05
Jan
10

Tuhan Memberi Lebih Dari yang Aku Minta

Imanku bertumbuh di saat aku mulai belajar untuk percaya sepenuhnya kepada Allah yang penuh belas kasih, yang selalu memberikan memberikan pertolongan tepat pada waktuNya.

Kisah ini bermula ketika aku bekerja di sebuah perusahaan, di kantor cabang di Jakarta. Di situ aku di tempatkan di bagian accounting. Pada awalnya semua pekerjaan tampak berlangsung lancar-lancar saja. Semua prosedur perusahaan berjalan sesuai dengan aturan. Hingga suatu hari pimpinan cabang tempatku bekerja membuat suatu kebijakan keuangan yang menurutku menyimpang dari prosedur yang benar dan itupun juga tanpa sepengetahuan oleh kantor pusat. Karena aku bekerja di bagian accounting maka aku mengetahui dengan persis segala kecurangan yang telah dia lakukan. Untuk menutupi semuanya, uang hasil kecurangan tersebut sebagian dibagikan ke beberapa karyawan yang mungkin menurutnya ikut terlibat atau setidaknya mengetahui kebijakan tersebut. Termasuk aku diantaranya. Saat dibagikan semua bersedia menerima dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan tindakan mereka. Beberapa kali akupun juga bersedia untuk menerima karena selain segan dengan teman-teman dan pimpinanku, aku pun juga takut disebut munafik atau dikucilkan oleh mereka. Tetapi lambat laun hal tersebut menjadi beban tersendiri buatku, aku mulai merasa bersalah dan timbul penyesalan di dalam hati.

Hingga suatu hari aku pun memberanikan diri untuk menolak segala pemberiannya serta menyatakan tidak mau terlibat lagi. Melihat sikapku itu tentu saja pimpinanku merasa kurang senang dan sebagai akibatnya perseteruan mulai terjadi di antara kami. Semua yang aku kerjakan selalu dinilai salah di matanya. 

Suasana di kantor pun menjadi tidak nyaman lagi bagiku. Puncaknya terdengar kabar bahwa aku akan segera dimutasikan di kantor cabang lain yang lokasinya termasuk rawan di daerah Jakarta Barat (kami menjuluki cabang itu sebagai tempat pembuangan bagi karyawan). Secara lisan pemberitahuan itu sudah resmi aku terima dari kantor pusat tinggal menunggu surat keputusannya. Hatiku sedih dan hancur sekali sewaktu kabar tersebut sampai ke telingaku. Sebegitu marahkah pimpinanku hingga dia tega membuang aku? Berbagai perasaan berbaur menjadi satu, selain perasaan sedih dan kecewa karena merasa diperlakukan tidak adil, terselip juga perasaan marah namun tidak berdaya. Tetapi keputusan sudah menjadi keputusan dan akupun harus segera pindah.

Karena tidak sanggup menanggung beban seorang diri, aku lalu menceritakan semua kejadian yang telah aku alami kepada orangtua dan memohon dukungan doa. Mereka mengatakan jika aku benar, Tuhan sendirilah yang pasti akan menolongku dan tidak ada perkara yang mustahil bila kita percaya kepadaNya. Akupun lalu mulai gencar mendoakan masalahku itu dan ternyata memang benar, lambat namun pasti tangan Tuhan mulai terulur untuk membantuku.

Satu bulan datang dan berlalu begitu saja, kemudian segera disusul bulan kedua. Sampai menginjak bulan yang ketiga, kabar mengenai mutasiku seakan lenyap begitu saja bak ditelan bumi. Hingga suatu siang kami mendapat sepucuk surat dari kantor pusat. Perasaanku yang tadinya sudah mulai tenang kembali bergejolak. Apakah yang barusan datang itu adalah surat mutasiku? Benarkah aku bersalah hingga Tuhan tidak sudi mengabulkan doaku? Ataukah ada rencana Tuhan yang lain yang belum aku mengerti?

Beragam pertanyaan timbul serta berkecamuk di kepalaku. Namun tidak ada yang dapat aku lakukan pada saat itu selain berserah, “terjadilah apa yang Kau pandang baik Tuhan”, doaku dalam hati. Dengan hati ber-debar aku menunggu surat itu dibuka. Dan ternyata hasilnya betul-betul di luar dugaanku.

Isinya bukan merupakan surat mutasiku melainkan surat pemberhentian untuk pimpinan cabang kami karena kecurangannya telah diketahui oleh kantor pusat. Aku hampir tak percaya bahwa memang itulah yang benar-benar terjadi. Dalam proses-Nya, Tuhan telah memberikan jawaban yang aku butuhkan. Bahkan Dia memberikan melebihi yang aku harapkan.

Mungkin kalau Tuhan hanya memberikan yang aku minta yaitu dengan urungnya aku dimutasi ke cabang lain pasti suasana di kantor tetap tidak nyaman bagiku. Tetapi dengan digantikannya pimpinanku suasana kerja di kantor kembali menjadi menyenangkan. Tuhan tahu yang terbaik bagiku. Tanpa aku berusaha untuk membela diri, Dia yang telah membelaku dengan  caraNya sendiri. Namun dengan jawaban doaku itu bukan berarti aku telah mensyukuri jika pimpinanku diberhentikan. Aku tetap ikut sedih dan prihatin atas kejadian yang menimpanya dan berharap Tuhan menolong dia mengatasi semuanya.

Dari pengalaman itu aku jadi semakin mengerti dan percaya bahwa ketika situasi yang aku alami tampak begitu sulit atau bahkan tidak adil, ternyata disitulah janji Allah itu akan semakin digenapi.

Dan sekarang enam tahun telah berlalu meskipun kami (aku dan bekas pimpinanku) tidak lagi berhubungan sebagai rekan kerja dan tidak tinggal dalam satu kota namun kami tetap berhubungan dengan baik karena kami masing-masing telah saling memaafkan dan menyadari bahwa dendam tidak ada gunanya dalam hidup ini. (*)

Oleh : Rindang Respati


0 Responses to “Tuhan Memberi Lebih Dari yang Aku Minta”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: