15
Oct
09

Menjadi Utusan

 

Hal 30Musyawarah Pastoral Keuskupan Surabaya akan dilaksanakan pada bulan Nopember 2009, tepatnya pada tanggal 26 sampai tanggal 28.  Persiapan sudah mulai awal tahu 2009, dengan pra mupas mulai bulan Mei 2009. Ini merupakan sebuah gawe besar Keuskupan Surabaya dalam menentukan arah dasar pastoral sepuluh tahun mendatang. Hal ini dibutuhkan keterlibatan umat, bukan hanya untuk mensukseskan tetapi juga kesadaran akan dirinya sebagai anggota sebuah komunio. Kita tahu bahwa untuk membuat Mupas(Musyawarah Pastoral) ini melibatkan dari pengurus lingkungan, Wilayah , Stasi, Paroki, Kevikepan, Dewan Pastoral Keuskupan, sampai kuria  Keuskupan , dan juga kelompok-kelompok Kategorial.
Mereka yang terlibat  inilah boleh dikatakan sebagai orang-orang yang dipanggil dan diutus, oleh lingkungan, wilayah, paroki, dan kevikepan. Karena pada hakekatnya juga dengan sakramen permandian , setiap orang juga dipanggil dan diutus oleh Allah untuk mewartakan SabdaNya. Maka boleh dikatakan bahwa panggilan dan perutusan sebenarnya adalah tugas setiap umat beriman.  Barangkali ada baiknya kita menyadari tugas dan perutusan kita, sehingga kita ini boleh menjadi utusan bukan sekedar utusan, tetapi utusan yang mempunyai tanggungjawab, utusan yang mempunyai kualitas tertentu.

 

Sebagai utusan pertama-tama kita harus rela menerima mandat, karena perutusan tak akan terlaksana bila orang bersangkutan menolak untuk diutus. Apa pun pekerjaan dan profesi kita, kalau Gereja sudah mengutus kita harus rela untuk memwakili ( mungkin paroki, mungkin Kevikepan), sebagai utusan di kancah Mupas. Kita singkirkan perasaan-perasaan tidak layak, minder, kecil hati, karena yang mengutusnya adalah Gereja, dan itu adalah merupakan pilihan. Apalagi bila kita menyadari  akan tanggungjawab dan kewajiban kita sebagai Murid  Kristus (sebagai umat beriman) , kita dipanggil dan diutus untuk mewartakan Sabda Tuhan.

Kedua, sebagai utusan kita perlu mengandalkan hanya kepada Tuhan saja. Setiap utusan apa pun pekerjaan atau profesi kita perlu menyadari bahwa yang mengutusnya adalah Gereja artinya di utus oleh Tuhan sendiri. Oleh karena  itu ia tidak boleh memisahkan diri dari Allah. Rasul Paulus menyatakan bahwa orang yang bersatu dengan Kristus, akan menerima karunia dan berkat rohani dari Allah. Sebaliknya orang yang jauh dari Allah, hidupnya tidak diberkati (Effesus 1 :6). Kepandaian, mungkin juga kecerdasan kita merupakan anugerah Tuhan yang perlu kita sumbangkan untuk kebaikan dan kemujuan bersama, dalam hal ini untuk kebaikan dan kemajuan Keuskupan Surabaya. Untuk itu dibutuhkan ketekunan dan kesetiaan, sebab sering terjadai utusan akan menghadapi banyak tantangan yang tak terduga. Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya muncul tiba-tiba di arena. Dalam situasi seperti itu , kalau utusan hanya mengandalkan kemampuan pribadi suatu saat ia akan melarikan diri meninggalkan arena, sebab beban dirasa semakin berat.

Ketiga, Memahami tujuan  untuk apa diutus. Setiap orang yang diutus perlu menyadari untuk apa ia diutus dan kemana ia harus pergi. Untuk tempat  dimana saja seorang utusan bukanlah merupakan masalah. Tetapi tujuan perutusan itulah yang perlu diingat, semua yang berkumpul dalam Munas diutus untuk mengawal kata kunci mulai dari lingkungan sampai kepada kevikepan. Juga menyampaikan proses sampai munculnya kata kunci tersebut. Konon dari kata kunci tersebut akan dirangkai menjadi Arah dasar Keuskupan Surabaya sepuluh tahun mendatang. Kesadaran akan tujuan perutusan ini terasa penting sebab tujuan perutusan bisa menjadi titik balik bagi orang yang diutus. Namun perlu diingat meski di atas dikatakan perutusan itu untuk mengawal kata kunci, tidak berarti harus mati-matian memperjuangkan kata kunci sendiri. Bukan itu maksudnya. Kita melihat Yesus yang telah  memberikan teladan bagi kita bagaimana menjadi utusan, Ia sadar benar akan tugas perutusan tersebut, sehingga Ia mangajarkan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. Maka boleh dikatakan bahwa Tuhan Yesus adalah model sejati dalam hal pelayanan. Perhatiannya hanya pada pelayanan manusia agar  manusia hidup dan bahagia. MAka sekali lagi tujuan perutusan dalam hal ini untuk kemajuan bersama, kebaikan bersama.  

Keempat, Mampu bekerjasama dengan orang lain.  Bila kita melihat cara kerja Tuhan Yesus, kayaknya Ia tidak bekerja sendiri. Ia senantiasa melibatkan para Rasul dalam setiap pekerjaan. Untuk mendukung kedatanganNya ke dunia dalam menjalankan misiNya, Ia selalu melibatkan para rasul dalam setiap kegiatan. Maka para rasul pun juga tidak boleh melakukan kegaiatan sendirian. Injil Markus 6:7, dikatakan bahwa Yesus mengutus para murid berdua-dua, biar mereka mampu untuk membangun kerjasama yang baik nantinya dalam meneruskan karya Yesus di dunia ini. Maka setiap utusan dalam Mupas ini juga penting untuk membangun kerjasama baik dalam kelompok kecil maupun kelompok besar. Di dalam  membangun kerjasama ini perlu disingkirkan sikap egois yang sering menghalangi dan merusak bangunan kerjasama. Sebalilknya sikap yang harus dibangun adalah kerendahanhati.

Demikian beberapa hal yang mungkin perlu direnungkan bagi kita sekalian yang menjadi utusan baik sebagai utusan dalam Mupas Keuskupan Surabaya maupun sebagai utusan Allah karena Sakramen Permandian yang telah kita terima. Semoga Bermanfaat.

(Renungan di atas diinsfirasi : Injil Markus 6 : 30- 34.

R.D. Y. Eko Budi Susilo


0 Responses to “Menjadi Utusan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: