuhi tetapi hal itu bisa menjauhkan kita dari tujuan sebenarnya,” ujar romo Harjanto yang juga ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK).

Ketiga, Dibutuhkan kepekaan dan solidaritas antargereja sebagai cerminan wajah Gereja kepada masyarakat. Paroki dengan keuangan yang “sehat” perlu memperhatikan Paroki dengan keuangan “pas-pasan”.

“Paroki yang banyak uang dengan bebas bisa merencanakan segala sesuatu, sebaliknya paroki yang uangnya pas-pasan, tidak dapat tumbuh atau berkembang. Mau bikin kegiatan takut kekurangan dana. Nah, dana solidaritas itu nantinya juga dipakai untuk subsidi Paroki yang minim dana. Saya belum pernah dengar ada Gereja Katolik yang tutup karena kehabisan dana, jadi mengapa kuatir,” tambahnya.

Keempat, ada pedoman tatakelola harta benda Gereja yang memungkinkan Paroki besar dan Paroki kecil saling berbagi, bukan “dipajaki”. “Mari kita memajukan Keuskupan dengan semangat solidaritas,” pungkas romo Harjanto. (*)

Krispinus Alfen


0 Responses to “Pengelolaan Keuangan Sebagai Bentuk Solidaritas”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: