12
Sep
09

Percakapanku Dengan Tuhan Di Suatu Pagi

Hal 21Setelah dua malam tidak bisa tidur, pagi itu aku bangun dengan kepala yang terasa berat sekali. Aku lalu duduk di depan meja, sekilas aku melihat kitab suci yang ada di dekatku. Namun pagi itu aku tidak berminat untuk membaca seperti hari hari biasanya. Hatiku sedang dilanda kegelisahan dan pikiranku begitu kacau. Tidak berapa lama kemudian pandanganku segera beralih ke gambar Tuhan Yesus yang tepat berada di hadapanku. Aku pandangi gambar Tuhan Yesus itu lekat lekat dan aku pun berusaha mencari jawab atas kegelisahan yang sedang melanda hatiku.

Tiba tiba dari kedalaman hati aku mendengar suara Tuhan bertanya : “AnakKu apakah engkau mencintai Aku?” Aku segera menjawab “Ya Tuhan aku mencintaiMu”.

Kemudian aku mendengar suara Tuhan bertanya lagi “AnakKu apakah engkau sungguh mencintai Aku?” Dengan penuh keyakinan aku menjawab “Tentu saja Tuhan aku sungguh mencintai Engkau” Kemudian sekali lagi Tuhan menanyakan hal yang sama kepadaku “Anakku apakah engkau sungguh sungguh mencintai Aku?” Aku sedih mendengar Tuhan menanyakan hal yang sama untuk ketiga kalinya. Mengapa Tuhan seakan tidak percaya kepadaku ? Maka dengan hati yang berat aku menjawab “Tuhan jika aku tidak mencintai Engkau, aku tidak akan mau melayani Engkau seperti sekarang ini” Aku pikir aku telah menjawab dengan benar namun ternyata Tuhan bertanya lagi “Kalau engkau sungguh mencintai Aku mengapa engkau tidak percaya kepadaKu?” Aku tidak mengerti mengapa Tuhan menanyakan hal itu kepadaku tetapi tak urung akupun menjawab juga “Tuhan aku percaya kepadaMu, kalau bukan kepada Engkau, kepada siapa lagi aku harus percaya?” Lalu Tuhan melanjutkan “Kalau engkau sungguh percaya kepadaKu, mengapa hatimu begitu gelisah?” Akupun terdiam sebentar mendengar pertanyaan Tuhan sampai akhirnya akupun menjawab “Tuhan, Engkau mengenal aku melebihi aku mengenal diriku sendiri. Dan Engkau tahu kedalaman hatiku, sebelum lidahku mengucapkan sebuah kata, Engkau pasti sudah mengetahuiNya” Tuhan diam tidak menjawab.

Kemudian aku bertanya kepada Tuhan “Tuhan apakah Engkau mengijinkan seandainya aku tidak lagi melayani Engkau seperti sekarang ini?. Tetapi aku mau melayani Engkau dengan mendoakan orang orang yang membutuhkan doaku. Bukankah itu juga merupakan pelayanan kepadaMu?” Aku dengar Tuhan menjawab “AnakKu, Aku tidak pernah memaksa engkau untuk melakukan hal hal yang tidak engkau sukai. Tetapi jika engkau tidak mau melakukan kehendakKu, engkau akan keluar dari rencanaKu.

Memang terkadang sulit jalan yang harus engkau lalui. Dan engkau tidak akan pernah bisa mengerti. Karena jalanKu bukanlah jalanmu, dan rancanganKu bukanlah rancanganmu. Namun percayalah, Aku tahu rancangan apa yang ada padaKu mengenai dirimu”

“Tapi Tuhan, rasanya aku tidak mampu melakukan itu semua dan apa kata mereka nanti jika aku tidak berhasil” Aku mencoba bernegosiasi dengan Tuhan Dan Tuhanpun menjawab “AnakKu engkau memang tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan itu sendiri. Maka dari itu libatkanlah Aku selalu disetiap karyamu. Apakah engkau lupa, bukankah justru di dalam kelemahanmulah kuasaKu semakin sempurna ? Dan mengapa engkau kuatir memikirkan hasilnya ? Aku tidak membalas hasil kerja seseorang, melainkan Aku akan mengganjar kesukaran yang dipikul orang demi Aku” Aku terdiam mendengar jawaban Tuhan.

Namun keresahan didalam hatiku masih belum reda juga, begitu banyak ganjalan yang masih aku rasakan. Akupun mencoba bernegosiasi sekali lagi dengan Tuhan “Baiklah kalau begitu Tuhan aku mau melanjutkan melayani Engkau seperti sekarang ini, tetapi aku mohon berikanlah kepadaku orang orang yang dapat mendukung pelayananku kepadaMu”. Terbayang olehku satu persatu wajah orang-orang yang sering menjadi batu sandungan dalam langkahku sehari hari. Mereka termasuk orang-orang yang sangat sulit bagiku. Sering kali aku tidak berdaya menghadapi mereka. Dan itu sungguh terasa sangat menyakitkan buatku. Lalu aku mendengar Tuhan menjawab “Besi menajamkan besi dan sesamamulah yang dapat menajamkan engkau”

Lalu aku berkata lagi kepada Tuhan “Tuhan sering aku kesal kepada mereka dan terkadang sulit bagiku untuk mengampuni mereka” Dengan sabar Tuhan menjawab lagi “Kenapa engkau tidak mampu mengampuni orang yang telah menyakiti hatimu? Adakah manusia yang lebih disakiti hatinya dari pada hatiKu? Engkau merasa direndahkan. Adakah manusia yang lebih direndahkan lagi dari pada Aku? Engkau sedih sebab tidak ada seorangpun yang kau beri pernah merasa berterima kasih kepadamu. Adakah kesedihan manusia yang lebih besar dari kesedihanKu. Sebab tidak pernah atau jarang sekali Aku diberi terima kasih oleh orang orang yang telah Aku tolong”

Aku berusaha menjawab, namun tidak ada sedikitpun jawaban yang keluar. Sementara itu pandangan mataku mulai menjadi kabur, air mata mengalir jatuh di pipiku. Lalu aku mendengar Tuhan berkata lagi “AnakKu, Aku selalu mendengar dan menjawab semua doa doamu. Aku karunia engkau hidup, jangan sia-siakan hidupmu. Aku telah memberkati engkau dengan talenta talenta untuk melayani tetapi engkau senantiasa menghindar dariKu. Apakah benar engkau sungguh mencintai Aku?”

Aku tidak mampu menjawab dan akupun amat malu mendengar penjelasan Tuhan. Dengan air mata yang mengalir deras aku berkata “Ampuni aku Tuhan. Aku tidak pantas menjadi anakMu”  Namun Tuhan menjawab “Bukan engkau yang memilih Aku, melainkan Akulah yang telah memilih engkau menjadi anakKu”

Lalu aku bertanya lagi kepada Tuhan “Mengapa Engkau begitu mencintai aku Tuhan?” Dan Tuhanpun menjawab “ Karena engkau buatan tanganKu. Jika engkau menangis hatiKu sedih. Jika engkau senang Akupun tertawa. Jika engkau patah hati, Aku berada dekat kepadamu. Dan jika engkau jatuh tanganKu terulur untuk memelukmu. Seperti seorang gembala menggembalakan dombanya, Aku membawa engkau dekat ke hatiKu. Aku tidak akan pernah meninggalkan engkau dan akan menyertai engkau sampai akhir jaman.”

Belum pernah aku menangis sedemikian pilu. Bagaimana mungkin selama ini aku telah melukai hatiNya? Dengan segera pikiranku melayang pada hari hari yang telah aku lewati. Sering kali hanya karena kesulitan yang sepele dengan mudah aku mengingkariNya. Dan segera juga aku teringat akan kebiasaanku yang selalu mencari cari alasan untuk menghindari salib yang seharusnya menjadi bebanku. Walaupun sering jatuh bangun aku mengikuti langkahNya tetapi dengan sabar dan setia Dia tetap menungguku. Sedikitpun Dia tidak pernah mengungkit ungkit kesalahan yang telah aku lakukan. Dengan rasa ingin tahu akupun lalu bertanya lagi kepada Tuhan “Seberapa besarkah Engkau mencintai aku Tuhan?” Dengan lembut Tuhan menjawab “Pandanglah salib…, sebesar itulah cintaKu kepadamu” Masih dengan air mata yang mem-banjir akupun lalu bersimpuh di kaki Tuhan Yesus dan dengan segenap hati berdoa kepadaNya. 

Oleh : Theresia Margaretha


2 Responses to “Percakapanku Dengan Tuhan Di Suatu Pagi”


  1. 1 ros indah
    02/07/2010 at 12:29

    memang Tuhan sangat suka bicara pada kita dari hati ke hati,
    terkadang kata2-Nya membuat kita tersentak dan menangis, dan terkadang juga membuat kita sangat terhibur, bagi saya, manusia bisa hidup tanpa uang, tapi tak bisa hidup tanpa Tuhan..

  2. 2 ros indah
    02/07/2010 at 12:30

    Bagi yang membaca,
    Tuhan memberkati


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: