06
Jan
10

Mupas ; Sederhana, Baik, Efektif dan Tepat Sasaran

Musyawarah Pastoral (Mupas) telah usai. Selama 3 hari, terhitung 26-28 November 2009 di Sasana Krida Jatijejer, Pacet, sejumlah imam dan perwakilan dari umat berkumpul untuk menggagas Arah Dasar (Ardas) bagi Keuskupan Surabaya. Banyak cerita, banyak tanggapan, banyak komentar mengenai penyelenggaraan sebuah pertemuan akbar yang melibatkan banyak kalangan ini. Namun, yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana kelanjutan dari proses ini.

Ditemui di pastoran Paroki Gembala Yang Baik, tempat beliau bertugas, Rm. Lucius Uran Sari, SVD sebagai Romo Vikep Surabaya Selatan berkenan menguraikan proses dan hasil dari kegiatan ini. “Secara umum, banyak dari kita umat Katolik pasti senang dengan adanya Mupas ini, karena Ardas bagi umat Katolik dirumuskan melalui proses musyawarah yang melibatkan banyak kalangan,” demikian kesannya tentang kegiatan ini.

Lebih lanjut romo Luci, sapaan akrab romo asal Larantuka, Flores yang sudah menjalani 22 tahun Imamat ini menjelaskan bahwa metode yang digunakan sangat baik dan mengena. Diawali dengan menggali keprihatinan-keprihatinan yang dirasakan oleh umat kemudian dihubungkan dengan kehidupan jemaat perdanan dan jati diri orang Katolik, ditemukanlah sebuah kata kunci. Proses ini yang menghantarkan pada jenjang-jenjang berikutnya sampai pada akhirnya didapat sebuah rumusan Ardas : “Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan murid-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.”

“Di sana (saat Mupas) tidak hanya proses diskusi yang dilakukan, tapi juga ada dinamika. Sederhana, tetapi baik, efektif dan tepat sasaran,” imbuhnya. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa dalam kesempatan yang baik itu, Bapa Uskup juga berpesan agar rumusan tersebut tidak hanya akan menjadi sebuah rangkaian kata yang indah tanpa sebuah realisasi.

Lantas bagaimana ardas ini akan disosialisasikan dan diterjemahkan dalam hidup menggereja di Keuskupan Surabaya?

Selama 10 tahun ke depan, Ardas akan menjadi sebuah pedoman yang menjiwai kehidupan umat. Bapa Uskup pun menetapkan tahun 2010 sebagai Tahun Keluarga dan Habitus Baru, dimana akan banyak aktivitas Gereja yang mengarah pada konsep cinta keluarga.

Surat Gembala kedua yang dikeluarkan oleh Bapa Uskup dan dibacakan secara serentak di setiap paroki saat perayaan ekaristi 11-12 Desember 2009 lalu, merupakan salah satu cara mensosialisasikan Ardas dan rencana ke depan Keuskupan ini. Romo Luci menambahkan, “Sekarang ini butuh perjuangan untuk proses internalisasi, pengendapan dan transformasi agar dapat sampai ke umat dengan tepat.”

Setiap kevikepan punya cara masing-masing dalam mensosialisasikan Ardas ini. Demikian halnya dengan Kevikepan Surabaya Selatan tempat Romo Luci bernaung selama 2 tahun ini. Kevikepan yang meliputi paroki Hati Kudus Yesus, Yohanes Pemandi, Gembala yang Baik, Roh Kudus, St. Maria Anuntiata dan St. Paulus ini menetapkan tiga jenjang sebagai sasaran proses sosialisasi Ardas.

Jenjang I yaitu jenjang kolegealitas (di antara para imam), untuk para romo yang tidak mengikuti Mupas. Jenjang II adalah sosialisasi untuk Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan jenjang III sosialisasi untuk DPP di masing-masing bidang pastoral. “Tujuannya adalah agar setiap hal yang dilakukan oleh Gereja di paroki ini selalu didasarkan pada Ardas yang telah ditetapkan, supaya tercipta kehidupan yang selaras,” imbuh Romo Luci. Metode sosialisasi ini telah disepakati bersama dalam pertemuan di paroki Hati Kudus Yesus 11 Desember 2009 lalu.

Romo Luci yang berperan dalam koordinasi tim di Kevikepan Surabaya Selatan ini memaparkan bahwa setiap orang yang terlibat merasa memiliki tanggung jawab untuk mensukseskan proses ini dan kemudian mengawal dalam tindak lanjutnya. Tiap-tiap paroki yang terlibat pun dirasa cukup antusias dan berkomitmen untuk menghayati, memahami dan selanjutnya menyampaikan hasil Ardas ini kepada umat.

Terbukti, paroki Gembala Yang Baik mengimplementasikan Ardas ini dengan serangkaian kegiatan yang dimulai lebih awal dari tanggal yang telah ditetapkan, 1 Januari 2010. Perayaan Ekaristi sebagai pembuka, kemudian dilanjutkan dengan doa Rosario, penyerahan keluarga-keluarga dan pemberkatan patung Keluarga Kudus yang akan ditahtakan di gereja sepanjang tahun. Kegiatan ini diselenggarakan  pada 27 Desember 2009, yang bertepatan dengan Hari Raya Keluarga Kudus. Setelah itu, setiap dua minggu sekali para romo akan melakukan kunjungan ke keluarga-keluarga di wilayah serta penyelenggaraan misa khusus untuk keluarga setiap bulan.

Romo Luci menjelaskan bahwa dengan penetapan Tahun Keluarga dan Habitus Baru ini, setiap umat diajak untuk kembali mencintai dan menyadari keberadaannya di dalam keluarga. Beliau juga menyadari bahwa setiap pribadi lahir dan terbentuk dari sebuah keluarga. Maka, seyogyanya jika keluarga mendapat perhatian khusus, terutama lewat sebuah “gerakan cinta keluarga”.

Pada akhirnya, beliau berharap agar hasil Mupas ini dapat benar-benar diterima umat, dihayati, dipahami dan untuk selanjutnya dilaksanakan. Demikian pula tugas masing-masing paroki juga mendampingi umat agar Ardas dapat diimplementasikan dengan tepat. Selain itu, diharapkan juga ada proses evaluasi dari serangkaian proses yang dijalani nantinya.

“Memang kehidupan Gereja sebenarnya tidak dapat diukur, karena sifatnya relatif. Tetapi, setidaknya kita dapat menilai sejauh apa usaha yang telah kita lakukan ini,”demikian ungkapnya mengakhiri pertemuan dengan Benedizione. (*)

Oleh : Agnes Lyta Isdiana


0 Responses to “Mupas ; Sederhana, Baik, Efektif dan Tepat Sasaran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: