15
Oct
09

Misa Kemerdekaan Mudika PHKY

Hal 27Banyak alternatif kegiatan yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di hari kemerdekaan. Menghias gapura, perlombaan antar kampung maupun RT sudah menjadi hal yang tak asing atau bahkan sering kita jumpai di setiap sudut-sudut gang. Dari sekian banyak pilihan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa para pahlawan, Mudika PHKY memilih  mengadakan misa 17 Agustus dan dengan sarasehan para veteran.

Berawal dari obrolan ringan antara Rm Eko Budi  dengan salah seorang Mudika soal kegiatan apa yang dilakukan Mudika di hari kemerdekaan, tercetuslah ide untuk mengadakan Misa Kemerdekaan.

Gayung bersambut, gagasan ini diterima oleh Mudika. Segera dibentuklah panitia kecil Misa Kemerdekaan dan Sarasehan veteran ini. Misa Kemerdekaan diketuai oleh Jimmy Gunawan dan Sarasehan Veteran diketuai oleh Setyohadi.

Misa dilangsungkan pada Senin 17 Agustus dipimpin romo Eko Budi S, romo Tri Kuncoro Yekti (selebran utama) dan romo Eko Wiyono.

Diawali dengan prosesi perarakan sambil membawa bendera pusaka merah-putih di barisan depan disusul kemudian misdinar dan imam. Setelah itu dilakukan pembacaan teks proklamasi oleh perwakilan Mudika Wilayah IV, Dennis sembari bendera pusaka dibentangkan menutup altar. Saat perarakan dan pembacaan teks proklamasi, tampak beberap umat menyeka matanya, mungkin terharu.

Dalam homilinya romo Eko Budi mengigatkan bahwa kita adalah warga gereja sekaligus warga negara. ”Sebagai orang Katolik kita harus bisa menjadi garam dan terang. Melawan kekerasan dengan nilai-nilai kristiani”.

Setelah misa, acara dilanjutkan dengan Sarasehan Veteran di samping timur gereja. Para Veteran yang juga umat paroki HKY ini antara lain pasutri Agoes-Tien, pasutri Is-Bud dan Dong Juwono. Para pelaku sejarah ini begitu bersemangat ketika dua pembawa acara Kristin Eni dan Sekar Ayu meminta mereka menceritakan kembali saat-saat Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda dan Jepang. ”Banyak orang-orang cerdas yang telah terlupakan oleh bangsa ini, contohnya Tan Malaka,” ujar Agoes membuka obrolan pertamanya. Seakan tak mau ketinggalan pasutri Is-Bud bercerita bagaimana dulu mereka harus bisa bertahan hidup agar tidak tertangkap oleh orang-orang Belanda. ”Kami dulu sampai sembunyi-sembunyi di bawah lobang yang sangat bau,” ujar pasangan ini.

Puluhan umat tampak tercenung saat satu per satu para veteran ini bercerita tentang kondisi Indonesia saat itu. Tentu ini sangat berbeda dengan kondisi sekarang ini. Kini fenomena globalisasi secara tidak langsung telah menjadikan orang muda  menjadi indivudualis, hedonis dan kehilangan daya kritis.

Menutup diskusi, romo Eko Wiyono berpesan agar orang muda terus menyebarkan nilai-nilai kristiani. “Itulah cara mengisi kemerdekaan,” ujar romo Eko Wiyono.

Fransiscus Gandhi


0 Responses to “Misa Kemerdekaan Mudika PHKY”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: