10
Apr
10

Misa Latin Mulai Menggema

In nomine Patris, et Fillii, et Spiritus Sancti…. tanda kemenangan telah mengawali misa di Gereja HKY. Dari kalimat di atas tampak jelas bahwa misa kali ini lain dengan misa biasanya. Inilah misa bahasa latin.

Misa yang dipimpin oleh romo Eko Budi Susilo dan romo Damar Cahyadi berlangsung hikmat dan khusuk. Lagu-lagu Gregorian yang bersumber dari Graduale Romanum dinyanyikan oleh paduan suara Kelompok Studi Gregorian Schola Cantarum Surabaiensis (SCS) yang diprakarsai Albert Wibisono dan Anton Tjahjoanggoro (yang kebetulan juga bertindak sebagai konduktor) mengalun indah meski tanpa organ pengiring. Ya, misa Latin ini diadakan tepat di misa minggu masa Prapaskah kedua (28/2) dan di dalam aturan Pedoman Umum Misalle Romawi (PUMR) tidak diperkenankan menggunakan alat musik pengiring.

Yang membedakan paduan suara ini dengan lainnya terlihat dari busana yang dipakai yaitu jubah hitam dengan superpli putih. Busana ini bukan suatu keharusan tetapi untuk memberikan kesan rapi dan liturgis.

Untuk membantu umat memahami bahasa-bahasa latin yang diucapkan selama misa, dibagikanlah buku Tata Perayaan Ekaristi (TPE) dengan setiap halaman disajikan dalam dua bahasa, Indonesia dan Latin, sebelah-menyebelah. TPE dwibahasa ini sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II, dalam Intruksi Pelaksana Inter Oecumenici. Di situ disebutkan, buku TPE umat yang dibuat dalam bahasa lokal hendaknya disertai dengan bahasa Latin aslinya. Dengan demikian, umat tidak kerepotan.

“Dengan TPE dwibahasa misa bahasa Latin ini, umat dapat lebih mempelajari bahasa Latin dan berpartisipasi aktif dalam misa,” ujar Albert Wibisono.

Dalam misa ini Albert bertindak sebagai Magister Caeremoniarum (MC). Dalam gereja Katolik, MC bertugas mempersiapkan upacara liturgi agar misa dilaksanakan sesuai aturan-aturan liturgi, mirip kepala protokoler dalam kepresidenan.

“Sebenarnya dalam misa banyak sekali aturan yang harus difahami agar upacara liturgi berjalan dengan benar, dan bermakna. Tentang saat hening, misalnya. Seharusnya setelah homili dan komuni ada waktu bagi umat untuk hening. Selesai homili, umat dapat meresapkan inti sabda Tuhan yang disampaikan romo. Begitu juga selesai komuni, umat hening untuk bersyukur karena mengalami perjumpaan langsung dengan Kristus.

Misa bahasa Latin pertama kali diadakan di PHKY dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. Sutikno sesaat setelah ditahbiskan sebagai Uskup pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam (25/11/2007).

Respon umat sangat positif waktu itu dan dalam rapat Dewan Pastoral Paroki HKY diputuskan bahwa Misa bahasa Latin diadakan rutin setiap minggu ke-IV sejak Desember 2009 pada pukul 18.30.

Romo Eko Budi Susilo dalam wawancara sesaat setelah misa memberi alasan diadakannya misa ini, “Misa ini untuk mengingatkan bahwa akar dari tradisi misa kita adalah misa berbahasa Latin. Misa ini juga dalam rangka memperkenalkan dan menunjukkan kepada umat tata cara misa yang benar sesuai dengan aturan Misalle Romanum. Kita akan merasakan nuansa yang lebih agung dan sakral dengan cara ini,” ujarnya.

Ditambahkan bahwa istilah resmi untuk misa bahasa Latin adalah misa Tridentina yakni liturgi misa Ritus Romawi yang dirayakan sesuai dengan Misalle Romanum. Dalam perkembangannya dan sesuai amanat Konsili Vatikan II, misa dapat dilaksanakan dengan menggunakan bahasa lokal.

Agnus Dei, qui tollis peccata mundi: miserere nobis. Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami. (*)

Robertin Ratna


0 Responses to “Misa Latin Mulai Menggema”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: