11
Sep
09

Uskup Sutikno : “Buah Iman Kita Harus Berarti Bagi Masyarakat”

Hal 39Ada yang istimewa di awal tahun ini. Pada Minggu (18/1/09) besok, Keuskupan Surabaya akan melantik

Dewan Pastoral Keuskupan (DPK). Apa dan bagaimana  DPK bekerja, menjadi topik wawancara istimewa

Benedizione bersama Bapak Uskup Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Termasuk juga obrolan tentang kegelisahan Uskup.

T: Apa tugas Dewan Pastoral Keuskupan (DPK)?

J: DPK adalah perangkat kerja pastoral yang turut menentukan visi dan misi Keuskupan Surabaya. Badan ini bertugas untuk membantu Uskup dalam menata strategi karya pastoral sehingga dapat ditentukan prioritas-prioritas karya yang harus dilakukan. DPK juga merupakan badan konsultatif atau penasehat.

T: Terdiri dari siapakah DPK tersebut?

J: Keuskupan Surabaya memiliki banyak kelompok kategorial yang dilimpahi banyak karunia yang berhubungan dengan pendalaman iman, pembentukan iman, devosi, tugas pelayanan masyarakat, peribadatan, dan juga hidup doa. Semuanya itu bersumber dari panca tugas gereja yakni koinonia (persekutuan), liturgia (peribadatan), diakonia (pelayanan), martiria (kesaksian), dan kerigma (pewartaan). DPK Surabaya terdiri dari para imam dan awam dari berbagai perwakilan kelompok kategorial tersebut.

T: Apa sumbangsih DPK terhadap Keuskupan?

J: DPK akan bertemu untuk berbicara, mempelajari, ciri-ciri yang menjadi kekhasan Keuskupan Surabaya dan hal-hal yang menjadi kebutuhan umat. Misalnya bagaimana keluarga-keluarga bisa menjadi perhatian utama, bagaimana persoalan katekese, persoalan kepemudaan, dan lain-lain. Sehingga dapat mengantar umat untuk menemukan panggilan dan perutusan Tuhan karena menjadi orang Katolik tidak cukup hanya hidup dari sakramental saja. Sebagai pijakan bersama, Keuskupan akan menerapkan pola pastoral berbasis persekutuan yang berarti bagaimana sebagai orang beriman kita mampu berbuat bagi sesama. Buah iman kita harus berarti bagi masyarakat luas.

T: Apa yang menjadi kegelisahan terbesar dari Bapak Uskup terhadap Keuskupan Surabaya?

J: Ada banyak. Uskup dan DPK akan bertemu untuk mempelajari bersama hal apa yang akan menjadi prioritas. Saat ini, keprihatinan terbesar adalah soal keluarga dan pendidikan. Itu sebabnya tahun lalu dicanangkan sebagai Tahun Pendidikan. Sekolah Katolik yang dulu menjadi sarana pewartaan iman dan mencerdaskan kehidupan bangsa saat ini kehilangan pamor dan daya tarik serta ikut arus dalam komersialisasi pendidikan. Keluarga harus menjadi perhatian utama karena merupakan persekutuan terkecil tempat pendidikan berlangsung.

Hal 40T: Terkait dengan tema majalah “Menuju Paroki yang Inklusif”, menurut Bapa Uskup, seperti apakah paroki yang inklusif tersebut?

J: Paroki HKY anggotanya kebanyakan berasal dari keluarga-keluarga yang lama, yang perlu didata kembali. Saat ini, jumlah umat yang ke gereja cukup besar. Akan tetapi, kebanyakan umat itu berasal dari paroki lain. Mereka datang ke Paroki HKY karena letaknya strategis (trans paroki). Hal ini berarti sudah tidak bisa ditentukan lagi bahwa Paroki HKY terdiri dari orang-orang yang tinggal di paroki. Menuju paroki yang inklusif berarti terbuka bagi anggota paroki lain yang datang, terutama dalam melakukan pelayanan ketika misa Sabtu dan Minggu.       

Dilihat dari kegiatannya, Paroki HKY merupakan tempat pertemuan orang-orang Katolik untuk mengembangkan karunia mereka. Menjadi paroki yang inklusif juga berarti terbuka bagi kemungkinan untuk menjadi pemersatu umat yang ingin berpartisipasi dalam pengembangan hidup iman.

T: Sebagai gereja Katedral, apakah Bapa Uskup memiliki rencana terhadap Paroki HKY?

J: Tidak ada rencana terhadap Paroki HKY. Semuanya dipercayakan kepada Dewan Pastoral Paroki HKY untuk menentukan kemana arah geraknya. 

T: Apa harapan dan pesan Bapa Uskup terhadap majalah Benedizione sebagai sebuah media paroki yang baru dimunculkan kembali setelah ±10 tahun tidak muncul?

J: Saya harap majalah ini menjadi media yang  informatif, komunikatif, sekaligus menjadi sarana transformatif yang mampu mengubah, membentuk, dan mendorong kita untuk bergerak bersama menjadi warga paroki yang aktif, yang merasa at home (kerasan), menemukan iman, dan mantap dalam hidup beriman. (*) Oleh : CH. Reza Kartika

 


0 Responses to “Uskup Sutikno : “Buah Iman Kita Harus Berarti Bagi Masyarakat””



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: