12
Sep
09

Wawancara Vikjen Keuskupan Surabaya

Keuskupan Kenalkan Pola Pastoral Baru

Hal 25Surabaya merupakan salah satu keuskupan di Indonesia dengan wilayah yang cukup luas. Umat yang heterogen dengan kompleksitas kebutuhan dan permasalahan yang ada menuntut Keuskupan Surabaya untuk menetapkan satu metode dalam mengelolanya. Pola Pastoral Berbasis Persekutuan merupakan satu metode yang dirasa cukup tepat digunakan untuk pengelolaan ini, terutama jika dilihat dari adanya peningkatan jumlah umat dan jumlah paroki di Keuskupan Surabaya.

Keuskupan Surabaya menjadi keuskupan mandiri sejak tahun 1961 karena dinilai mampu untuk berdiri sendiri (otonom). Selain itu, bentuk-bentuk kegiatan umat yaitu dalam hal kegiatan kemasyarakatan, gerejani (karismatik dan non karismatik) serta adanya kelompok kategorial semakin meningkat.

Berdasarkan pada situasi ini, maka dirasa perlu dibuat suatu pembaharuan dari mekanisme yang sudah ada, karena mekanisme tersebut sudah tidak mampu me-nampung atau tidak sesuai dengan perkembangan yang ada.

Rm. Petrus Canisius Edi Laksito, Pr. selaku Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Surabaya menegaskan bahwa ada beberapa aspek yang perlu diadakan pembaharuan, antara lain dari segi administratif dimana peran serta umat juga sangat dibutuhkan dalam penanganan tugas-tugas pastoral. Keterlibatan ini tentunya lebih mengarah pada adanya kerjasama.

Kemajuan teknologi yang menjadi pemicu dangkalnya relasi antar personal juga menjadi perhatian Keuskupan Surabaya. Di sini, Gereja mencoba untuk merefleksikan kehadirannya di mana Gereja merupakan persekutuan umat yang sedang berziarah di dunia untuk memperoleh keselamatan dari Yesus Kristus. Pada intinya, Gereja merupakan suatu persekutuan.  Penemuan ini didasarkan pada penyamaan persepsi yang dituangkan pada pertemuan para Uskup dan ahli-ahli teologi pada Konsili Vatikan II, di mana semangat dan pandangan Gereja Perdana yang selalu berpegang pada Kitab Suci.

Setelah Konsili Vatikan II dilakukan evaluasi melalui sinode para uskup sedunia kedua pada tahun 1985 (20 tahun sesudah Konsili Vatikan II), di mana setiap dokumen yang diterbitkan selalu mengingatkan tentang gereja sebagai persekutuan umat. Selain itu, para Uskup di Indonesia juga mengadakan pertemuan pada sidang KWI. Dari situ ditemukan bahwa perlu dibentuk komunitas basis yang didasarkan pada Communio (persekutuan) yang lebih menitik beratkan pada hubungan dan komunitas yang lebih menekankan pada kebersamaan.

Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno mencoba menjawab persoalan ini dalam motto pelayanan “Ut vitam abundantius habeant” (”supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dengan segala kelimpahan” – Yoh. 10:10) dengan mencoba kembali pada Ekaristi dimana ketika komuni terjadi persekutuan dengan Yesus. Makna yang dapat diambil adalah bahwa setiap orang yang dibaptis menjadi bagian dari persekutuan. Dan persekutuan yang utama adalah persekutuan dengan Tritunggal Maha Kudus. Selain itu, persekutuan yang lain adalah dengan sesama, di mana umat yang telah dibaptis juga diutus untuk tugas misioner dan menghadirkan keselamatan untuk sesama.

Hukum gereja menyatakan bahwa di setiap gereja harus ada dewan-dewan yang membantu para imam. Dewan Pastoral (yang akan dilantik Januari 2009) mayoritas terdiri dari umat awam, Dewan Imam (dilantik Januari 2008) di luar staf kuria yang ada serta dewan keuangan yang mayoritas juga terdiri dari umat awam yang diambil dari wakil-wakil kelompok kategorial. Selanjutnya, Agustus mendatang akan diadakan pertemuan Dewan Imam untuk membuat kesepakatan perihal pembentukan pola pastoral berbasis paroki.

Pada dasarnya, prinsip Pola Pastoral Berbasis Persekutuan mengarah pada adanya solidaritas dan subsidiaritas. Subsidiaritas berarti setiap tugas dan hal-hal yang dapat dilakukan oleh unit yang lebih kecil tidak perlu diambil alih oleh unit yang lebih tinggi. Dalam hal ini perlu adanya kepercayaan antara satu dengan yang lain.

Menutup uraian tentang Pola Pastoral Berbasis Persekutuan   ini, Romo Nanglik memberi pemahaman yang sederhana tentang suatu persekutuan, “Bagaimana kita memperoleh hidup dari sumber hidup kita yaitu kebersamaan dalam Allah Tri Tunggal yang berpusat pada Yesus Kristus yang hadir dalam Ekaristi”. (*)

Oleh : M. Ch. Reza Kartika 


0 Responses to “Wawancara Vikjen Keuskupan Surabaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: