14
Sep
09

Iman yang Signifikan dan Relevan

Hal 13Pada edisi kali ini, Benedizione mengangkat tema Bangkit dan Bergerak Dalam Semangat Paskah, tema yang mengingatkan kita pada Sidang Agung Gereja Katolik (SAGKI) dan Pertemuan Nasional (PERNAS) Orang Muda Katolik Indonesia, November 2005 silam. SAGKI dan PERNAS OMKI 2005 mengangkat tema ini untuk mengajak umat Katolik membangun keadaban publik lewat habitus baru.

Untuk menggali  tema ini secara kontekstual, Benedizione berkesempatan berdiskusi dengan Rm. Tri Kuncoro Yekti Pr, yang terlibat dalam Pernas OMKI dan SAGKI 2005.

Ajakan Bangkit dan Bergerak merupakan, merupakan buah refleksi yang mendalam tentang kondisi kehidupan bersama sebagai bangsa Indonesia. Kondisi kehidupan bersama yang menujukan tanda-tanda kehancuran keadaban publik. Materi, uang, kedudukan menjadi pengendali perilaku, kekerasan, kehancuran lingkungan yang terjadi menjadi cerminan, mental dan budaya (bdk, Nota Pastoral 2004). Dari sebab itu, umat Katolik didorong untuk menciptakan budaya tandingan dengan  sikap, budaya dan perilaku hidup baru.

Menurut, romo Tri Kuncoro Yekti (akrab dipanggil romo Cuncun), menguatnya gejala kerusakan sendi-sendi kehidupan bersama menjadi gambaran mentalitas bangsa. Dan kondisi ini entah disadari atau tidak secara perlahan menyentuh sendi kehidupan umat Katolik.  Umat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat tentu perlu dikuatkan dan menyadari kondisi ini sebagai tantangan hidup beriman. Kepekaaan terhadap kondisi nyata pada titik ini menjadi sangat diperlukan. Tantangan pokok yang mesti disadari umat beriman adalah bagaimana dalam situasi kerusakan ini, iman menjadi relevan dengan kondisi sekitar dan secara signifikan berdampak ke dalam diri umat beriman.

Beriman secara “relevan” menurut Romo Cuncun adalah panggilan dan perutusan kita sebagai umat beriman untuk turut serta memperbaiki kondisi sosial di sekitar kita. Umat beriman sungguh menyadari panggilan untuk memperbaiki kondisi tersebut sebagai perwujudan iman. 

Rusaknya sendi-sendi kehidupan bersama, ditandai oleh menguatnya sensualisme (kondisi dimana segala sesuatu diimaknai baik sejauh memuaskan keinginan indrawi), konsumtifisme dan individualisme. “Tanda-tanda inilah yang sering dipesankan Mgr Sutikno dalam berbagai kesempatan,” ujar romo Cuncun

Tantangannya adalah bagaimana iman sungguh-sungguh “signifikan” menjadi kekuatan dan inspirasi untuk tidak larut dalam kesenangan dan kenikmatan jaman  yang perlahan menjebak kita dalam kondisi yang tidak manusiawi.  Beriman yang signifikan adalah menyadari bahwa kehidupan itu  tidak semena-mena tetapi diatur dan bersumber pada Tuhan.

Menurut Romo yang juga Ketua Komisi Kepemudaan keuskupan Surabaya ini, ada dua kekuatan yang menyebabkan umat beriman masih dapat mendengar seruan untuk “Bangkit dan Bergerak.” Pertama, daya hidup. Secara naluriah dan kodrati manusia memiliki akal budi, harapan imajinasi dan insting untuk dapat bertahan hidup dan berupaya lepas dari kondisi hidup yang menjerat dan merusak.

Kedua, perjalanan sejarah. Dari perjalanan sejarah kita dapat belajar untuk peka terhadap situasi yang terjadi sekitar, sehingga dapat mengupayakan yang terbaik bagi kehidupan.

Meski begitu seruan “Bangkit dan Bergerak juga memiliki hambatan. Hambatan itu adalah gejala keputusasaan, yang menyebabkan kita pasrah dan berdiam diri terhadap ancaman yang ada di sekitar kita. 

Keputusasaan dapat disikapi dengan kesadaran untuk hanyut dalam arus jaman tetapi tidak membiarkan diri larut dalam pusarannya. Keputusasaan dapat dilawan dengan pengharapan akan perubahan yang pasti akan terjadi bila kita berupaya untuk bangkit, bergerak  dan sungguh menyadari bahwa hidup kita tidak semena-mena tetapi diatur dan bersumber pada Tuhan.

Walau tidak secara harafiah (baca : bangkit dan dan bergerak ) digunakan di Keuskupan Surabaya, semangat ini tetaplah membumi seturut kondisi lokal. Semangat ini tetap hidup untuk menantang kegelisahan sensualisme dan konsumtifisme seperti yang digelisahkan Uskup Surabaya. Walau dalam istilah yang berbeda, dalam praktik kehidupan umat beriman di Surabaya tetap menjadi inspirasi.

Untuk menjaga semangat ini tetap membumi, diperlukan metode katekese yang lebih baik. Untuk itu seyogyanya menjadi prioritas untuk memunculkan pekerja katekese di lingkungan keuskupan.

Semangat bangkit dan bergerak juga akan tetap menyala bila kita memiliki habitus iman. Hal itu bisa dimulai dari hal yang paling kecil (misalnya keluarga) untuk sesuatu yang lebih besar yaitu masyarakat, bangsa dan negara.

Habitus iman dalam contoh yang paling nyata misalnya dalam kehidupan berkeluarga, misalnya memberikan tanda salib pada dahi anak ketika mau berangkat sekolah, doa sebelum dan sesudah makan dan sebagainya. Bila habitus iman ini menjadi pola kesadaran dan gerak bersama atau komunal maka harapan akan terwujudnya keadaban publik akan semakin terkuak.

***

Beriman secara signifikan dan relevan adalah tantangan kita dewasa ini. Marilah kita berharap agar inspirasi Paskah (kisah sengsara dan kebangkitan Kristus) mampu meneguhkan keyakinan iman kita dan menjawab setiap tantangan jaman sebagai tugas dan perutusan yang kita terima semenjak pembaptisan. Semoga.


0 Responses to “Iman yang Signifikan dan Relevan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: