14
Sep
09

Bangga Menjadi Katolik

Hal 34Judul diatas merupakan ungkapan dan pernyataan almarhum Mgr. Soegiyopranoto kepada umat katolik di Indonesia. “Jadilah orang Katolik 100 persen dan jadilah orang Indonesia 100 persen”. Memang orang Katolik yang hidup dan tinggal di Ibu Pertiwi ini sebagai warganegara bukanlah warganegara kelas dua, mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara yang beragama lain. Aku bangga terhadap ungkapan ini, ungkapan tersebut selalu memberikan motivasi kepadaku untuk menjadi warga negara yang baik, dan warga gereja yang baik.

Bangga menjadi orang Katolik, karena itu adalah pilihanku, dan itu juga panggilanku. Awalnya memang aku tidak tahu apa-apa dan ragu-ragu, tetapi karena keinginanku yang begitu besar tentang apa itu Katolik aku banyak membaca buku-buku dan bertanya kepada pastor pembimbingku. Ternyata sungguh luar biasa, di dalamnya begitu tersimpan kekayaan rohani yang berlipah ruah. Banyak orang Katolik sendiri yang tidak tahu akan hal ini. Sumber iman Gereja Katolik bukan hanyalah Alkitab, tetapi juga Tradisi, dan Magisterium.

Bangga menjadi orang Katolik, karena aku melihat bahwa gereja Katolik tidak melulu mencari harta dunia semata-mata, tetapi mencari harta surgawi. Tidak pamer kekayaan, tetapi mencerdaskan bangsa dengan mendirikan sekolah-sekolah dan universitas, tidak membangun tower tetapi mendirikan rumah sakit untuk membantu menyehatkan masyarakat. 

Gereja katolik adalah Gereja yang satu, aku bangga meski banyak orang yang sulit paham tentang hal ini. Tetapi ini merupakan iman yang harus diperjuangkan. Memang kesatuan itu sejak semula dianugerahkan oleh Kristus sendiri kepada GerejaNya, dan itu hanya ditemukan dalam Gereja Katolik, tetapi sekaligus kita berharap bahwa kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan jaman. Maka  tidak salahlah ketika Keuskupan Surabaya mencanangkan Pola Pastoral Berbasis Persekutuan. Dari satu pihak diimani bahwa Kristus akan tetap mempersatukan Gereja, tetapi dari pihak lain disadari pula bahwa perwujudan konkret harus berkembang dan disempurnakan terus-menerus. Oleh karena itu kesatuan iman mendorong semua orang Katolik supaya mencari “persekutuan” (communio) dengan semua saudara dalam iman, biarpun bentuk organisasinya mungkin masih jauh dari sempurna. Pusat Gereja bukan organisasinya sendiri, tetapi Injil Yesus Kristus yang diwartakan, dirayakan dan dilaksanakan dalam hidup sehari hari.

Aku bangga, karena sering dikatakan bahwa kesatuan di dalam Gereja Katolik tidak sama dengan keseragaman. Lebih tepat bila kesatuan di dalam Gereja itu dimengerti sebagai “Bhineka Tunggal Ika”, karena kesatuan itu bukanlah kesatuan organisasi atau kerukunan sosial. Tetapi kesatuan itu pertama-tama kesatuan iman, yang mungkin diungkapkan dengan cara yang ber-beda-beda. Oleh karena itu kesatuan lahiriah bukanlah keseragaman dan kesamaan, tetapi persekutuan dalam persaudaraan, saling meneguhkan dan melengkapi dalam penghayatan iman. Karena kekayaan iman serta keanekaan kebudayaan, maka kesatuan yang nyata berarti keanekaragaman baik dalam ungkapan iman yang liturgis dan kateketis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi ataupun dalam penampilan dalam masyarakat.

Mestinya masih banyak lagi yang aku banggakan, tetapi tentu majalah ini tidak akan mampu untuk memuat semuanya.  Aku hanya mau mengatakan bahwa kebanggan itu yang membangkitkan dan menggerakkan aku senantiasa dalam melayani Tuhan.

Selamat Paskah 2009. Y. Eko Budi Susilo


0 Responses to “Bangga Menjadi Katolik”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: