12
Sep
09

Warung Broto : Menyapa Kaum Marginal

Hal 23Warung sederhana itu terletak di pintu masuk Wisma Pastoran di jalan Mojopahit. Saat tidak dipakai, warung ini adalah pos satpam. Aktivitas warung yang hanya terjadi pada hari Senin, Rabu dan Jumat itu rupanya tak banyak menyita perhatian orang yang berlalu-lalang disana. Itulah Warung Makan Broto.

Kira-kira 30 tahun yang lalu, muncullah gagasan untuk mendirikan sebuah warung makan khusus untuk para tukang becak. Ide itu muncul dari seorang romo yang saat itu tengah berkarya di gereja HKY, romo Rekso Subroto, CM. Nama warung juga diambil dari nama romo Rekso.

Semangat melayani para kaum miskin rupanya memanggil romo Rekso Subroto, CM hingga akhirnya menjatuhkan pilihan kepada para tukang becak yang beraktivitas di paroki HKY. Tukang becak adalah pekerjaan yang lekat dengan panas terik, hujan, peluh dan tenaga fisik sehingga Romo Rekso Subroto, CM berharap para tukang becak ini mendapat makanan yang cukup untuk bekerja maksimal dan menghasilkan nafkah bagi keluarganya.

Mulai dari berdiri hingga sampai saat ini, konsistensi warung Broto tak lepas dari peran serta umat di paroki HKY terutama para ibu. Berkat mereka inilah, berbagai menu yang bergizi tersedia bagi para bapak tukang becak ini. Dengan penuh kerelaan hati, para ibu ini berkoordinasi di masing-masing wilayah di paroki HKY bergiliran memasak untuk warung Broto. Mereka mengusahakan agar makanan yang disediakan di warung tersebut dapat memenuhi 4 sehat. Tak jarang mereka pun harus ”nombok” dari uang pribadi mereka, tetapi semuanya itu justru membawa sukacita tersendiri dalam pelayanan mereka pada Gereja.

Dengan uang Rp 1.000 saja, para bapak tukang becak dapat menikmati makanan di warung Broto. Bahkan Rp 250- dari uang tersebut masih dijadikan tabungan yang nantinya akan dikembalikan kepada mereka. Untuk memudahkan pencatatan, maka setiap tukang becak yang datang diminta mengisi formulir keanggotaan warung Broto. Mereka akan mendapat kartu keanggotaan, sehingga setiap kali makan di warung Broto dan membayar Rp 1.000 maka secara otomatis dicatat dalam buku dan tabungan mereka bertambah Rp 250.

Saat ini, warung Broto memiliki sekitar 50 orang tukang becak yang menjadi anggota. Selain itu warung ini juga memperbolehkan para karyawan di gereja HKY dan sekolah-sekolah di sekitar gereja untuk menjadi pelanggan, tentunya dengan kriteria khusus. Selain makan di tempat, biasanya para pelanggan ini juga membeli makanan untuk dibawa pulang bagi keluarganya maka tak heran apabila jam buka warung menjadi amat singkat. Mulai buka jam 08.00 pagi 3 hari seminggu biasanya sebelum jam 12.00 makanan sudah habis.

Pengelolaan warung Broto ternyata membawa suka duka tersendiri bagi para pengurusnya. Warung ini sempat sepi dikunjungi tukang becak beberapa waktu yang lalu karena berbagai alasan. Sebagai bukti komitmen kerjanya, para pengurus warung Broto akhirnya turun langsung ke lapangan mendatangi satu persatu para tukang becak dan mensosialisasikan adanya warung Broto ini. Karena kerja keras dan kegigihan para pengurusnya dan dukungan dari romo paroki HKY maka akhir-nya warung Broto tetap dapat beraktivitas.

“Ke depan nanti kegiatan warung Broto tidak hanya menyediakan makanan saja, lebih dari itu kami punya keinginan agar nantinya terjalin ikatan batin yang erat dengan para tukang becak” tutur koordinator pelaksana warung Broto,  Imelda Chrisianti.

Menurut ibu yang saat ini tinggal bersama keluarganya di daerah Taman Bintoro ini, hal-hal tersebut sudah dirintis mulai sekarang. Dibantu dengan 3 orang rekannya yakni ibu Sandra, ibu Charles dan Sdr. Andre, mereka mengupayakan adanya tabungan. Para tukang becak dapat menitipkan uangnya sebagai uang simpanan mereka yang dapat diambil waktu hari raya maupun keperluan insidental misalnya ketika ada keluarga yang sakit dan butuh biaya pengobatan. Besarnya tabungan tidak di tentukan, namun ada unsur relasi batiniah yang terungkap dalam aktivitas ini yaitu suatu relasi kepercayaan yang mana menjadi tantangan besar dalam suasana kehidupan metropolis kota Surabaya yang sarat dengan individualistik.

Ibu Imelda, demikian disapa akrab menuturkan ”Saya prihatin dengan nasib tukang becak yang  kebanyakan adalah para perantau yang mencari nafkah di Surabaya. Mereka tidur dan hidup di becak, sehingga mungkin tidak mempunyai tempat untuk menyimpan uang hasil nafkah mereka”.

Wanita yang sudah 6 tahun sebelumnya menjadi anggota Sie Sosial Dewan Paroki HKY ini menambahkan ”Wadah ini diharapkan membantu para tukang becak sehingga dapat menyimpan sementara uang mereka dengan aman sampai akhirnya dikirim kepada keluarga di kampung halaman pada waktu yang tepat”.

Semangat Kristus adalah menyapa mereka yang marginal. Tugas Gereja adalah melaksanakan perutusan itu. (*) Oleh : Yuliana Kristiani Dewi


0 Responses to “Warung Broto : Menyapa Kaum Marginal”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: