15
Oct
09

Musyawarah Untuk Mufakat

Hal 8Adalah persekutuan (communio) yang menjadi ide dasar dari seluruh aktivitas menyongsong Mupas sepanjang tahun ini. Persekutuan adalah hakikat dan jati diri gereja. Sifatnya yang menyatukan, berlawanan dengan sifat dunia yang memisahkan manusia (lewat struktur sosial, SARA, dll).

Lantas, sebelum menjadi sebuah pola pastoral (yang telah lama dicanangkan sejak penahbisan Uskup Surabaya), persekutuan akan dijadikan jiwa dan roh bagi seluruh karya pastoral di Keuskupan Surabaya lewat Mupas.

Mupas memenuhi semua syarat tercapainya persekutuan. Tengok saja kegiatan praMupas. Ia diawali dari kelompok umat terkecil dan terdekat (Lingkungan) dan bertahap meningkat menuju kelompok umat yang lebih besar.

Nah, jika persekutuan adalah “jiwa dan roh”, lalu kemana “raga” akan membawanya sampai pada batas akhir?

Batas gerak dan batas pencapaian kita adalah yang termaktub dalam Yohanes 10 : 10, yang menjadi moto Uskup Surabaya, “…Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Menuju dan hingga titik itulah seluruh daya dan energi kita dalam berpastoral akan berpuncak.

Dapat dikatakan, moto itu adalah visi Keuskupan dan kini kita sedang menyongsong perumusan sebuah misi untuk mencapai visi luhur itu.

Gereja yang mendengarkan

Musyawarah artinya adalah berbincang mengenai sesuatu hal. Sedangkan mufakat artinya adalah sepakat mengenai sesuatu hal. Maka musyawarah untuk mufakat berarti berbincang untuk memutuskan dan menyepakati sesuatu hal.

Tapi, apakah gereja Katolik memiliki tradisi bermusyawarah? Bukankah gereja Katolik terkenal sebagai institusi agama yang paling “rapi”, dimana sistem administrasi dan pengambilan keputusan berpusat pada hierarki?

Sebelum Konsili Vatikan II (1962-1965), keterlibatan umat (baca: awam) dalam pengambilan keputusan tentang hidup menggereja seakan-akan adalah “pemberian” dari hierarki. Dengan kata lain, awam baru terlibat jika hierarki mengajaknya. Setelah Konsili, muncul pergeseran paradigma bahwa tugas perutusan gereja tidak hanya dilakukan oleh hierarki, tapi juga bersama awam. Konsili mengatakan bahwa para awam harus dilibatkan karena merekalah yang bertugas menjaga tata tertib duniawi di berbagai sektor, misalnya: sektor politik, budaya, seni, perusahaan, perdagangan, pertanian, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, muncul istilah “Gereja yang mendengarkan” sejak Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2005. Istilah ini berbeda secara prinsip dari SAGKI 2000 yaitu “Gereja yang mengajar”. Gereja yang mendengar berarti menampung aspirasi seluruh umat lewat mekanisme yang telah diatur sesederhana mungkin. Dalam pengambilan keputusan strategis berjangka panjang, tidak dibedakan posisi awam dan klerus (kaum tertahbis).

Keuskupan Surabaya menerapkan prinsip “Gereja yang mendengar” ini dalam Mupas bulan depan. Jika ditelisik lebih dalam, mekanisme “Gereja yang mendengar” di Keuskupan Surabaya ini sederhana namun kolosal. Lewat pengaturan “sembilan jalur dan tiga jenjang” (lihat halaman 5), umat dilibatkan sejak dari Lingkungan hingga Kevikepan. Proses ini membutuhkan konsentrasi dan tertib administrasi dalam tingkat yang tinggi karena kolosal, melibatkan ribuan umat.

Fokus dan konsentrasi juga diperlukan saat hari pelaksanaan Mupas. Bagaimana tidak, dari puluhan “kata kunci”, dan beberapa “bidang pastoral”, “prioritas program” dan “nilai hidup” yang ibarat “hutan rimba belantara kata-kata”, tim perumus harus menghasilkan kalimat baku yang disepakati semua peserta Mupas.

Begitulah, prinsip keterbukaan dan partisipatif yang terwujud dalam “Gereja yang mendengarkan” memang menempuh jalan terjal, berbatu dan penuh resiko. Namun dari situ sesungguhnya kita semua sedang membangun pondasi hidup menggereja yang dapat kita sebut “era baru umat yang aktif dan partisipatif”.

Mupas adalah proses mengolah pengalaman iman (dari panduan umum Pramupas)

Pramupas dan Mupas sebagai satu rangkaian kegiatan, perlu dilihat sebagai proses eklesial atau gerejani. Dalam rangkaian kegiatan ini, seluruh Umat Allah, meskipun terdiri dari amat banyak unsur dan tersebar di berbagai tempat, berusaha berjalan dalam kebersamaan sebagai satu Gereja Persekutuan, untuk menemukan “arah gerak” sesuai dengan kehendak Allah.

Sebagai usaha menemukan arah gerak “sesuai dengan kehendak Allah”, kegiatan Pramupas dan Mupas juga dilihat sebagai kegiatan rohani. Dalam rangkaian Para-Mupas dan Mupas ini, pengalaman-pengalaman iman akan dilihat lebih mendalam, dan dari pengalaman-pengalaman itu dicoba ditemukan “ideal” kehidupan yang ingin diperjuangkan, agar kebersamaan umat ini, selagi berziarah di dunia ini, semakin dipersatukan dengan Allah.

Sebagai rangkaian kegiatan gerejani, Pramupas dan Mupas mengandalkan diri pada partisipasi dan kebersamaan segenap unsur umat. Partisipasi dan kebersamaan menjadi kunci keberhasilan dan ukuran, apakah tujuan-tujuan kegiatan tercapai sesuai dengan yang diinginkan.

Sebagai rangkaian kegiatan rohani, Pramupas dan Mupas mengandalkan diri pada keterbukaan hati dan kesatuan pikiran seluruh unsur umat. Keterbukaan hati dan kesatuan pikiran ini menjadi pintu yang memungkinkan unsur-unsur manusiawi persekutuan umat bertumbuh dalam kedekatan bersama setiap dan semua anggota Tubuh Kristus, yaitu Gereja, dengan Allahnya.

Dalam setiap sosialisasi Mupas di berbagai tempat, romo Tri Kuncoro Yekti sebagai kepala Kantor Koordinasi Pastoral (KKP) kerap menyebut agenda besar ini sebagai “proyek tiang pancang”. Ya, pondasi tiang pancang sedang ditanamkan sebagai landasan untuk dibangunnya profil baru gereja Katolik Keuskupan Surabaya yang bergerak bersama menuju terciptanya Kerajaan Allah.

Yudhit Ciphardian (dari berbagai sumber)


0 Responses to “Musyawarah Untuk Mufakat”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: