12
Sep
09

John Maheli : “Pohon yang Baik, Akan Menghasilkan Buah yang Baik”

Hal 9Didapuk menjadi ketua BGKP (Badan Gereja Katolik Pastoral) Paroki Hati Kudus Yesus, tak membuatnya kaget atau bingung. Maklum, John sudah terlanjur biasa berkegiatan di  Paroki ini. Segudang pengalaman dan niat pengabdian terhadap paroki-ditunjukkan dengan karya yang lebih bermutu. Tanggung jawab yang tidak ringanpun siap diembannya.

Tak sedikit orang yang mencela dengan pekerjaan barunya itu. Apalagi sejak dibentuk kepengurusan baru paroki, termasuk dibentuknya BGKP. John tetap menyiapkan mental dengan tetap berkarya untuk gereja. Kecurigaan dan perbincangan miring tentang tugas-tugas barunya ditanggapinya dengan hati dingin. “Kalau saya tidak pernah menyiapkan mental pasti saya akan cepat jatuh. Disinilah saya diuji untuk tetap berbuat sebaik mungkin.”

Saat Benedizione mengajak berbincang tentang tugasnya di paroki, John Maheli menuturkan berbagai program kerjanya ke depan. Ia mengaku banyak kemajuan yang cukup signifikan apalagi setelah dibentuknya BGKP. John berharap setelah BGKP terbentuk banyak kegiatan-kegiatan di paroki HKY menjadi lancar dan semakin maju. Dan image paroki besar, bisa terbangun dengan baik.

Saat ditanya tentang kerjanya di paroki yang banyak menyita waktu John menjawab dengan nada enteng bahwa semua itu sudah menjadi komitmennya bekerja di ladang Tuhan. Bahkan John juga siap dengan tanggapan miring yang pernah ia dengar sendiri tentang proyek gereja yang ditanganinya. Ia mengaku bahwa semua yang dikerjakan untuk gereja demi untuk perkembangan gereja itu sendiri. Tak pernah terbersit dalam benaknya untuk mencari keuntungan dalam proyek gereja. Bahkan dengan jujur John mengaku kalau dirinya berani berkorban uang dan waktu.

Kegigihan dan keuletannya selalu ditunjukkan dalam setiap ia mengemban tugas apa saja. “Baik di kantor maupun di gereja tugas apa saja selalu saya selesaikan dengan penuh tanggung jawab. Kalau bisa dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih,” tegasnya.

Suara Hati

Saat masih SMA di Kudus Jawa Tengah, John sudah berpikir dan bertekad membantu mengurangi beban orangtua. Anak kedua dari sepuluh bersaudara ini mengaku kasihan melihat orang tuanya yang menanggung biaya ke-10 anaknya. Ayahnya hanya seorang karyawan biasa. Maka John mengajak kakaknya kelak kalau  kuliah harus mencari biaya sendiri.

Tahun 1966 ia hijrah ke Surabaya. John di terima di Universitas Katolik Widya Mandala dan di Universitas Airlangga. Di dua kampus yang berbeda itu ia mengambil pada jurusan yang sama, yakni ekonomi. Alasannya sederhana, ia seorang petualang. Semangatnya luar biasa. Kuliah di dua tempat yang banyak menyita waktu itu John harus pintar mengatur waktu. Pagi hingga sore harus kuliah. Sementara sisa waktunya dibagi untuk berkegiatan kampus dan mencari “obyekan” untuk menambah uang saku.

Semangatnya begitu menggelora menjadi petualang di tempat rantauan. Tekadnya untuk berdikari yang tertanam semenjak SMA masih terpaku di benaknya. Hal itu pula yang membangkitkan gairah hidupnya.

Saat jam kuliah kosong, John bergegas memutar otak untuk mencari sesuatu yang menurutnya bisa untuk mencari uang. Akhirnya ia menemukan cara mencari uang tambahan. Ia berjualan amplop yang lagi trend untuk para remaja jaman itu. Tanpa rasa malu dan gengsi ia menggelar dagangannya di halaman SMAK Santa Maria. Hasilnya betul-betul bisa dirasakan untuk menyambung hidup.

Beban menjadi anak kost di rantauan terus menggurita. Setiap kesulitan yang ditemuinya selalu menjadi inspirasi untuk segera bangkit. Pernah suatu kali ia pulang dari kampus harus berjalan kaki. Karena tempat kost yang jauh dari kampus ia menerobos jalan alternatif untuk mempersingkat waktu. Karena berjalan jauh ia kecapekan dan haus tak tertahankan. Uang saku tak punya sama sekali. John menghentikan jalannya dan duduk di salah satu emperan toko untuk beristirahat. John melamun. Dalam lamunan itu tiba-tiba dalam benaknya ada semacam suara hati yang menyapanya. “Saya punya harta yang tak ternilai, yaitu nama saya,” tutur John Maheli menirukan suara hati yang dimaksud.

Setelah sampai dirumah kost, John pun masih terngiang dengan suara hati itu. Sorenya John pergi ke gereja Katedral untuk menemui romo kampusnya, yakni romo Sastropranto, CM. Ia menceritakan kejadian yang menurutnya sangat menarik. Kepada romo Sastro, John menanyakan apa arti suara hati itu. “Suara hati itu ya bisikan Tuhan,” terang romo menjelaskan. “John kamu punya kitab suci?”. “Punya, tapi tidak pernah saya baca” jawab John singkat. “Coba kamu buka Matius 7;17”, perintah romo kepada John. Akhirnya John pulang dan langsung mencari ayat yang dimaksud. Sejak itu John merasa terbakar semangat hidupnya. Setiap melakukan kegiatan apa saja ia selalu berpatokan dengan ayat tersebut. Tak mengherankan kalau hingga kinipun ia masih memakai ayat itu sebagai motto hidupnya. (*) Oleh : Aloysius Surya


0 Responses to “John Maheli : “Pohon yang Baik, Akan Menghasilkan Buah yang Baik””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: