05
Jan
10

Menegakkan Kebenaran

Bagaimana kita bisa percaya kepada lembaga penegak hukum di negara kita ini? Banyak orang mencari kebenaran dan keadilan kecewa berat. Ya jelas saja, karena yang benar bisa dibuat salah dan yang berbuat salah bisa “dibuat” benar,” Demikian celethuk Antok ketika membaca Koran kasusnya “Cicik dan Buaya”.  Seorang ibu mencuri kakao tiga biji dihukum 45 hari, sedangkan yang korupsi trilyunan rupiah bebas tak tersentuh hukum. Akhirnya kebenaran menjadi kabur, banyak orang menjadi tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Isi kebenaran menjadi mungkin merah (uang ratusan ribu), mungkin hijau (dolar Amerika), atau mungkin warna-warna yang lain, yang semuanya mata uang yang bertumpuk-tumpuk untuk “membeli” kebenaran yang penuh buatan manusia, yang bukan kebenaran hakiki.

Kalau kita melihat dan menelusuri pertengkaran antara “Buaya dan Cicak” beberapa waktu yang lalu, dan rakyat memberi dukungan kepada “cicak”, bukan lain karena rakyat mendambakan dan merindukan kebenaran yang sebenarnya, kebenaran yang hakiki. Mungkinkan kebenaran menjadi milik orang yang tidak punya uang? Teman saya seorang NU yang sederhana saking frustasinya di dalam menegakkakan kebenaran akhirnya hanya mengatakan, “Wis opo jare Gus Dur wae romo”. Apa kebenaran dan keadilan itu hanya miliknya Markus? (Makelar Kasus).

Saudara sekalian yang dikasihi Tuhan, dalam alur  secuil kisah di atas, saya mengajak Anda untuk  membaca sejenak Injil Yohanes 18:33-37, dalam perikop ini saya membayangkan Tuhan Yesus sedang berdiri  di hadapan Pilatus untuk menanti kebenaran yang diharapkan meluncur dari mulutnya. Yesus dibawa oleh imam-imam kepada dan orang- orang Farisi kepada Sang gubernur dengan tuduhan, mengaku diri sebagai Anak Allah, dan dengan itu berarti Yesus dianggap menghujat Allah. Perkataan Tuhan Yesus dan perbuatannya dianggap melanggar dan bertentangan dengan ajaran agama Yahudi. Tidak mengherankan kalau orang-orang Yahudi yang tidak suka selalu mencari kesalahan Yesus, mengikutinya mendengarkan kotbah-kotbah Yesus bila mana ada kesalahan menjadi bahan  untuk berkas tuduhan. Akhirnya mereka menemukan juga.

Saudara sekalian, padahal kalau kita mencermati isi Kitab Suci, yang benar adalah bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kebaikan dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Kita pernah membaca banyak orang sakit dibuat sembuh, orang tuli dibuat mendengar, orang buta dibuat melihat, orang lumpuh dibuat berjalan. Ada lagi yang sangat menakjubkan akan kebaikanNya seorang wanita yang sakit pendarahan selama 12 tahun, dan ketika menyentuh jumbai jubahnya seketika sakitnya hilang.

Memang semuanya tidak lepas dari iman orang-orang yang datang kepadaNya, tetapi di sisi lain juga karena kebaikan Tuhan Yesus sendiri. Lihat saja misalnya orang mati dibangkitkanNya, ini karena kehendak Allah yang baik.

Namun kembali lagi semua perbuatan baik yang dilakukan Tuhan Yesus justru dipandang sebagai perbuatan jahat. Imam-imam kepala dan orang-orang Farisi sudah memutar balikkan kebenaran. Yesus yang mengajarkan kebaikan dan berbuat baik itu justeru dilihat sebagai ancaman terhadap para penguasa. Kedudukan dan kepentingan mereka merasa terancam. Maka menurut para penguasa itu tidak ada cara lain, selain harus disingkirkan dan dihukum mati. Inilah rekayasa dan fitnah para pejabat Yahudi yang sungguh kejam. Mungkin juga mereka membuat rekaya itu karena ada yang kedudukannya terancam, barangkali juga karena kepentingannya terancam, atau karena iri hati. Tetapi apa yang terjadi? Pilatus tidak berani membuat keputusan, malah ia mencuci tangan, maka dengan itu kebenaran hilang lenyap.

Saudara-saudari sekalian, kita melihat bahwa sejak jaman Pilatus sampai sekarang untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan yang sejati tidaklah mudah. Di dunia ini kebenaran dan keadilan sudah banyak tercemar oleh kepentingan-kepentingan penguasa. Bahkan seakan-akan kebenaran dan keadilan itu milik penguasa dan orang-orang yang punya duit. Sedangkan kita sebagai murid Yesus ketika memilih untuk hidup berdasarkan kebenaran juga tidak mudah mengingat banyaknya resiko yang harus kita hadapi.

Meski dicela oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat, bagi kita kebenaran itu adalah Yesus sendiri, dan menghidupi kebenaran tak lain kalau hidup kita ini didasarkan pada setiap ajaran Tuhan Yesus. Dan untuk itu kita harus berani menanggung resiko dibenci oleh orang-orang yang mapan, orang-orang yang punya kepentingan. Baik di dalam Gereja maupun di masyarakat orang-orang yang mapan sangat sulit untuk diadakan perubahan. Karena dengan adanya perubahan kepentingan mereka terganggu dan membuat marah mereka. Meski perubahan itu baik menuju kebenaran dan kejujuran. Dengan bekal keberanian kita menegakkan kebenaran, dan sekali lagi Sang kebenaran itu adalah Tuhan Yesus sendiri. (*)

Oleh : Rm Eko Budi Susilo, Pr


0 Responses to “Menegakkan Kebenaran”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: